My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Devan Pt 3


__ADS_3

Jakarta Indonesia


Devan menelpon Laura sekali lagi dan akhirnya tersambung. Wajah Devan tampak lega saat mendengar suara gadisnya. Devan sendiri berada di kamar hotelnya sendirian karena Radeva sedang berkumpul dengan Raveena dan Alexis serta Reana dan Pandu.


"Halo sayang... Kok suaranya pelan?" tanya Devan.


"Sudah...sampai.. Jakarta?" tanya Laura.


Devan langsung mengganti panggilannya ke video dan betapa terkejutnya pria tampan itu saat melihat Laura dalam kondisi drop.


"Sayang..." Mata Devan berkaca-kaca melihat keadaan kekasihnya.


"Jangan nangis Devan... Jelek... Masa pacar ... Laura ... Jelek..." senyum Laura.


Devan mengusap air matanya. "Biarin jelek ! Kan Laura tetap sayang sama Devan !"


Laura tertawa pelan. Setahun bersama Devan, Laura tahu bahwa kekasihnya kadang-kadang keluar sindrom anak bontotnya.


"Van..."


"Nggak Laura. Kamu janji mau tunggu aku pulang !" hardik Devan.


"Van... Tapi Laura ... Nggak bisa menuhi... Janji Laura yang ini..." senyum Laura. "Besok Laura... Dikasih lihat acara ijab nya ya... Kan kata Devan... Pasti Membagongkan..."


"Tapi Laura janji ! Harus tunggu Devan pulang !" Ucap Devan sungguh-sungguh.


Laura hanya tersenyum manis. "Van..."


"Apa sayang..."


"Aku minta... " Laura menjeda nafasnya. "Kamu... Besok nyanyi ya..."


"Jangan suruh lagu India !" ujar Devan dengan wajah cemberut. "Itu urusannya Bang Raj !"


Laura tersenyum karena sudah tahu siapa-siapa keluarga Devan meskipun sering salah orang tapi kalau Raj Rao, dia hapal karena satu-satunya yang orang India.


"Bukan... Kamu tahu lagu... Yang kita nyanyi saat ke Maine sampai tiga kali bolak balik..."


"Can't Cry Hard Enough?"


Laura mengangguk.


"Kamu mau aku nyanyi itu di depan tamu undangan?"


Laura mengangguk lagi.


"Why?"

__ADS_1


"Aku ... Suka suaramu... Besok... Di speaker... biar aku dengar yaaa.." Laura merasa dadanya sesak dan seorang suster menghampirinya membantu memberikan oksigen.


"Maaf tuan, tapi Nona Khan butuh istirahat" ucap suster itu.


"Baik Suster... Get well soon, sayang..." ucap Devan sambil memberikan kiss bye yang dibalas anggukan Laura...


POV Devan End


***


Present Time


Devan menangis di panggung saat mendapatkan pesan bahwa Laura sudah pergi dengan iringan lagunya tadi. Ya, Laura ingin mendengarkan Devan menyanyikan lagu Can't Cry Hard Enough dari ponselnya yang di loud speaker dan lagu itu pula yang membuatnya pergi dengan tersenyum. Shamir, ayah Laura, memberitahukan pada Devan lewat pesan singkat.


Radeva langsung naik ke panggung dan memapah sepupunya turun. Bayu dan Alexis pun mengikuti Radeva yang memapah Devan ke sebuah bilik disana.


"Apa yang terjadi?" tanya Arum ke Rama dan Astuti.


***


Semua orang maklum bagaimana Devan hancur hatinya karena kekasihnya pergi untuk selama-lamanya dan Bagas mempersilahkan Rama, Astuti dan Devan pulang ke New York terlebih dahulu.


"Pakai pesawat Hadiyanto saja. Sudah siap karena kan Gulfstream nya lebih kecil" ucap Bagas. "Oom ikut belasungkawa ya Van..."


Devan mengangguk. "Maaf Oom Bagas, maaf mas Dewa, maaf Tante Safira, maaf mbak Alina, malah bikin suasana jadi nggak enak."


Devan menangis lagi di pelukan Dewa. "She's the best girlfriend, mas. Kalau sehat, pasti bakalan jadi istri Devan... " raungnya.


"Mas Dewa tahu. Tapi mas yakin, Laura pasti tidak mau kamu nangis terus... Oke?" bisik Dewa. "Dia nggak mau lihat kamu jelek dan cengeng macam Nobita !"


Tubuh Devan membeku.


"Kenapa Van?" tanya Alina bingung melihat iparnya seperti kaget.


"Ucapan mas Dewa, mirip Laura..."


Dewa langsung melepaskan pelukannya dan menatap horor ke Devan. Apa gue kerasukan arwah Laura? Masa sih secepat itu pindah dari New York ke Jakarta? Lewat mana? Superman aja nggak secepat itu ! Bukannya kalau roh kudu kulonuwun dulu sama penguasa tanah Jawi ?


"Mungkin Laura kasih pesan via Dewa, Van" celetuk Freya Lexington yang mengantarkan keluarga McCloud yang hendak ke bandara.


"Freyaaaa... Jangan horor !" tegur Bagas judes.


"Nggak horor ! Itu namanya pesan tersembunyi. Jadi Van, Laura mau kamu tetap seperti Devan yang selama ini dia kenang... Menangis boleh tapi jangan berlebihan karena kasihan Laura. Oke?" Freya memeluk keponakannya.


Devan mengangguk dalam pelukan Freya.


***

__ADS_1


Pemakaman Umum New York


Devan menatap batu nisan disana yang bertuliskan nama Laura Shaquilla Khan. Memang hanya setahun Devan dan Laura bersama tapi setahun yang penuh makna, setahun yang membuat Devan jatuh cinta setiap hari pada Laura.


Devan lalu duduk di sisi gundukan tanah yang masih baru itu dan mengelus batu nisan itu. Ini adalah hari ketiga kepergian Laura dan Devan masih datang setiap hari sambil membawakan bunga-bunga segar.


"Kamu tahu sayang, Daddymu pensiun dini dan memilih tinggal di panti jompo. Daddyku sempat menawarkan perkejaan di McC Custom tapi ayahmu tidak mau..." ucap Devan.


"Ayahmu terlalu sedih ditinggal olehmu, sama seperti aku jadi apartemen kalian akan dijual dan ayahmu akan ke panti jompo di area Rhode Island. Katanya disana akan banyak teman-teman sesama senior jadi tidak merasa sepi karena tidak ada kamu dan mamamu..."


Devan meletakkan buket bunga sedap malam yang susah payah dia cari. "Aku rindu kamu, Laura..."


"Move on Devan... Aku yakin kamu akan mendapatkan gadis yang lebih dari aku..."


Devan tertegun karena seperti mendengar suara Laura. "Laura?" panggilnya. "LAURA !"


Namun Devan melihat hanya sendirian di tempat pemakaman itu. "Sayang, aku butuh waktu... Jangan suruh aku move on secepatnya. Biarkan aku bersamamu dulu..."


Pria itu kemudian mengusap nisan Laura. "Give me time to remember you..."


***


Jakarta Indonesia, Kamar Dewa dan Alina


"Aku kok tidak tahu Devan punya pacar..." ucap Alina usai acara makan malam.


"Jangankan kamu ... Aku aja nggak tahu, Jeng. Devan benar-benar menyembunyikan rapat-rapat, begitu juga Oom Rama dan Tante Astuti" balas Dewa sambil melepaskan celana jeansnya meninggalkan boxer hitam. Dewa lalu membuka kaosnya dan meletakkan ke dalam keranjang baju kotor.


"Tapi aku salut sama Devan, cintanya ke Laura tulus."


"Kamu jangan remehkan keturunan Pratomo dari garis Reeves McCloud. Dulu Oma Rain nggak boleh pacaran sama Opa Jeremy alias Opa Elang tapi Oma Rain nekad bahkan sampai nyaris meninggal beberapa kali. Tapi berdua itu cintanya nggak main-main. Devan sendiri perpaduan Opa Elang dan Oma Rain, cintanya tulus... Meskipun endingnya sad ..." ujar Dewa.


Alina mengangguk.


"Dan sekarang, pertanyaan paling penting seantero novel klan Pratomo. Apakah kamu sudah selesai dapatnya, Jeng Alina?" Dewa menaik turunkan alisnya ke istrinya yang melongo melihat wajah meshum suaminya.


Astaghfirullah... Kok ya ingat sih...


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2