My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Kita Ke Dokter !


__ADS_3

Rumah Kost Alina


Alina turun dari motor Yani dan menyerahkan helmnya ke teman kerja itu.


"Kamu tuh, kenapa sih nggak beli helm sendiri?" kekeh Yani sambil memarkirkan motornya dan membuka bagasi nya untuk menyimpan helmnya.


"Bikin penuh kamar kost saja. Kan kamu tahu sendiri kamar ku penuh dengan jualan aku" senyum Alina.


"Iya deh. Sampai ketemu besok ya Al..." Yani pun naik keatas motornya.


"See you tomorrow" senyum Alina.


"Mbak Alina baru pulang?" sapa pak Sabar pemilik toko seberang rumah kost Alina yang sedang menyemprot halaman tokonya supaya tidak berdebu.


"Iya pak. Mari pak Sabar, saya masuk dulu."


"Silahkan mbak" senyum pak Sabar.


Alina pun membuka pagar rumah kost itu dan saat dirinya hendak menguncinya, tiba-tiba sebuah motor datang di depannya. Alina hanya menatap dingin ke orang yang datang di depan pagarnya.


***


Bank Arta Jaya cabang Kebon Jeruk


"Ragil !" panggil Dewa ke sekretarisnya.


Ragil yang sedang merekap semua pekerjaan hari ini, mendongakkan wajahnya. "Ya pak Dewa?"


"Pinjam kunci motor kamu dan helmnya sekalian !" Dewa tampak tidak sabaran sambil menengadahkan tangannya.


"Bapak mau pinjam lagi?" tanya Ragil bingung.


"Kagak ! Mau gue gadaikan ! Ya pinjam lagi cumiii ! Cepat !" Dewa tampak gelisah membuat Ragil memberikan kunci motor dan helmnya.


"Pak, jangan malam-malam..." ucap Ragil namun Dewa sudah melesat ke tangga. "Si boss kenapa ? Eh ? Masa motor gue bakalan digadaikan ? Duh, boss, cicilannya masih dua bulan lagi..."


Ragil hanya berharap Bossnya nggak berbuat aneh-aneh sebab sudah jinak tujuh bulan ini..


***


Rumah Kost-kostan Alina


Alina menatap Gatot dari balik pagar besi rumah kostnya tanpa ada keinginan untuk membukanya dan mempersilahkan pria itu masuk.


"Ada apa Gatot? Apa penjelasan aku kurang?" tanya Alina dingin. Pak Sabar yang masih berada di depan tokonya, tampak ikut mengawasi keduanya.


"Kamu dengar aku dulu ! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Margaret !" ucap Gatot.


"Kalau tidak ada hubungan apa-apa, kenapa dia merasa kamu adalah miliknya? Terlihat dari gaya dan bahasa tubuh dia."

__ADS_1


"Apa kamu yakin kamu tidak cemburu?" tanya Gatot.


"Astaghfirullah... Aku tidak cemburu Gatot karena aku tidak mencintaimu !" hardik Alina sebal.


"Alina, kamu tidak mengajak aku masuk?"


"No, aku sedang tidak ingin menerima tamu, siapapun karena aku hendak berisitirahat. Dan aku rasa sebaiknya kamu pulang saja" tolak Alina. "Selamat siang..." Alina sedang berbalik namun Gatot berhasil menarik tangannya membuat gadis itu terbentur pintu pagar besi hingga menjerit antara kaget dan kesakitan.


"Heeeeiiiii ! Mas ! Jangan kasar sama perempuan !" tegur Pak Sabar sambil meletakkan selang airnya.


"Bapak tidak usah ikut campur !" bentak Gatot.


"Mbak Alina kesakitan itu !" bentak Pak Sabar yang langsung menghampiri Gatot dan menarik jaketnya yang akhirnya cengkraman tangan Gatot terlepas di tangan Alina.


"Dasar orang tua pengganggu !" teriak Gatot.


"Kamu lah yang pengganggu !" Pak Sabar menoleh ke arah Alina. "Mbak Alina masuk ke rumah !"


Keributan itu membuat para penghuni kost yang sudah di rumah keluar.


"Al, masuk saja yuk" ajak salah satu teman kostnya. "Tanganmu aku obati." Alina bisa melihat pergelangan tangannya tampak memar tapi yang paling sakit, adalah hatinya. Karena Gatot berani berbuat kurang ajar padanya dan termasuk pelecehan.


"Pak Sabar, apa perlu panggil polisi?" tanya teman kost Alina lainnya.


"Nggak usah mbak. Saya bisa handle!" jawab pria paruh baya itu.


Teman Alina itu tetap mengawasi dari balik pagar, begitu juga beberapa orang yang melihat kejadian itu.


"Tahu apa kamu !" bentak Gatot ke teman Alina itu.


"Mas, saya mahasiswi hukum dan aku tahu soal hukum pidana. Mumpung saya dan teman-teman masih baik untuk tidak membuat anda viral, saya minta anda segera pergi. Lihat sekeliling anda ! Ini kampung mas. Semua orang tahu sama tahu siapa yang tinggal disini" ucap teman Alina itu tenang.


Gatot melihat di sekeliling nya dan terdapat beberapa orang berdiri di sana dengan wajah tidak bersahabat. Pria itu pun akhirnya tahu jika kalah orang dan memutuskan untuk pergi dari sana dengan diiringi ejekan orang-orang itu.


"Mbak Tasya, terima kasih sudah mengancam tanpa harus memakai kekerasan..." ucap Pak Sabar.


"Sama-sama pak. Saya malah ngeman bapak kalau sampai memukul duluan... Bisa berabe nanti pak... " Tasya menoleh ke arah toko pak Sabar. "Pak, selangnya belum dimatikan..."


Pak Sabar terkejut. "Ya Allah ! Aku bayar air berapa bulan depan ?"


***


Dewa tiba di kost-kostan Alina bertepatan saat Tasya hendak masuk.


"Maaf mbak, Alina nya ada?" tanya Dewa sopan sambil turun dari motor milik Ragll.


Tasya melongo melihat siapa yang datang. "Mas nya siapa ya?"


"Saya Dewa, temannya Alina."

__ADS_1


"Sebentar ya mas. Saya panggilkan mbak Alina." Tasya pun masuk tanpa membuka pintu pagarnya membuat Dewa bingung.


"Mas !"


Dewa pun menoleh dan melihat pak Sabar menghampiri dirinya.


"Njih pak?" sapa Dewa sopan.


"Masnya namanya siapa?" tanya Pak Sabar.


"Nama saya Dewa. Bapak?" Dewa mengulurkan tangannya yang disambut Pak Sabar.


"Nama saya Sabar tapi tadi saya nggak sabar..." jawab Pak Sabar.


"Lha kenapa pak? Apa yang terjadi?" tanya Dewa.


"Mbak Alina terluka tangannya gara-gara ditarik sama orang yang ribut sama mas Dewa kemarin Minggu."


Dewa terkejut. "Gatot maksudnya?"


"Iya mas." Pak Sabar pun menceritakan apa yang terjadi sepuluh menit yang lalu. Rahang Dewa pun mengeras dan rasanya detik itu juga dia ingin menghajar Gatot.


Tak lama Alina menghampiri pagar besi rumah dengan ditemani Tasya.


"Pak Dewa...?" Alina menatap bingung sambil memegang pergelangan tangannya yang sudah dibebat perban gips oleh temannya seorang mahasiswi fakultas kedokteran.


"Tanganmu tidak apa-apa Miss Alina?" tanya Dewa.


"Tidak apa-apa pak, sudah diobati sama Amora. Dia anak kedokteran" senyum Alina.


"Kita ke dokter sekarang!"


"Tapi pak... "


"Saya bilang ke dokter, ya ke dokter ! Mbak..." Dewa menoleh ke arah teman Alina.


"Tasya..." jawab Tasya.


"Mbak Tasya punya helm? Saya pinjam dulu buat Miss Alina ... Nanti saya kembalikan. Oh sama tasnya Miss Alina" pinta Dewa dengan nada tegas yang membuat siapapun tidak bisa menolaknya.


Tasya mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Alina bisa melihat wajah lain dari Dewa saat itu. Wajah yang ingin memakan orang !


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2