
Kantor Cabang Bank Arta Jaya Kebon Jeruk Jakarta
Dewa menatap Ragil yang cemberut pagi ini apalagi tadi saat datang ke kediaman Hadiyanto, pria berwajah dingin itu semakin seperti freezer dua pintu. Dewa sampai berpikir Ragil berubah menjadi Elsa... Eh Elson soalnya kan Ragil cowok.
Pria ganteng itu pun tidak tahan untuk tidak bertanya ke asistennya. Jiwa kepopers nya meronta-ronta pagi ini karena curiosity itu bagaikan kamu pengen makan tahu gimbal tapi udangnya gadha. Keduanya sedang berada ruangan Dewa seperti rutinitas setiap hari.
"Kamu kenapa Gil?" tanya Dewa.
"Nggak kenapa-kenapa pak" jawab Ragil judes.
"Elu kan udah sarapan di rumah... Apa tidak kenyang? Kalau belum kenyang, kamu sarapan dulu deh di warung nasi uduk depan..."
Ragil menatap Dewa. "Pak, semalam bapak kemana?"
"Eh? Elu kok pagi-pagi macam lagu dangdut semalam kamu kemana? Dengan siapa?" gumam Dewa. "Gil, yakin lu masih straight? Kagak belok sama gue?"
Ragil semakin mendelik. "Astaghfirullah... Saya masih straight pak ! Pak, apa semalam bapak ghibahin saya?"
Dewa melongo. "Oooohhh... Kamu semalam bersin-bersin ? Iye, gue ghibahin elu sama Valentino. Puas?"
"Kok bapak bisa bertemu pak Valentino?"
"Ya bisa lah! Masa nggak bisa..."
Ragil harus menghitung sampai sepuluh demi keamanan hati dan otaknya mendampingi boss minus akhlak nya.
"Pak, jadwal bapak hari ini..." Ragil pun kembali menjadi mode sekretaris lagi.
***
Hari Jumat, TK Bintang Kebon Jeruk Jakarta
Alina tersenyum melihat Dewa yang datang dengan mobil Mazda CX-9 nya. Alina yakin bahwa pria satu itu pasti memiliki banyak koleksi mobil khas orang kaya dan dirinya baru melihat mobil merah yang ini serta Nissan GTR biru khas Skyline.
"Lama nunggu? Maaf tadi habis Jumatan maunya kemari tapi ada tamu jadi baru sekarang bisa jemput kamu, Jeng" senyum Dewa yang memang terlambat dua jam dari janji. Dan dia sudah memberitahukan Alina alasan dirinya terlambat.
Alina pun maklum karena Dewa adalah orang sibuk jadi dia paham. Toh siapa sih dirinya, baru juga ditembak jadi pacar tapi belum dia iyakan.
"Nggak papa Pak Dewa, lagipula saya kan tadi sambil memeriksa hasil karya murid-murid saya."
"Lho yang lain sudah pada pulang?" tanya Dewa yang melihat sudah sepinya TK Bintang, tinggal Alina, ibu tukang bersih-bersih dan dua satpam.
"Sudah pak Dewa. Kan hari ini hari Jumat...Jadi pada pulang cepat." Alina mengambil tas nya lalu berjalan bersama Dewa ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kamu sudah makan siang?" tanya Dewa saat memakai sabuk pengamannya.
"Sudah pak Dewa. Tadi waktu pak Dewa ngabarin kalau terlambat, saya makan di warung depan situ. Wartegnya enak" jawab Alina sambil memasang sabuk pengaman.
"Kalau belum makan, kita makan dulu" ucap Dewa sambil menstater mobilnya.
"Sudah kok pak Dewa."
Dewa mengangguk lalu menjalankan mobilnya menuju rumah sakit PRC Group.
***
Rumah Sakit PRC Group Jakarta
Dewa dan Alina harus menunggu karena Safira sedang ada pasien. Pria itu menunjukkan bahwa dirinya mendapatkan undangan ke Brussels.
"Tuh, aku dapat undangan nikah ke Brussels. Kamu mau ikut?" tanya Dewa sambil memperlihatkan ponselnya.
"Nggak pak. Matur nuwun."
"Ikut saja Jeng Alina. Kapan lagi kamu ketemu sama Raja dan Ratu Belgia" senyum Dewa.
Alina melongo. "Raja dan Ratu Belgia?"
"Tapi Ratu Zinnia itu cantik banget..."
"Mbak Zee memang cantik dan bodynya... Hohohoho... Body goals yang semok banget ! Nggak heran, Bang Sean bucinnya setengah mampus sama mbak Zee. Oh anaknya, Arsyanendra, itu mini me nya Bang Sean tapi ajarannya macam Oom trio kampret."
"Trio kampret?" Alina menatap bingung ke Dewa. Ini keluarga apa? Nama beken tapi kok julukan nggak ada yang bagus blass !!
"Hu um. Valentino, Arkananta dan Shinichi itu mengangkat diri mereka sebagai trio kampret karena memang sering bikin kami keluarganya darting. Terutama Shinichi, yang sering random apa keluar dari mulutnya..."
"Macam pak Dewa..."
"Macam a... Eeeehhhhh! Tidak bisa ! Shinchan itu jauh lebih kacau !" protes Dewa dengan wajah judes.
Alina cekikikan dan tak lama pintu ruang praktek Safira terbuka. Dokter cantik itu mengantarkan tamunya yang tampaknya orang penting karena dikawal oleh dua orang bersamanya. Namun Dewa tahu, mamanya bisa jaga diri apalagi ada suster Parvani yang berdarah India dengan tubuh besarnya.
"Saya tahu orang itu pak Dewa" bisik Alina.
"Siapa?" balas Dewa.
"Mentri Pendidikan kita. Tapi kenapa pakai masker ya?" gumam Alina.
__ADS_1
"Kok kamu tahu?" tanya Dewa yang memang tidak hapal semua orang penting. "Mungkin biar tidak dikenali..."
"Tahu lah pak. Aku kan sempat ikut upacara di kantor kementerian pendidikan waktu hardiknas."
"Kalian mau masuk atau masih mau ghibah?" tanya Safira ke kedua orang yang masih asyik bisik-bisik.
"Masuk kok Ma" jawab Dewa dengan diikuti anggukan Alina.
***
"Tadi menteri pendidikan ya Tante?" tanya Alina saat sudah berada dalam ruang praktek Safira.
"Iya. Biasa kontrol rutin" jawab Safira. "Jangan tanya kontrol apaan karena itu kerahasiaan pasien dan dokternya. Kalau mau tanya harus memakai surat perintah dari pengadilan."
"Idiiihhhh, galak banget !" goda Dewa. "Gak penting Ma. Yang penting itu, bagaimana kondisi tangan Jeng Alina."
"Kita Rontgen dulu ya. Kebetulan alat Rontgen portabel masih belum Mama kembalikan di ruang radiologi." Safira mengajak Alina masuk ke ruang periksa dan dokter itu bersama suster Parvani
Safira dan Suster Parvani memakai pelindung tubuh karena sinar radiasi Rontgen memang berbahaya meskipun hanya melihat tangan.
Dewa menunggu dengan sabar di kursi yang ada di ruang konsultasi sambil membaca pesan di grup chat sepupu prianya.
"Alhamdulillah sudah bagus kondisinya, Al. Tapi tetap masih harus pakai perban seminggu lagi" ucap Safira setelah selesai pemeriksaan.
"Baik Tante" jawab Alina sambil duduk di sebelah Dewa yang asyik cekikikan.
"Kamu kenapa Wa?" tanya Safira.
"Shinchan bikin bang Luke emosi..." kekeh Dewa.
"Ya ampun mereka berdua itu ! Kapan akurnya !" gerutu Safira.
"Nunggu lebaran macan" jawab Dewa cuek.
Alina hanya tersenyum.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️