
Kediaman Keluarga Bagas Hadiyanto
Alina menutup mulutnya saat melihat Safira menjewer telinga Dewa kedua kalinya hari ini.
"Tante, bukan mas Dewa yang cium duluan..." ucap Alina sambil memegang tangan Safira karena kasihan melihat tunangannya jadi korban pitenah.
"Alina, nggak usah belain Dewa deh!" ucap Safira.
"Tapi benar kok Tante..." Alina menatap Safira serius. "Aku yang cium mas Dewa duluan..." Gadis itu menunduk dengan wajah memerah.
Safira melepaskan capitannya di telinga Dewa. "Ya Allah Alinaaaa... Kalau Dewa maksa kamu, jangan kamu turuti !"
Dewa dan Alina melongo. "Tidak ada yang memaksa aku Tante ..."
Safira langsung memeluk Alina. "Maafkan Tante ya Alina, yang tidak bisa mendidik Dewa..."
Dewa melongo dengan wajah tidak percaya dengan dramanya sang mama.
"Paaaaa... Mama kesambet ... Addduuuhhh !" Dewa meringis saat terkena keplak dari Safira.
***
Hari-hari kehidupan kedua pasangan itu dipenuhi dengan drama dan kekacauan yang sebagian besar juga karena andil kedua orangtuanya Dewa. Alina merasakan menjadi anak perempuan keluarga Hadiyanto yang tidak ada bedanya dengan Dewa.
Jika dirinya punya salah pun, Safira tidak segan menegurnya tapi memang tidak sebrutal jika ke Dewa tapi bagi Alina itu adalah bentuk dari sayangnya Safira dan Bagas kepadanya. Alina tidak keberatan jika dia ditegur karena memang dirinya bersalah. Justru dari situ, Alina mempelajari bagaimana keluarga Dewa mendidik anak-anaknya. Mereka bisa memposisikan sebagai orang tua dan anak dan juga sebagai sahabat.
Alina pernah melihat bagaimana Bagas dan Dewa terlibat dalam percakapan serius yang memperlihatkan sisi berbeda dari tunangannya yang terbiasa nyeleneh dan gesrek. Jika sudah seperti itu, Dewa tampak sangat dewasa dan membuat Alina jatuh cinta lagi dengan tunangannya.
Bagi Alina, kehidupannya bersama keluarga Hadiyanto dan Eyang Daud yang semakin dekat, sudah sangat sempurna. Melihat eyang Daud makin hari makin sehat hingga akhirnya kankernya dinyatakan sembuh, merupakan suatu berkah tersendiri bagi Alina dan Dewa.
Mengetahui eyang Alina mendapatkan remisi dari kankernya, Bagas dan Safira berinisiatif untuk mengadakan syukuran sederhana. Mereka memberikan sumbangan kepada anak yatim dan panti jompo. Mereka pun mengadakan syukuran di rumah Grogol Petamburan dengan mengundang tetangga dalam acara pengajian sebagai ucapan syukur sehatnya eyang Daud.
Alina sekarang lebih banyak memantapkan hatinya dan mempersiapkan mental untuk acara pernikahan mereka di bulan Februari. Keduanya pun sudah mempersiapkan semua berkas dan susunan acara yang akan dilaksanakan besok.
***
"Seserahan nya mau ditambah lagi nggak Al?" tanya Safira menjelang acara pernikahan Dewa dan Alina.
__ADS_1
"Yang kemarin saja masih terbungkus rapih, Ma" senyum Alina. Gadis itu sudah mengganti panggilan Safira menjadi mama.
"Apa bungkusnya saja yang diganti ya Al..." gumam Safira. "Tapi Al, kenapa seserahan pas lamaran kemarin tidak kamu buka? Harusnya kamu pakai dong !"
"Ma, pemborosan. Mama sudah habis berapa kemarin coba? Alina tahu mama papa punya uang, mas Dewa punya uang, tapi nggak harus dibuang-buang buat barang yang Alina malah nggak pakai setiap hari." Alina memegang tangan Safira. "Masa Alina ngajar pakai tas bottega Veneta yang harganya berkali lipat dari gaji Alina?"
"Tapi kan tahu kamu tunangannya siapa..."
"Ma, Alina matur nuwun banget sudah mendapatkan seserahan yang aduhai, tapi sampun Ma. Uangnya bisa buat yang lain. Lagipula kita kan sudah janji ada acara girls day out jadi uangnya buat itu aja besok Ma..." bujuk Alina yang tahu Safira sangat ingin memanjakan dirinya tapi Alina tahu diri bahwa tidak sepatutnya dia ngelunjak.
"Gitu ya Al?" tanya Safira.
"Iya, mama" senyum Alina.
Akhirnya soal seserahan diputuskan barang-barang saat lamaran dibungkus dan setting ulang menjadi yang cantik sehingga tidak terlihat sudah pernah digunakan.
***
Acara Wedding Day
Dewa tampak mondar mandir di dalam kamarnya hotelnya dengan ditemani Arkananta, Valentino dan Shinichi yang bela-belain datang demi melihat playboy insyaf karena taubat nasuha, akhirnya menikah.
"Aku penasaran bagaimana wajah Jeng Alina pakai kebaya dan paes ..." gumam Dewa.
"Sudah pasti manglingi, Wa. Sudah dong ... Nanti elu pingsan gara-gara bapusing macam gasingan begitu ! Ngalahin aibnya arca patung nanti" kekeh Valentino.
"Lha gue pingsan gara-gara beskap ... " elak Arkananta.
Suara ketukan pintu terdengar dan Valentino membukanya. "Apa Radyta ?"
"Yuk. Udah pada siap." Radyta Yung tersenyum ke arah Dewa. "Ternyata mantan playboy bisa gugup juga? Macam hendak digantung ke guillotine..."
"First of all, guillotine itu pancung bukan gantung. Second of all, apa kamu sudah melihat Jeng Alina ?" tanya Dewa ke Radyta.
"Kok ya sempat koreksi sih?" gumam Radyta. "Jawaban yang kedua... Nanti elu lihat sendiri Wa. "
Dewa semakin deg-degan membayangkan bagaimana calon istrinya dandanannya seperti apa. Duh, semoga aku tidak pingsan saat melihat jeng Alina. Semoga tidak salah baca ijab qobul... Semoga...
__ADS_1
Dewa nyaris tersungkur saat tersandung karpet tapi untungnya Shinichi dan Radyta sigap memegang tangannya.
"Jangan melamun Cumiii !" omel Shinichi. "Apa jadinya mau malam pertama malah hidung lu bengep !"
"Elu kok jahat banget sih doain hidung gue bengep..." sungut Dewa sebal.
"Sudah duduk disana. Tuh bokap lu sudah senewen aja lihatin elu !" bisik Radyta.
Dewa pun duduk di kursi depan meja ijab dimana penghulu dan wali hakim sudah siap karena Alina tidak memiliki ayah kandung ataupun paman kandung sedangkan Eyang Daud adalah eyang angkat. Dalam hukum Islam, Bahwa Keabsahan wali nikah bagi anak angkat adalah tetap berada pada wali nasabnya jika masih diketahui keberadaannya dan tidak dapat digantikan oleh siapapun terkecuali wali nasab tersebut tidak diketahui maka wali nikahnya dapat digantikan oleh wali hakim atau penghulu.
"Kamu kok bisa kesandung?" tanya Bagas yang duduk bersama dengan Hoshi dan Bima.
"Karpet nya yang salah... Kenapa juga gelembung begitu... " jawab Dewa asal membuat Eyang Daud yang duduk di kursi saksi pengantin wanita bersama dengan Parjo tertawa kecil. Alina memang meminta Eyang Daud dan Parjo sebagai saksi dari pihaknya karena sejak SMP, dia diasuh oleh mereka berdua.
"Kamu tuh macam Aizen deh, sukanya bikin alasan nggak masuk akal !" timpal Hoshi.
"Lha aku yang ngajarin" cengir Dewa.
Hoshi menggelengkan kepalanya gemas dengan keponakannya.
Tak lama terdengar suara riuh rendah, pertanda calon pengantin wanita masuk ke dalam ballroom yang dipakai untuk ijab qobul.
Dewa ingin menoleh tapi tatapan tajam Bagas membuatnya harus bersabar. Dan tak lama, harum melati dan parfum yang sangat dihapalnya pun tercium olehnya. Dewa melirik melihat gadis pujaannya duduk mengenakan kebaya bewarna putih.
Pria itu menengok arah Alina dan matanya membulat sempurna. "Jeng... Alina... "
"Assalamualaikum mas Dewa...." sapa Alina.
Dewa tidak bisa berword-word karena terkesima melihat cantiknya wajah Alina.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️