
Kediaman keluarga Hadiyanto
"Jadi kamu datang ke acara yang diadakan oleh salah satu teman kamu dan ada Tamara disana? Dan kamu dijebak dengan dikasih minuman dan secara klasik, dia mau membuat kamu tidur bersamanya?" rangkai Bagas.
"Dan Genta berhasil membebaskan kamu..." sambung Safira. "Bagaimana kamu bisa tahu Genta?"
"Aku ancam si Juned. Jadi Tamara minta kamar di klub itu via Juned karena pemilik klub masih ada hubungan saudara sama dia. Begitu tahu Pram hilang, aku langsung cecar Juned dan aku lihat cewek gatal itu sudah buka pakaian tinggal br@ dan panties saja sedangkan Pram berada di tempat tidur masih berpakaian lengkap. Langsung aku tarik Pram keluar kamar dan aku bawa kemari" jawab Genta.
"Pram, elu kudu ati-ati sama tuh cewek ! Saran gue, jauhi Juned dan cewek itu. Secara, Juned memblasukkan ( menjerumuskan ) elu !" timpal Dewa.
Pramudya mengangguk.
***
Seminggu usai kejadian Pramudya, Dewa tidak bertemu dengan Alina gara-gara dirinya dikirim Bagas memeriksa bank - bank mereka yang ada di Sumatera. Alina sendiri sudah tahu jika Dewa harus pergi jadi dirinya tidak mempermasalahkan mereka tidak bisa bertemu.
Hari Sabtu ini Alina berada di kamar kostnya dan karena libur, dia sibuk mengurus toko onlinenya sampai Dewa melakukan panggilan video.
"Maaauuu???" pamer Dewa sambil makan durian.
"Dimana mas?" tanya Alina saat mereka bervideo call.
"Palembang. Aku dikirimi durian tembaga dadlri kabupaten Empat Lawang. Ini mirip durian palu, bijinya kecil tapi dagingnya... Tebal dan enak. Duriannya kecil Jeng tapi nyam nyam ..."
"Sayang ya Durian dilarang bawa masuk ke pesawat..." senyum Alina yang sudah ngiler bagaimana Dewa tampak enak makan durian bewarna kuning emas itu. "Enak ya mas?"
"Wuuuiiiihhhh enak banget ! Tar aku pesankan deh biar bisa di packing masuk pesawat" jawab Dewa.
"Tapi mas... Bisa dikomplain orang banyak..."
"Yang komplain paling nyokap. Kan nyokap nggak doyan durian... Kalau bokap sama aku mah maniak..." kekeh Dewa.
"Hah ? Gimana?" Alina bingung dengan ucapan Dewa.
"Aku itu pakai pesawat keluarga Hadiyanto. Jadi don't worry bawa durian dari Palembang ke Jakarta. Tar aku bawakan sekalian buat oleh-oleh Eyang Daud dan Pak Parjo."
Alina ber'oh' ria. "Jangan banyak-banyak mas Dewa. Eyang tidak boleh kebanyakan makan durian."
"Oke. Sekedar ngicipin saja biar bisa ngerasain."
***
__ADS_1
Hari Minggu pagi, seperti biasa Alina datang ke rumah eyangnya sambil membawakan cake kesukaan Daud. Kedatangan Alina sendirian, membuat pria paruh baya itu menata bingung ke arah cucunya.
"Lho, Dewa kemana Lina...? Biasanya berdua kemari..." tanya Eyang Daud.
"Mas Dewa keliling Sumatra disuruh Oom Bagas memeriksa bank mereka. Katanya sih hari ini pulang" jawab Alina. Semenjak mereka pacaran, nama Dewa jadi DPO ( daftar pencarian orang ) oleh Daud dan Parjo kalau tidak datang ke Grogol.
"Owalaahhh, ya Wis. Kirain kalian lagi ribut..." gumam Daud.
"Ish amit-amit eyang, mas Dewa sama Lina baik-baik saja kok hubungannya" jawab Alina sambil manyun.
"Alhamdulillah kalau kalian tidak ribut..."
"Kan eyang tahu mas Dewa itu pekerjaannya padat merayap..." senyum Alina.
"Kadang aku lali ( lupa ), Lina kalau Dewa itu anak sultan... Dunianya berbeda..." kekeh Daud.
***
Menjelang pukul satu siang, Daud dan Parjo kedatangan Dewa yang datang dengan membawa oleh-oleh sambil tersenyum.
"Assalamualaikum..." sapa Dewa saat masuk ke dalam halaman rumah Daud.
"Bawa durian Palembang dan makanan khas Sumatera lainnya tapi kata Jeng Alina, eyang tidak boleh banyak-banyak makan duriannya" senyum Dewa sambil Salim ke Daud.
"Durian?" seru Parjo. "Wuuuiiiihhhh, durian Palembang enak mas Dewa. Disini harganya bisa aduhai !"
"Kalau aku mah dapatnya gratisan.. Hahahaha" tawa Dewa dengan gaya jumawa.
"Kok bisa?" tanya Alina.
"Kepala cabang bank Arta Jaya Palembang itu keluarganya punya kebun duriannya Jeng. Jadi aku dapat gratisan lah" seringai Dewa.
"Sini mas, saya tatanya..." tawar Parjo. "Lho sudah di kotak-kotak tho?"
"Ya sudah lah. Repot banget bawa gelondongan... " kekeh Dewa. Siang itu mereka semua menikmati durian di teras. Dan sesuai aturan Alina, Daud hanya boleh makan sedikit.
"Setidaknya aku sudah ngicipin... "senyum Daud.
***
Usai makan malam, Dewa pun pulang dan mengantarkan Alina ke kost-kostan nya.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaan mas Dewa?" tanya Alina.
"Ya biasa lah."
"Oh mas Dewa malam Minggu kemarin tumben istirahat ke rumah ... Ada apa?" tanya Alina lagi karena saat itu Dewa mengirimkan pesan pengen hibernasi tanpa bercerita ada apa.
Dewa menoleh ke arah Alina. "Kamu jealous Jeng?"
"Lho nggak gitu. Aku takutnya mas Dewa sakit ... Itu aja."
"Aku memang teler Jeng. Harusnya kan Minggu aku ke kost kamu buat anter ke eyang Daud..."
"Karena Sabtu mas Dewa ada acara golf kan?"
"Hu um" jawab Dewa sambil konsentrasi menyetir. "Nah, malam Minggu itu si Pramudya, sepupuku datang dalam kondisi mabuk kena obat perang*sang. Dia dibawa sama Genta, asisten sekaligus sahabat nya dan aku bersama bokap nyokap harus mendetox anak itu sampai benar-benar hilang efeknya. Ampun deh, semalaman aku berusaha membuat Pramudya bener lagi ... Makanya aku bilang sama kamu kalau aku butuh hibernasi..."
"Astaghfirullah... Kok tega kasih Pramudya obat seperti itu?" Alina selalu mengira hal-hal semacam itu hanya ada di novel atau drama Korea atau drama lainnya.
"Ya buat jebak Pram. Kamu tahu kan keluarga kami siapa. Banyak yang mengincar kami dan ingin menjadi menantu keluarga Hadiyanto maupun keluarga besar klan Pratomo. Tapi kan kami semua rata-rata mendapatkan jodoh yang benar-benar mencintai kami sebagai pribadi kami sendiri, menerima kekacauan keluarga kami dan bisa menjadi bagian kekacauan itu, bukan orang-orang yang oportunis..." papar Dewa. "Macam kamu Jeng."
"Macam aku?" tanya Alina bingung.
"Yup. Coba, kamu sama aku, sudah official pacaran... Apa pernah kamu minta sesuatu sama aku? Barang branded misalnya... Rasanya kamu tidak pernah minta apapun sama aku..." Dewa menoleh ke arah Alina.
Alina tersenyum. "Aku sudah senang dengan hidupku mas. Eyang sehat, pak Parjo sehat, punya pacar Membagongkan macam mas Dewa... Aku bersyukur akan hal itu. Aku hanya minta mas Dewa tetap Istiqomah dalam melakukan taubat. Jangan terjerumus ke lembah yang sama, yang penuh dosa... Agar mas Dewa pantas menjadi imam Alina..."
Dewa melongo hingga tidak sadar mobilnya Meleng.
BRAK !
Mobil merah kesayangan Dewa akhirnya menabrak trotoar jalan..
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1