My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Ngereog Ala Dewa


__ADS_3

Seminggu usai anak New York datang ke Jakarta dan mereka semua dengar Bayu memberikan hukuman yang tidak masuk akal ke duo Bocil kematian, akhirnya Dewa memberanikan diri menghadap Bagas dan Safira secara serius. ( Hukuman duo Bocil kematian bisa dibaca di My 100th Secretary ).


Dewa bersimpuh drama di depan Bagas dan Safira yang sedang duduk menonton acara televisi. Sikap putra tunggal mereka yang rada-rada Absurd bin random bin Membagongkan, membuat pasangan suami istri itu menatap Dewa dengan bingung.


"Kamu kenapa Wa? Ajaran kalau mau bertapa di Kuil Tibet? Seberapa lama bakalan semutan?" tanya Bagas bingung.


"Atau kamu mau ke keraton Jogja melamar jadi abdi dalem?" timpal Safira membuat Dewa cemberut.


"Iissshhh malah abdi dalem. Gini lho bokap, nyokap..."


"Yang sopan Wa..." tegur Safira.


"Kulo badhe melamar Jeng Alina ..." jawab Dewa.


Bagas dan Safira melongo. "Heeeehhh?" seru pasangan suami istri itu. "Apa-apaan Wa ! Serius kamu?" tanya Safira.


"Lamarin... Lamarin ... " rengek Dewa ngereog macam Aizen membuat Safira harus melempar bantal ke wajah Dewa.


"Woi cumiii, elu itu mau melamar anak orang. Yang benar aja ngereog macam Aizen nggak dikasih beli es krim !" hardik Bagas gemas dengan putranya.


"Lha ini serius, ayahanda... " balas Dewa judes.


Bagas memegang pelipisnya. "Kamu deh yang urus ! Aku pusing !"


"Tunggu bentar Dewananda Kim Pratomo Hadiyanto. Dengar, namanya acara lamaran itu butuh persiapan... Nggak main slonong Boim langsung bilang sama pak Daud. 'Eyang, dalem badhe melamar Jeng Alina. Angsal mboten' ... Nggak gitu konsepnya Panjul !" omel Safira.


"Eh tapi gitu ya oke lho Ma. Singkat padat jelas simpel maksud langsung tersampaikan" cengir Dewa. "Addduuuhhh duh duh... Semutan... Semutan..." Pria ganteng itu pun berdiri pelan dan duduk di sofa berseberangan dengan kedua orangtuanya. Tangannya memijat kakinya yang semutan.


"Dengar Dewa anaknya pak Bagas dan Bu Safira. Kamu kalau mau melamar Alina itu harus persiapan apalagi kita wong Jowo. Ono unggah ungguh nya. Kamu bawa seserahan dan siapin cincin buat Alina sekaligus kita hitung hari baik untuk menikah. Bukan apa-apa, ini generasi kamu sudah macam antrian sembako yang mau nikah. Bentar lagi Bayu angin Lisus, lalu Nadya sama Omar. Habis itu mbuh sopo maning ( entah siapa lagi )..." omel Safira.


"Jadi kita acara lamaran pakai bawa pasukan sirkus Kesana? Ya ampun Ma, macam tidak tahu keluarga kita bagaimana..." keluh Dewa.


"Lha kamu maunya gimana?"


"Maunya, kita-kita saja. Sama Ragil. Biar dia macam cacing kepanasan... Siapa suruh betah menjomblo..." cengir Dewa.


Bagas menggelengkan kepalanya. "Dah, Fira, kamu urus sama Dewa. Aku kan nggak mudeng ( paham ) soal beginian..."


***

__ADS_1


Hari Minggu Di Sebuah Pusat Perbelanjaan di Jakarta Pusat


"Alina sukanya apa?" tanya Safira sambil masuk ke dalam butik Victoria's Secret.


"Haaaaahhh? Mana aku tahu Ma..." ucap Dewa. "Cek dan ricek aja belum... Addduuuhhh !" Safira mengeplak kepala putranya gemas.


"Berani kamu cek dan ricek Alina sebelum nikah, Mama potong habis !" bentak Safira judes membuat Dewa manyun sambll mengusap kepalanya.


"Mama keplak aku pakai apa sih?" sungut Dewa kesal.


"Nih cincin batu akik !" balas Safira sambil memperlihatkan cincin nikahnya dengan berlian besar disana. Saat Bagas dan Safira memperingati pernikahan perak mereka, Bagas memberikan cincin nikah yang baru sebagai hadiah anniversary.


"Ya wassalam kalau pakai cincin akik mehong begono!" balas Dewa judes ke mamanya. "Sudah terserah mama deh buat acara hantaran apa aja."


"Pokoknya hari ini kita harus dapat semuanya. Alat sholat, baju, alat mandi, sepatu, tas, make up ..." Safira melihat daftarnya. "Ayo ke sini dulu baru ke tempat lain."


***


Ragil merasa bingung karena di hari Minggu, dia diharuskan datang ke mall dengan ojek online. Pria tampan itu pun segera menghampiri butik Bottega Veneta dimana Safira dan Dewa berada. Ragil bisa melihat Dewa duduk manis sambil manyun dengan bag brand di kakinya dengan jumlah banyak.


"Pak Dewa mau buka toko online?" tanya Ragil sambil menghampiri Bossnya.


"Lha ini buat siapa pak?" Ragil melihat adanya sepatu Christian Louboutin dan Burberry. Belum brand - brand lainnya.


"Buat acara lamaran ..." jawab Dewa.


Ragil tertegun. "Yakin bapak mau melamar nona Alina? Sudah fix? Sudah ikhlas lilahi taala kalau bapak sold out?"


Dewa menatap Ragil judes. "Lama-lama gue lakban lambe you !"


Ragil cekikikan. "Alhamdulillah... Jadi kalau pak Dewa mulai ngereog, saya bisa wadhul ( ngadu ) ke nona Alina..."


"Dasar tukang wadhul ! Emang Kowe pancen curut !" Dewa memiting leher sekretaris plus asistennya membuat Safira yang masih sibuk memilih tas untuk Alina menoleh.


Langsung saja dokter cantik itu menjewer dua pria tampan yang ribut macam anak SMA. "Ya ampun kalian itu !" hardik Safira gemas membuat para service assistant di butik itu tertawa geli melihat keluarga Sultan yang sering lupa statusnya.


"Duh Bu Safira, serius banget jewer kupingnya..." ucap Ragil sambil mengusap telinganya yang memerah.


"Kalian berdua itu ! Macam anak SMA saja ! Dah duduk anteng ! Nanti aku belikan gelato !" bentak Safira.

__ADS_1


"Lha Mama bikin kita macam anak SD..." suara Dewa langsung menghilang ketika Safira memberikan bombastic side eye ke putranya. "Duh... Galake mamaku sing ayu dhewe se planet bumi..."


***


Di sebuah cafe yang terkenal dengan ice cream dan gelatonya


"Rencana kapan Bu buat melamar nona Alina?" tanya Ragil yang tahu dirinya dipanggil sebagai tenaga tambahan membawakan banyaknya belanjaan Safira.


"Tahu tuh ! Ini nih boss kamu macam Mandra minta kawin Pakai acara bersimpuh pulak!" sungut Safira ke arah Dewa yang asyik uprek-uprek hidung. "Dih Dewa ! Jorok amat sih Paijo satu ini!"


"Gatal Ma. Katanya ngupil itu bagaikan mendapatkan ******* apalagi kalau upil nya Gedhe ... " sahut Dewa cuek.


"Astaghfirullah Al Adzim ! Gini kok ya mantannya banyak !" gumam Safira. "Wa, Mama nggak pernah ngajarin kamu jorok di tempat umum !"


"Lha kita di pojokan, tempatnya nyempil. Yang lihat palingan Mama dan Orgil doang..." balas Dewa cuek.


"Mas Dewa?"


Ketiga orang itu menoleh dan melihat seorang gadis cantik dengan dandanan yang serba wah berdiri di dekat sekat tempat mereka duduk.


"Siapa ya?" tanya Dewa berlagak polos.


"Ih mas Dewa... Aku Tamara Hamid, teman dekatnya mas Pramudya." Gadis itu mengulurkan tangan ke Safira. "Tante pasti mamanya mas Dewa ya. Salam kenal."


Safira menerima uluran tangan Tamara lalu menoleh ke arah Dewa. "Ini biang keroknya?"


"Biang kerok apa Tante?" tanya Tamara bingung.


"Biang kerok yang memberikan obat perang*sang ke Pramudya" jawab Safira dingin.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2