My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Jaga Nama Kamu


__ADS_3

Restauran Seafood


"Jeng Alina... Ingat Zara kan ?" tanya Dewa.


"Zara pacarnya Pramudya? Kenapa mas?"


"Habis kecelakaan. Tadi pagi aku besuk ke rumah sakit sekalian bawakan sarapan buat Pram dan ibunya Martina, yang juga jadi korban kecelakaan. Besok mau ikut besuk nggak pas sore hari?" Dewa menatap Alina serius.


"Innalilahi... Tapi Zara dan Martina nggak papa kan?" Alina tampak cemas mendengar berita gadis yang jago main piano itu.


"Martina patah kaki tapi Alhamdulillah semua selamat..."


"Yang penting itu mas. Besok kita besuk mas. Kasihan Zara..."


"Oke."


( Kisah Zara dan Pramudya ada novelnya sendiri ya dengan tajuk Zara Untuk Pramudya )


***


Hari-hari pun berganti dan hubungan Ragil dengan Chika juga semakin dekat hingga menimbulkan rumor dan desas desus di kantor Kebon Jeruk. Hingga rumor itu pun terdengar di telinga Dewa serta Bagas.


Pagi ini seperti biasa Ragil datang pagi-pagi untuk berangkat bersama Dewa dan Lucky ke kantor namun ada yang berbeda. Ragil diinterogasi oleh Dewa dan Bagas di meja makan.


"Kamu pacaran dengan Chika?" tanya Bagas.


"Chika itu teller pindahan dari Kemayoran kan?" sambung Dewa.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan ?"


"Yakin kamu sama Chika? Bukan buat nutupin kamu sebenarnya belok?" ucap Dewa asal yang langsung mendapatkan keplakan dari Bagas da. Safira.


"Maaf pak Bagas, nanti kami terlambat kantor...." elak Ragil karena tidak mau urusan pribadinya sampai kemana-mana.


"Gil, saya tidak melarang kamu berhubungan dengan Chika tapi kalian berdua harus profesional. Jangan sampai ada perasaan pribadi main disitu jika Chika melakukan kesalahan jadi tidak ada rasa mentang-mentang dia pacar kamu jadi menggampangkan" ucap Bagas tegas.


"Saya tahu batasannya pak Bagas, begitu juga Chika. Kami sangat profesional selama masih jam kerja dan itu sudah menjadi perjanjian kami..." jawab Ragil.

__ADS_1


"Bagus. Saya tidak mau ada berita miring soal kamu, Gil. Selama ini kamu dikenal sebagai pegawai yang memiliki etos kerja bagus. Jadi jangan membuat nama kamu jadi jatuh..."


"Insyaallah tidak pak. Karena tidak mudah saya mendapatkan posisi sekarang ini dan saya tidak mau merusaknya."


Bagas menatap tajam ke asisten putranya. "Ingat itu Gil. Kamu susah payah merangkak tapi kamu bisa dengan sekejap mata menghancurkan pada saat kamu berada di puncak. Saya tidak mau melihat itu Gil. Satu lagi, fitnah pasti akan beredaran akibar rasa iri dengki. Komunikasi kalian berdua itu sangat penting, macam saya dan Safira atau Dewa dan Alina. Bukan hal yang mudah tapi kamu tahu kan bagaimana saya dan Dewa bersikap dengan pasangan kami."


Ragil mengangguk. "Iya pak."


***


"Kamu tahu, aku mendapatkan rumor bahwa kamu dan Chika melakukan check in di hotel area Senayan malam Minggu kemarin" ucap Dewa saat mereka semua sudah berada dalam mobil merah Kesayangan tunangannya Alina tersebut.


"Check in? Hotel di daerah Senayan? Astaghfirullah... Saya tidak macam bapak dulu... Addduuuhhh !" Ragil memegang belakang kepalanya yang terkena pukulan agenda Dewa.


"Jangan ungkit - ungkit kalau tidak mau gajimu aku potong 80% buat aku sumbang ke anak yatim !" hardik Dewa sebal. "Aku tahu itu Orgil ! Malam Minggu kemarin kan kita pergi ke acara perusahaan di Hotel Mulia. Mungkin ada yang melihat kamu disana jadi menganggap kamu check in bersama Chika."


"Chika malam Minggu kemarin pergi bersama dengan kedua orangtuanya ke acara author award yang diadakan oleh k*mp4s - G****dia. Kan ibunya mendapatkan award live achievement karena karyanya menyumbang literasi ke berbagai generasi... " ucap Ragil.


"Justru karena itu Gil, makanya Bokap bilang elu kudu hati-hati soalnya ternyata yang suka sama elu banyak."


"Masa sih pak?" gumam Ragil yang memang selama ini malas memikirkan asmara karena lebih fokus dalam pekerjaannya ditambah Bossnya sering seenaknya sendiri. Baru saat dirinya bertemu Chika, Ragil merasakan apa yang dirasakan Dewa ke Alina.


"Benar mas Ragil, yang naksir anda tuh banyak !" timpal Lucky, sopir Dewa. "Bahkan mereka suka tanya-tanya sama saya. Makanan favorit mas Ragil apa, parfum favoritnya apa..."


"Terus lu jawab apa Ky?" tanya Dewa penasaran.


"Yaaa... Mas Ragil itu sukanya beling macam kuda lumping karena ikut aliran debus. Kalau parfum, minyak nyong-nyong... Addduuuhhh !" Giliran Lucky yang kena keplak Ragil.


"Sembarangan Kampret !" amuk Ragil sedangkan Dewa sudah tertawa terbahak-bahak karena sopirnya sama saja kacaunya dengan dirinya.


"Sengaja saya bilang begitu mas Ragil... Biar nggak rusuhin saya terus" cengir Lucky tanpa dosa.


***


Ragil duduk di kursinya sambil memikirkan siapa yang mengirimkan fitnah tentang dirinya dan bukan tidak mungkin akan semakin meningkat. Aku akan berlagak tidak tahu saja sampai mendapatkan bukti siapa orang itu.


Ragil pun kembali serius bekerja hingga sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Wajah pria itu tampak bingung karena Pramudya Hadiyanto menghubungi dirinya. Ragil baru ngeh kalau Dewa sedang ada pertemuan dengan tamu dari sebuah perusahaan yang hendak mengajukan kredit di bank nya.

__ADS_1


"Pak Pramudya..." sapa Ragil.


"Ragil. Dimana Dewa?" tanya Pramudya panik.


"Pak Dewa sedang ada tamu. Bagaimana pak?"


"Gil, tolong nanti kalau Dewa sudah selesai, ke PRC Hospital ya !"


"Ada apa pak?" Tak ayal Ragil pun ikutan panik karena memikirkan Oma Angela, salah satu Oma Dewa dari keluarga Hadiyanto.


"Zara ditabrak seseorang dan Nenek Aisyah meninggal dunia..."


"Innalilahi wa innailaihi Raji'un... Baik pak. Saya akan sampaikan ke pak Dewa..." ucap Ragil. Ya Allah, kekasihnya pak Pram kok kena terus sih?


***


Dewa dan Ragil bergegas pergi ke PRC Hospital usai menerima tamu. Kepergian mereka yang tergesa-gesa, membuat para pegawai Bank Arta Jaya tampak bingung melihat boss dan asistennya pergi seperti itu.


"Pacarmu kemana itu Chika?" ejek Vina, salah satu rekan teller Chika.


"Mana aku tahu. Kalau dengan pak Dewa, pasti ada urusan pekerjaan" jawab Chika sambil serius menghitung uang yang disetorkan oleh seorang nasabah.


"Masa kamu yang pacarnya nggak tahu..." sindir Vina lagi.


"Tidak semua aku harus tahu dan tidak semua pun kamu harus tahu. Lagipula, kata pepatah, curiosity will kill you. Jadi lebih baik tahu sedikit aman sentosa daripada tahu banyak malah nyawa terancam" jawab Chika santai. "Belajar lah untuk menahan diri kepo akan hal-hal yang bukan ranahnya."


Vina menatap sebal ke Chika karena gadis itu mampu menarik perhatian Ragil Wibisono yang sudah ditaksirnya sejak masuk ke bank Arta Jaya. Namun segala usaha untuk membuat asisten Dewa Hadiyanto itu tidak ada yang berhasil. Tapi gadis ini, gadis cupu yang tampak bloon ini, bisa membuat Ragil tertarik.


Apa sih bagusnya seorang Chika Felisha? Hanya gadis sok polos yang tidak punya skill apapun bisa membuat mas Ragil tertarik ? Mata hitam Vina memandang Chika yang sedang melayani nasabah, dengan penuh kebencian.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ♥️🙂♥️


__ADS_2