My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Terimakasih Sudah Mau Jujur


__ADS_3

Rumah Daud di Grogol Petamburan Jakarta


Dewa akhirnya mengikuti acara ibadah Maghrib berjamaah di rumah Daud sebelum pulang ke rumahnya. Daud pun memberi kan test menunjuk dirinya menjadi imam. Dan di sana, Alina bisa mendengar bagaimana indahnya Dewa melantunkan Al Fatihah dan surat-surat pendek saat menjadi imam.


Alina bisa tahu meskipun Dewa slengean dan seenaknya sendiri, tapi keluarga nya tetap memberikan pendidikan agama yang baik. Dia hanya salah pergaulan dan salah jalan sebelumnya. Diam-diam Alina tersenyum tipis, bersyukur Dewa kembali ke jalannya meskipun doa yang diucapkan terdengar absurd. Mungkin memang itu jalannya Allah memberikan petunjuk agar pak Dewa kembali lurus.


Usai sholat, Alina masih duduk untuk berdoa seperti biasanya sedangkan Parjo sudah mendorong kursi roda Daud yang sholat menggunakan itu, menuju meja kerja karena pria paruh baya itu pasti membaca Al Qur'an setiap usai ibadah sholat lima waktu.


Alina mendoakan kedua orangtuanya, eyangnya dan semua orang yang dia sayangi termasuk mendoakan Dewa agar tetap Istiqomah. Alina memang belum mengiyakan pertanyaan Dewa tapi harusnya Dewa paham bahwa Alina sudah menerima dirinya.


Alina menyelesaikan doanya dan terkejut melihat Dewa duduk di depannya. "Astaghfirullah, pak Dewa... Kaget saya."


Dewa tersenyum. "Assalamualaikum calon makmum ..."


Alina melongo. "Pak Dewa... "


"Yeeee, Jeng Alina... Salam itu harus dijawab dong..."


Wajah Alina memerah. "Wa'alaikum salam Pak Dewa..."


"Lha kok Pak... Disesuaikan dong dengan yang tadi aku sapa..."


Pipi Alina semakin memerah dan baginya ini cara menembak yang lebih appropriate dibandingkan nyanyi lagu J.A.P walaupun unik juga. "Wa'alaikum salam... Calon imam..." jawab Alina pelan.


"Jeng Alina tambah ayu lho kalau pakai mukena... Tapi aku tidak akan memaksa kamu harus menutup dengan hijab karena mamaku sendiri juga tidak berhijab... Yang penting, adalah tahu adab dan manner..." senyum Dewa.


"I...iya pak Dewa..." Alina tampak bingung melihat Dewa manyun.


"Kok pak... Mas dong ! Kan kita udah resmi pacaran di mushola ini..."


Alina menghela nafas panjang. Dan kembali ke Pak Dewa Hadiyanto yang Absurd.


"Baik... Mas..." jawab Alina akhirnya.

__ADS_1


"Nah gitu dong... Ucapin lagi. Kok aku rasanya gimana gitu, ada debaran jantung yang aduhai ... Dipanggil 'mas' sama Diajeng Alina itu sesuatu..." Mata coklat Dewa berkedip-kedip genit.


"Astaghfirullah Mas Dewa !" sungut Alina sebal sambil melepaskan mukenanya.


Dewa tertawa senang. "Duh, alamat aku bakalan tidur sambil senyum-senyum macam ketularan Orgil..."


***


Dewa meminta agar Alina tidak memasak makan malam karena sebelum Maghrib, sudah memesan makanan dari restauran Jawa favoritnya. Malam ini mereka semua makan malam dengan menu masakan Jawa. Ada ayam goreng Kalasan, berbagai macam sambal, lalapan, sayur asem, sayur daun pakis dan daun kembang pepaya.


"Banyak banget sayurnya, Ngger" ucap Eyang Daud.


"Habis saya bingung pesan apa sayurnya jadi saya pesan yang saya suka saja. Kalau nggak cocok, mau diganti yang lain?" tanya Dewa merasa tidak enak.


"Nggak usah mas Dewa. Ini sayur juga kesukaan Ndoro sepuh" ucap Parjo.


"Jeng Alina?" Dewa menoleh ke arah Alina.


"Ini aku suka mas" jawab Alina sambil tersenyum membuat Daud dan Parjo berpandangan.


Daud hanya tahu keluarga Dewa terlibat acara baku tembak di Hongkong tapi menurut nya masih wajar karena yang mereka emban adalah penjahat kelas kakap yang berani membunuh dan menjual organ tubuhnya. ( Baca Jayde and Wira Story ).


"Yuk dimakan... Aku sudah lapar" cengir Dewa yang dengan cueknya makan dengan tangan.


Alina melirik ke arah Dewa yang tidak ada jaimnya. Gadis itu tampak berpikir apakah mantan-mantannya dulu tahu seberapa anti jaimnya Dewa. Alina memakan sayurnya dengan pikiran nya melayang kemana-mana.


Bagaimana kalau suatu saat bertemu dengan mantan one night stand nya mas Dewa? Atau mantan pacarnya? Alina menggelengkan kepalanya pelan, tidak mau merusak apa yang sudah dia putuskan untuk menerima Dewa.


Al, percaya lah sama Mas Dewa. Dia sudah bertaubat dan berikan kesempatan lebih untuk membuktikan ucapannya. Suara hati kecil Alina berbisik padanya.


Dewa melirik ke arah Alina dan merasakan bahwa pikiran gadis itu sedang tidak ada di bumi. Tunggu... Apa Jeng Alina berubah pikiran lagi? Duh semoga tidak... Pria itu melanjutkan acara makannya tapi bertekad ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran gadisnya.


***

__ADS_1


Dewa berpamitan kepada Daud dan Parjo untuk pulang ke rumah nya dan Alina pun mengantarkan pria itu ke mobilnya.


"Jeng Alina..."


"Ya...mas?" Alina menatap Dewa dengan mata hitamnya yang bening.


"Kamu tadi di meja makan mikir apa?" tanya Dewa


Alina tergagap. "Eng... Nggak mikir apa-apa..."


"Jeng, please. Bilang saja ada apa... Serius."


"Mas, aku tadi berpikir bagaimana jika suatu saat bertemu dengan mantan kamu atau teman one night stand kamu... Jujur aku agak gimana gitu..."


Dewa tersenyum karena tahu bahwa saat ini akan tiba juga. Dewa memang sudah bercerita kalau sudah tidak perjaka karena bagaimana pun, Dewa memilih jujur daripada Alina sakit hati saat sudah menikah.


"Dengar Sayang, mantan aku itu kebanyakan di Inggris dan beberapa negara Eropa karena selera aku bule. Di Jakarta pun sama, mantan aku bule dan bukan orang Indonesia karena apa... Karena rata-rata cewek Indonesia berpikir kita sudah tidur bareng, berarti bakalan menikah padahal aku cari hubungan konsensual saja, lu pengen gue juga pengen, jadilah. Nyaris tidak ada rasa disana, hanya kebutuhan biologis. Maaf jika aku vulgar tapi aku ingin kamu tahu aku dulu bobroknya macam apa. Aku tidak ingin menutupi segala sesuatu sama kamu Jeng Alina. Aku tahu kamu bakalan kecewa sama aku yang sudah sana sini tapi percayalah, aku benar-benar jatuh cinta padamu dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Jika Allah memberi kan aku anugerah wanita yang akan membuat aku taubat setaubatnya, aku akan menjaganya, menghormati dan tidak akan pernah berhenti mencintainya sepanjang hidupku..." ucap Dewa dengan wajah serius.


Alina menatap Dewa dengan raut wajah tidak dapat ditebak tapi gadis itu memeluk Dewa.


"Kamu kenapa Jeng Alina?" tanya Dewa bingung karena tiba-tiba Alina memeluknya.


"Terimakasih sudah mau jujur padaku..." ucap Alina pelan.


Dewa memeluk Alina. "Terimakasih sudah mau menerima aku, yang boleh dibilang mantan pendosa yang berusaha hidup lurus dan kembali ke habitatnya daripada kena potong masa depan oleh sang mama..."


Alina tertawa sambil menangis karena lagi-lagi Dewa membuat suasana terharu menjadi Membagongkan tapi itulah ciri khas pria yang sering lupa kalau dia seorang COO Bank Arta Jaya jika bersama dengan orang yang membuatnya nyaman.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2