My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Alina dan Chika


__ADS_3

PRC Hospital Jakarta


Dewa dan Ragil mencari tempat rawat inap Zara Aulia, kekasih Pramudya yang menjadi korban tabrak lari. Keduanya melihat Pramudya sedang berbicara serius dengan Anarghya Giandra, dokter bedah di rumah sakit itu yang juga Oom Dewa. Anarghya adalah putra bungsu Bara Giandra, cicit Abimanyu Giandra.


"Oom Arga ! Pram !" panggil Dewa dengan wajah panik. "Bagaimana Zara ?"


"Wa, parah Wa..." isak Pramudya yang langsung memeluk sepupunya. Dewa memeluk Pramudya dan menatap Anarghya.


"Bagaimana dengan Zara Oom?" tanya Dewa.


"Oom tidak bisa menyelamatkan satu ovariumnya, Wa..." jawab Anarghya sedih. "Zara harus hidup dengan satu ovarium saja yang Alhamdulillah sehat."


"Astaghfirullah... Apa sudah tahu siapa yang melakukannya, Pram ?" tanya Dewa.


"Masih diselidiki..." jawab Pramudya pelan.


"Wa, Oom tinggal dulu ya. Kamu temani Pram." Anarghya menepuk bahu Dewa lalu melakukan hal yang sama ke Pramudya. "Tugas kamu, buat Zara bangkit ! Oke Pram?"


Pramudya mengangguk.


***


Bank Arta Jaya Kebon Jeruk Jakarta


"Haaaahhh? Lagi?" seru Chika melihat ban motornya kempes lagi.


"Kenapa Chika?" tanya salah satu rekannya.


"Ban motorku kempes lagi ! Ampun deh !" gerutu Chika kesal yang segera mengeluarkan ponselnya untuk memesan ojek online.


"Naik ojol aja !"


"Ini juga lagi pesan." Chika memasukkan alamat rumahnya dan tak lama ada seorang driver yang sudah didapat. Chika mengirimkan pesan pada Ragil kalau dia terpaksa naik ojol karena ban motornya kempes lagi.


"Mbak Chika, ojolnya datang!" panggil Pak Thoriq.


"Asyiiaappp pak... " sahut Chika sambil menuju pos satpam.


***


PRC Hospital Jakarta


Ragil membaca pesan dari Chika dan rahangnya pun mengeras. Sudah ketiga kalinya ban motor Honda Varionya Chika kempes dalam waktu dua Minggu ini.


"Ada apa Gil ?" tanya Dewa yang sedang mengirimkan pesan ke Alina untuk bersiap-siap ke rumah sakit dengan dijemput Lucky.


"Chika pak. Ban motornya kempes lagi .." jawab Ragil dengan wajah kesal.


"Kok bisa? Tapi bisa jadi sih Gil soalnya orang suka iseng sebar paku."


"Tapi harusnya kan langsung kempes. Ban motor kan beda sama ban mobil yang tubles etc begitu pak."


Dewa tampak berpikir. "Apakah menurut kamu itu bukan suatu kebetulan?"

__ADS_1


"Tidak ada suatu kebetulan di dunia kriminal pak !" jawab Ragil.


"Lha ketularan Alina hobi nonton film kriminal...."


"Bukan pak. Saya banyak diskusi dengah Bu Miranti, ibunya Chika..." senyum Ragil.


"Wah ya repot punya calon mertua paham kriminal... Susah kalau kamu mau berbuat kriminal, sudah bisa ditebak" gumam Dewa.


***


Ragil memilih meminjam mobil Dewa setelah datang mengantarkan Alina ke rumah sakit. Ragil merasa tidak nyaman dan tenang kalau Chika belum sampai rumah. Lucky yang menyetir, fine fine saja karena Ragil hendak memberikan uang lembur.


"Tapi aneh mas Ragil. Motornya mbak Chika kan habis ganti ban baru kemarin" komentar Lucky.


"Kok kamu tahu?"


"Soalnya sebelumnya mbak Chika tanya - tanya harga ban motor. Maklum mbak Chika nggak pernah beli ban motor terus saya kasih tahu tempatnya" jawab Lucky.


"Kok Chika nggak minta tolong saya?"


"Kan mas Ragil pergi sama pak Dewa keluar kota waktu itu dan dikira mbak Chika, karena bannya udah aus aja."


Ragil tertegun. Iya sih Chika bilang mau ganti ban tapi tidak bilang kalau sudah ganti. Minggu lalu aku dan Pak Dewa memang sedang ke Bali.


"Kalau ban nya baru, kempes lagi... Kan kasus Ky" gumam Ragil.


"Nah ya itu mas."


Ragil dan Lucky tiba di rumah Chika bersamaan dengan Halim Pradono, ayah Chika, hendak buka praktek di paviliun sebelah rumah utama.


"Iya Pak. Saya tadi di WhatsApp sama Chika kalau terpaksa pulang naik ojek online."


"Dah, suruh berhenti ngeroweng nya ... Macam tawon wae..." kekeh Halim. "Saya tak praktek dulu." Pria dengan wajah ramah itu pun berjalan menuju paviliunnya yang sudah ada dua orang pasien disana.


"Monggo pak."


Ragil pun mendatangi rumah induk dan mendengar suara Chika marah-marah.


"Assalamualaikum... " sapa Ragil.


"Wa'alaikum salam..." balas Chika dan Miranti. "Pak Ragiiiilllll ..."


Chika langsung menubruk Ragil dramatis. "Ban Chika kempes lagi !"


Ragil reflek melirik bemper Chika yang jentit. "Ban kamu masih gak papa tuh... Addduuuhhh !"


Chika mencubit pinggang kekasihnya sebal. "Maaaaa... Pak Ragil meshuummm. Dikenakan pasal apa maaaaa... " teriak Chika membuat Ragil mendelik.


"Kamu tuh !" tegur Ragil manyun.


"Ragil, kamu bisa cari tahu siapa yang bikin ban motor Chika kempes? Ibu rasa itu kok disengaja..." ucap Miranti dengan wajah detektif kata Chika.


"Baik Bu. Nanti saya selidiki."

__ADS_1


"Perlu peralatan sidik jari?" tanya Miranti.


"Ya Allah, mama. Biar pak Ragil jadi detektif ajaran dulu, nanti kalau gagal, baru detektif Miranti maju... " cengir Chika. "Lho pak Ragil kemari ada acara apaan?"


"Kamu ikut aku ke rumah sakit. Pacarnya sepupunya pak Dewa jadi korban tabrak lari."


Miranti menatap Ragil. "Boleh ibu ikut ? Penasaran !"


Ragil melongo.


***


PRC Hospital Jakarta


Dewa dan Alina tampak bingung melihat Ragil datang bersama dengan Chika dan ibunya Miranti, yang membawa oleh-oleh makanan untuk semua orang.


"Akhirnya bertemu dengan Bossnya Chika. Salam kenal pak, saya Miranti Delisha, ibunya Chika" sapa Miranti sambil bersalaman dengan Dewa.


"Saya Dewa Hadiyanto, dan ini tunangan saya Alina Ratnadewi." Alina pun bersalaman dengan Miranti.


"Bagaimana kejadiannya pak Dewa ?" tanya Miranti.


"Lho letnan Miranti?" sapa Letnan Arman yang datang bersama dengan Pramudya.


"Eh junior aku... Apa kabar? Aku Wis pensiun lho ..." senyum Miranti ke Letnan Arman.


"Tetap saja mbak Miranti legend di kantor..."


Ragil mendekati Alina. "Nona Alina, bisa dengan Chika dulu. Tampaknya bakalan lama itu kalau soal kriminal."


Alina mengangguk. "Biar nggak terlalu ramai juga. Aku akan bawa Chika ke kursi sana ..." Alina memberikan kode pada Chika yang sudah dua kali bertemu dengan Alina saat acara membawa para murid guru TK itu ke bank Dewa dan saat itu Chika yang membantu.


"Mbak Alina, memang kasusnya berat ya?" bisik Chika saat Alina menggamitnya menjauh dari para pria yang sedang berbincang serius.


"Iya Chika. Kasihan Zara. Sudah kehilangan neneknya, harus kehilangan satu ovariumnya..." bisik Alina membuat Chika terkejut.


"Innalilahi... Mbak Zara itu pacarnya Pak Pramudya kan ? Duh mesakke ..." Chika dan Alina pun duduk di kursi seberang gerombolan disana. "Mbak Alina mencurigai siapa pelakunya?"


"Kayaknya cewek yang ngejar-ngejar Pram deh. Dia terobsesi dengan Pram jadi sudah pernah mencelakai Zara sebelumnya."


"Wis mbak... Alamat."


"Alamat gimana?" tanya Alina bingung.


"Alamat bakalan jadi bahan novel mama itu ! Tenang mbak, kalau laris manis, aku akan minta ke mama bagi royalti nya ke mbak Zara ! Wajib itu !" ucap Chika yakin membuat Alina melongo.


"Kok ya kepikiran sih Ka..."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2