My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Acara Lamaran Pt 1


__ADS_3

Kediaman Eyang Daud di Grogol Petamburan Jakarta


Dewa tidak bisa berkata apa-apa karena keluarganya sudah mempersiapkan dengan super niat, super heboh dan super sederhana. Kenapa sederhana? Acara lamaran dan pertunangan dirinya dan Alina lebih menjurus ke pesta merakyat, hiasan juga tidak over tapi sangat pas semuanya.


Bahkan catering dari nyokap sudah dibenerin jadi banyak porsinya. Dewa melirik ke arah kedua orangtuanya yang sudah mengobrol dengan Eyang Daud.


"Maafkan keluarga kami, pak Daud. Memang pada awalnya kami ingin suasana santai sesuai dengan permintaan anak-anak tapi ternyata rencana tinggal rencana yang jadinya begini lah jika rombongan sirkus punya gawe" senyum Bagas ke Daud yang hanya tertawa.


"Tidak apa-apa pak Bagas... Justru saya semakin tambah sehat melihat ramainya yang menyenangkan ini..." senyum eyang Daud.


"Oh? Pak Daud sakit apa?" tanya Safira concern melihat eyangnya Alina memakai kursi roda.


"Saya divonis kanker kulit stadium tiga, Bu Safira. Ini masih proses pengobatan dan sudah diangkat kelenjar getah bening saya. Dan saya masih rutin melakukan radioterapi serta minum obat rutin. Alhamdulillah pemeriksaan terakhir sudah mulai menghilang sel kankernya ... Mungjin karena saya senang bertemu dengan nak Dewa dan ayem Alina mendapatkan pasangan yang baik jadi saya tidak kepikiran..." senyum Eyang Daud.


"Alhamdulillah... Jika pak Daud membutuhkan sesuatu, bilang saja sama Dewa nanti biar dibantu oleh kami" jawab Safira yang tahu Daud pasti sungkan jika meminta tolong langsung ke dirinya atau Bagas.


"Nyuwun Sewu, Oom Bagas, Tante Safira, Eyang, acara sudah mau dimulai..." potong Valentino.


"Ah iya... Yuk dimulai. Tuh si onoh udah cemberut" kekeh Bagas ke arah Dewa yang manyun meskipun digodain oleh Remy dan Radyta.


***


Acara pembukaan lamaran justru diwakili oleh Bimasena Baskara sebagai perwakilan keluarga Hadiyanto.

__ADS_1


"Sebenarnya pak Daud, saya ini ditunjuk secara dadakan jadi tukang ndodog lawang ( ketuk pintu ) atau nembung lah yang paling dipahami wong ga semuanya wong Jowo. Tuh lihat, istrinya Valet Par.. Eh Valentino malah bule..." ucap Bima yang mendapatkan deheman keras dari Hoshi dan Bara.


"Ehem... Kembali ke pakem. Dados ngaten, keponakan Kulo, Dewananda Kim Pratomo Hadiyanto, pun mboten sabar badhe ngikat mbak Alina Ratnadewi, putunipun pak Daud ( jadi begini, keponakan saya Dewananda Kim Pratomo Hadiyanto, sudah tidak sabar ingin mengikat mbak Alina Ratnadewi, cucu pak Daud ). Memang sih rencananya cuma keluarga Hadiyanto inti saja, tapi tidak semudah itu Férguso menyembunyikan kabar bahagia seperti ini. Thanks Ragil buat info alamat Pak Daud..." Bima nyengir ke Ragil yang langsung menurunkan tubuhnya dari kursi demi tidak terlihat Dewa.


Duh Pak Bima nggoleki molo tenan... Habis nanti aku dihajar pak Dewa ... Ragil menutup wajahnya dengan tangannya.


Dewa menoleh tajam ke arah asistennya dan sudah memikirkan berbagai macam hukuman untuk Ragil.


"Intinya di hari yang cerah ini, Dewa serius dalam berhubungan dengan Alina ... Meskipun keponakan saya satu itu dulu mbelingnya minta ampun, tapi saya bisa jamin dengan garansi sunat lagi sama ibunya, kalau Dewa sudah insyaf dan tetap Istiqomah dalam menjalankan taubat nasuha nya. Alina pasti tahu kan bagaimana Dewa yang sekarang..." senyum Bima. "Monggo pak Daud, memberikan jawaban atas keinginan Dewa untuk melamar Alina hari ini."


"Matur nuwun pak Bima. Benar kata Dewa, keluarga besarnya sangat kacau macam rombongan sirkus..." senyum Eyang Daud yang disambut tawa keluarga klan Pratomo.


"Kalau itu tidak perlu diragukan pak Daud" timpal Bima jumawa.


"Tapi makin sering nak Dewa ke rumah, pedekate dengan Alina dan kami, saya melihat dia sangat care pada kami semua. Bahkan kompak dengan Parjo soal pertanaman dan menghormati siapa saja tanpa melihat status sosialnya. Saya suka dengan sifat dan karakter nak Dewa hingga saya merasa lega bisa melepaskan Alina ke pria yang terbaik. Bagi saya, jika seorang anak laki-laki sangat mencintai ibunya, insyaallah dia akan memperlakukan istrinya dengan baik dan penuh cinta sebab menyakiti istri sama saja menyakiti ibunya ..." tutur Daud dengan wajah serius.


Semua orang di sana tampak setuju dengan ucapan eyang Daud terutama klan Pratomo yang memang sangat dididik untuk menghormati ibu-ibu mereka.


"Kalau begitu, tanpa lama-lama takut es batu untuk cendol dan degan mencair, saya panggil Alina keluar." Daud memberikan kode ke Valentino yang memanggil Katya yang bersama dengan Alina di kamar. Tak lama keduanya keluar dan Dewa melongo melihat gadisnya mengenakan gaun putih yang dia belikan untuk acara lamaran.


Alina tampak sumringah saat melihat keluarga Dewa yang rata-rata sudah dia kenal sebelumnya meskipun yang generasi tua belum semuanya hapal. Gadis itu melihat Dewa yang tampak terkejut melihat nya. Apakah dandanan aku terlalu berlebihan?!


Alina duduk di sebelah Eyang Daud yang menggenggam tangan cucunya lembut.

__ADS_1


"Alina sayang, ini nak Dewa bersama dengan keluarga besarnya datang untuk melamar kamu, nduk. Bagaimana jawaban kamu?" tanya eyang Daud lembut.


"Ehem... Assalamualaikum warahmatullahi wabaraktuh..." salam Alina.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabaraktuh..." balas semua orang disana.


"Sebelumnya Alina merasa takjub karena hampir semua keluarga Mas Dewa datang ke rumah kami yang sederhana ini karena pada awalnya, Mas Dewa dan Saya ingin acaranya sangat simple tapi benar kata mas Dewa... Jika keluarga besarnya bakalan heboh kalau tahu ... Sejujurnya saya sangat tersanjung dengan diadakannya acara ramai seperti ini... Matur nuwun mas Arkananta dan mas Valentino yang sudah susah payah membuat acara semarak ini." Alina mengangguk hormat ke kedua pria itu yang dibalas anggukan juga.


"Mas Dewa, Alina sangat tersanjung saat mas Dewa memilih Alina menjadi pasanganmu... Sejujurnya Alina tidak menyangka mas Dewa akan mau dengan gadis yatim piatu yang tinggal bersama eyangnya dan hanya guru TK... Tapi kembali lagi, yang namanya jodoh kita tidak ada yang tahu... Meskipun mas Dewa nembak Alina dengan nyanyi lagu Sheila on Seven..." senyum Alina membuat keluarga disana tertawa.


"Dasar Koplak!" kekeh Bima.


"Jadi jawaban dari pertanyaan dan permintaan mas Dewa apakah Alina bersedia dilamar menjadi calon istri mas Dewa... Jawabannya insyaallah Alina siap menjadi pasangan Mas Dewa, menjadi istri, menjadi sahabat, menjadi ibu dari anak-anak kita nanti..." jawab Alina dengan wajah merah padam membuat Dewa tersenyum lebar.


"Alhamdulillaaaahhhh ..." seru Dewa heboh.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2