My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Restu Boemi...Eh Daud


__ADS_3

Kediaman Eyang Daud Grogol Petamburan Jakarta


"Akhirnya datang juga nduk... Lama lho kamu nggak kesini, cuma telepon saja" sapa Eyang Daud saat Alina datang bersama Dewa. "Lho kok sama nak Dewa? Kalian pacaran? Kalau iya, Alhamdulillah..."


"Belum Eyang... Alina masih macam keponakan aku yang di Belgia. Bilangnya pikil-pikil dulu..." jawab Dewa sambil salim ke Daud.


"Hah? Keponakan di Belgia?" tanya Daud bingung.


"Lha Eyang nggak tahu? Ratu Belgia itu sepupu ku. Mbak Zee itu kakak sepupu aku..."


"Haaaaahhh? Iyakah mas Dewa? Aku tahu ratu Belgia orang Indonesia tapi macam blasteran begitu" celetuk Parjo.


"Memang kami ada darah blasteran kok" jawab Dewa.


"Mbakyumu ayu tenan, kok Ngger... " senyum Daud. "Keponakan kamu namanya siapa?"


"Yang mbarep ( sulung ) namanya Arsyanendra, panggilannya Arsya terus adiknya kembar namanya Avaro dan Alisha. Arsya itu lagi kacau Eyang... Salah doktrin dari kecil sama Oomnya yang di Tokyo."


"Lha piye ( gimana )?"


"Sepupuku yang namanya Shinichi itu bilang sama Arsya, kalau mandi itu cukup sekali sehari yang penting wangi dan ganti daleman dua kali. Ngirit air..."


Ketiga orang disana tertawa mendengar ucapan Dewa.


"Ya ampun pak Dewa, pangeran kok diajari begitu?" gelak Alina.


"Serius itu ! Bang Sean, raja Belgia, sampai melarang Shinichi masuk kesana. Blacklist ! Gara-gara Arsya jadi bikin berantakan protokoler istana. Ajarannya nggak ada yang beres !" jawab Dewa.


"Oh ya ampun... Tak arani ( aku kira ) keluarga Sultan itu bakalan tertib dan kaku ..." kekeh Eyang Daud.


"Kita keluarga Sultan yang bobrok eyang. Bobrok dalam arti kacaunya masih wajar tapi kami juga punya prinsip. Nistain itu cukup ke anggota keluarga tapi jangan ke orang lain apalagi kaum duafa. Harus humble dan tahu manner dengan siapa kamu berhadapan... Jangan pernah melawan ibumu, jangan pernah bersikap serakah sama saudara sendiri supaya tidak terjadi perang Baratayudha... Itu prinsip yang diturunkan dari jaman eyang buyut saya generasi pertama Pratomo. Eyang Arga Pratomo, kepala suku nya punya anak empat, eyang Adrian, Adriana, Aryanto dan Adinda. Nah dari kwartet A itulah lahir para dedengkot klan Pratomo yang jadi beranak Pinak termasuk saya yang paling ganteng di generasi keenam..." jawab Dewa dengan gaya narsis membuat Alina melengos.


"Njelehi..." ujar Alina.


"Lho tapi tenan ( benar ) tho aku ganteng, ora ( tidak ) mungkin ayu, mengko diarani wadon jadi-jadian ( nanti dikira cewek jadi-jadian )" jawab Dewa kalem. Daud dan Parjo tertawa terbahak-bahak sedangkan Alina menatap judes.


"Owalaahhh Ngger. Kowe kiee lho Jian somplak tenan..." gelak eyang Daud. "Sek, Kowe ora tau mrene, Ning endi ( tunggu, kamu tidak pernah kemari, kemana )?"


"Lha eyang itu gimana. Saya nari India lah!"

__ADS_1


"Haaaaahhh?" seru Daud dan Parjo.


"Begini, sepupu saya yang lain namanya Gemintang, menikah di Brussels Belgia sama Raj Rao, yang orang India. Dan mereka menikah dengan adat India Islam... Ini foto-fotonya." Dewa mengambil iPad dari dalam tasnya dan memperlihatkan kepada Daud, Alina dan Parjo.


"Wuuuiiiihhhh ganteng ya suaminya mbak Gemintang. Macam aktor" puji Parjo.


"Dia dokter bedah, macam mama saya ... Hanya bedanya dia nggak sesadis mamaku..." celetuk Dewa.


"Wah benar-benar kamu itu keluarga gado-gado ya Ngger..." senyum Daud setelah melihat foto pernikahan Gemintang dan Raj termasuk video saat generasi ke enam nari lagu India.


"Kacau kok keluarga aku. Kapan-kapan Jeng Alina aku kenalkan ke sepupu ku yang di Jakarta selain Valentino..."


"Jeng?" seru Eyang Daud dan Parjo.


Alina menepuk jidatnya sedangkan Dewa menutup mulutnya. "Duh, keceplosan..."


Eyang Daud tertawa geli. "Al, eyang setuju kalau kamu sama Nak Dewa. Eyang tidak melihat sugihe ( kayanya ), Kuwi ( itu ) bonus. Tapi yang eyang lihat, bagaimana dia memanggil kamu begitu santun dan bukan bocah sing kemaki ( yang sombong )."


"Eyang merestui saya sama Jeng Alina?" seru Dewa dengan wajah bahagia. "Matur nuwun eyang .. Matur nuwun !" seru pria itu sambil mencium tangan Eyang Daud berulangkali.


"Astaghfirullah ... Kowe kiiee malah heboh ngene ( kamu tuh malah heboh begini )" kekeh Eyang Daud.


Alina menggelengkan kepalanya.


"Ngger, bisa eyang bicara dengan Alina berdua dulu?" Eyang Daud menatap Dewa serius.


"Oh saget ( bisa ) Eyang. Pak Parjo, aku mau tanya. Itu tanaman yang pak Parjo kasih yang macam tumo anjing, kok diruwat mamaku tewas dengan gemilang... Salahe Ning endi ( dimana ) ya ?" tanya Dewa sambil mengajak Parjo ke kebun samping.


"Tumo Anjing ( kutu anjing )?" tanya Eyang Daud ke Alina.


"Itu lho Eyang, string of Nickels... Yang eyang bilang benik ( kancing ) berderet..." jawab Alina.


Eyang Daud menepuk jidatnya. "Astaghfirullah... Kok ya diarani ( di bilang ) tumo anjing kiiee lho..."


***


"Kenapa kamu nggak datang dua Minggu kemari, Lina? Ada apa? Cerita sama Eyang..." ucap Eyang Daud sambil menatap cucunya.


"Eyang, janji ya jangan marah..." Alina menatap takut-takut ke Eyangnya.

__ADS_1


"Ono opo nduk?" tanya Eyang Daud.


Alina menceritakan kejadian dua Minggu lalu soal Gatot, bagaimana Dewa menyelesaikan semuanya dan pertemuannya dengan Bagas dan Safira bahkan Safira menawarkan untuk lapor polisi.


Eyang Daud hanya manggut-manggut. "Lina, dengar ya nduk... Dari situ kamu bisa lihat kan bagaimana keluarga mereka? Jika mereka sudah suka sama seseorang yang dianggap baik, mereka akan lebih baik sama kamu. Dewa anaknya baik terlepas masa lalunya mungkin kacau tapi eyang lihat, dia sudah banyak berubah. Eyang yakin, baru ini dirinya manggil seorang gadis dengan 'Jeng' di depan namanya. Tidak mudah seorang pria apalagi didikan Jawa memanggil dengan panggilan sayang seperti itu. Jaman sekarang kan paling Yang, atau babe..."


"Alina takut Eyang..."


"Takut apa?"


"Kalau suatu saat pak Dewa berubah..."


"Alina sayang, insyaallah Dewa tidak seperti itu. Baginya memiliki kamu sebagai kekasihnya, adalah salah satu berkah dari Allah SWT yang tahu bahwa ini anak serius taubatnya. Kamu tidak melihat bagaimana ekspresi Dewa yang sangat bahagia mendengar Eyang kasih restu. Justru dari kejadian Gatot, kamu bisa melihat mana yang tulus mana yang hanya selingan. Kalau benar yang kamu bilang Gatot sudah punya pacar tapi masih ngejar kamu, itu sudah red flag, Lina. Wong masih pacaran sudah berani selingkuh, bagaimana rumah tangganya kelak ?"


Alina tertegun.


"Lagipula, eyang yakin, Dewa tidak akan macam-macam sama kamu..."


"Kenapa eyang?"


"Karena bisa jadi dirinya bakalan dipotong anunya sama mamanya sendiri..." cengir Eyang Daud membuat Alina terbahak.


"Tante Safira memang galak sama Pak Dewa. Kalau sudah jewer, beneran lho eyang..." kekeh Alina.


Eyang Daud melongo. "Tenan dijewer ( Beneran dijewer )?"


Alina mengangguk.


"Wis ... Wis..."


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2