My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Tanjidor


__ADS_3

Di sebuah Cafe yang terkenal dengan ice cream dan gelatonya


Safira berdiri ke arah Tamara yang masih menatap dengan wajah polos. "Jadi kamu yang membuat Pramudya harus semalaman berkamuflase menjadi kuda Nil kungkum ( berendam ) di dalam bak air dingin... Bagus ya hasil perbuatan kamu!" bentak Safira galak membuat Dewa dan Ragil berpandangan.


Seriously mamak aku ini ! Kenapa Pramudya dibilang macam kuda Nil? Mana logat mamak aku jadi orang Batak pulak ! Nak macam apa nih? Eh itu kan logat Melayu... Dewa nyaris tertawa sendiri.


"Tante, fitnah itu ! Genta saja yang bohong bilang aku yang melakukannya" elak Tamara.


"Lalu saat kamu di kamar bersama dengan Pram dan sudah setengah telan*Jang itu juga khayalan Genta ?" bentak Safira.


"Iya lah Tante ! Saya tidak mungkin melakukannya! Itu perbuatan yang rendah !"


Dewa nyaris muntah saat mendengar ucapan munafikun Tamara.


"Lalu ini..." Safira memperlihatkan video yang diberikan Genta saat membawa Pramudya keluar dari kamar. "Ini apa?"


Wajah Tamara memucat. "Itu... Itu video ... Sudah diedit ... "


"Di-edit? Di edit? Ini dari ponsel yang dibawa Genta dan diletakkan di saku jas nya dengan posisi merekam sebagai barang bukti ! Jika kamu, tidak mau saya sebarkan bentuk tubuh kamu ke sosial media, jauhi keluarga Hadiyanto !" ancam Safira.


"Kalau saya tidak mau?" tantang Tamara.


"Jangan salahkan saya akan cari tahu aib kamu !" Safira melihat Tamara dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Saya rasa kamu juga player. Sejak kapan kamu tidak pera*wan?"


Wajah Tamara merah padam dan tanpa pamit, gadis itu langsung pergi meninggalkan ketiga orang disana dengan tatapan geli dan sinis pengunjung cafe itu.


"Ma, serius mama bilang begitu?" Dewa menatap ibunya dengan wajah tidak percaya.


"Dia berani buka-bukaan di depan Pram dan kalau bukan player atau terbiasa bermain, tidak mungkin gadis baik-baik seperti itu !" Safira duduk kembali lalu menikmati ice cream sodanya.


"Kok mama bisa dapat video itu?" tanya Dewa penasaran.


"Genta sengaja memberikan pada mama. Mungkin saking dia bingung harus bicara sama siapa. Sama papamu, tidak mungkin karena papamu nanti tidak bisa obyektif karena ayah Tamara klien bank nya. Jadi Genta cerita semua sama mama."


"Tuh Gil, elu kudunya tanggap macam Genta..." celetuk Dewa.


"Lha tanggap gimana dulu. Wong pawangnya Pak Dewa jauh lebih dahsyat kalau marahi bapak..." balas Ragil cuek.

__ADS_1


"Kamu kalau kembali ke jaman jahiliah, suwer ! Mama tidak akan melamar kan Alina ! Biar Alina dapat pria yang jauh lebih baik dari kamu ! Meskipun kamu anak mama sendiri tapi mama tidak mau membuat anak gadis orang jadi korban kekampretan kamu !" pendelik Safira.


"Astaghfirullah... Ma.. Ampun ma... Anakmu ini sudah kembali ke jalan yang benar dan lurus. Janganlah didoakan seperti itu. Aku tuh serius sama Alina, Maaaa..." rengek Dewa membuat Ragil tertawa kecil melihat Bossnya tidak berkutik dengan Omelan Safira.


Ragil tahu, sebandel-bandelnya Dewa dan mayoritas semua anak-anak keluarga Pratomo, tidak ada yang berani melawan ibunya. Begitu juga Dewa, meskipun slengean, tetap pria itu sangat menghormati Safira.


"Sudah. Mama yakin si Tanjidor itu nggak bakalan ganggu Pram lagi !" sungut Safira.


"Aku kok ga yakin ya..." sahut Dewa.


"Macam-macam, bilang sama Mama. Biar mama bilang sama Opa dan Oma buat buka tuh otak si Tanjidor !" Safira mengacungkan sendoknya ke arah Dewa.


"Ya Allah, bawa - bawa Opa dan Oma. Iya bener Oma dokter syaraf tapi sudah pensiun maaaaa...." balas Dewa.


"Mama yakin, Omamu itu mau turun gunung buat bèlék( buka ) otak !"


Dewa dan Ragil memilih untuk diam sebab Safira bisa kemana-mana nanti kalau sudah ngamuk. Sayangilah nyawamu, kuping mu dan perasaan mu...


***


Alina melongo saat Dewa menelpon dirinya dan mengatakan hari Sabtu akan datang ke rumah Eyangnya untuk melamar dirinya.


"Mas Dewa... Mas Dewa nggak sedang mabuk kan?" tanya Alina pelan-pelan karena takut kalau telinganya salah mendengar.


"Ya Allah mabuk dari Monas ! Kagak Jeng Alina sayang... Aku belum minum ini. Baru sampai kamar juga mau mandi. Mau ikut? Mandiin bayi Gedhe? Anggap aja aku Aizen deh..."


Alina memegang pelipisnya. Ditanya serius malah jawabnya kemana - mana. "Mas Dewa !"


"Apa sih Jeng Alina cintaku, manisku, pujaan hatiku..." balas Dewa cuek.


"Mas, mas Dewa serius mau ke rumah Eyang buat lamar aku? Tapi aku belum persiapan..." Alina terbayang semua anggota keluarga Dewa yang di Jakarta bakalan ikut dan bakalan bikin huru hara yang unfaedah secara haqiqi.


"Tenang saja Jeng Alina, tidak ada pasukan sirkus yang ikut. Hanya Keluarga inti aku, bapak Bagas Hadiyanto yang terhormat, ibu Safira Pratomo Hadiyanto yang cantik madraguna..."


"Sakti Mandraguna..." ralat Alina.


"Salah sitik ( salah sedikit )... Ngunu kok ya kudu dikoreksi tho ( gitu kok ya harus dikoreksi sih )" balas Dewa manyun membuat Alina cekikikan. "Aku sendiri yang hendak melamar kamu dan Ragil, asisten minus akhlak yang sudah bahagia karena jika aku mulai Durjana padanya, dia akan wadhul sama kamu ..."

__ADS_1


Alina tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat terakhir Ragil. "Kan bagus tho mas, jadi mas Dewa nggak bisa sembarangan dan nggak nakal lagi."


"Ya Allah, kenapa sih semua orang selalu memojokkan aku... Aku kan tidak bisa dibeginikan..." keluh Dewa penuh drama.


Alina tertawa geli. "Pantas Aizen jago mendramatisasi segala sesuatu... Jebule ( ternyata ) ada yang ditiru..."


"Ini baru satu. Bayangkan jika trio kampret kumpul. Dijamin, ajaranku itu tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. So, Jeng Alina, besok Sabtu santai saja. Biar soal dekorasi rumah dan catering, urusan kami...."


Alina tersenyum. "Memang mau dihias apa mas? Eyang bisa manyun kalau tidak ikutan cawe-cawe ( menangani ). Biar hiasan serahkan pada Eyang dan Pak Parjo. Kan dulu pak Parjo sering ikut orang bantu bantu dekora manten dan tanaman Eyang sering disewa untuk menambah semarak resepsi."


"Berarti tinggal acara makan siang saja ya. Jeng Alina mau menu apa? Indonesian, Western atau Asian?"


"Mas, menu Jowo wae... Eyang kan lebih suka kalau makan masakan Jowo. Nanti biar aku beli cake nya. Masa tuan rumah nggak ikutan sih?" jawab Alina yang jujur sangat tersanjung bahwa Dewa serius. Tidak pernah terlintas di pikiran Alina bakalan menjadi calon menantu keluarga Hadiyanto, yang notabene salah satu keluarga terkaya di Indonesia dan bagian salah satu keluarga terkaya di dunia dari klan Pratomo.


"Ngunu ya ( Gitu ya ). Tar aku bilang ke Mama deh..."


"Mas..."


"Ya?"


"Mas Dewa sudah beli cincinnya?" tanya Alina.


Ada nada diam di seberang. "Jeng..."


"Ya Mas?"


"Aku lali ( lupa )cincinnya..."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2