My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Makan Malam


__ADS_3

Jakarta, Indonesia


Alina merasa terhormat saat keluarga Hadiyanto mengundangnya untuk makan malam. Meskipun bukan malam Minggu, tapi Alina tetap memenuhinya setelah dijemput Dewa dari kost-kostan nya.


Alina tampil cantik dengan gaun bewarna pink dengan motif polkadot putih. Meskipun sederhana, tapi tetap memperlihatkan kecantikan alami gadis itu. Dewa pun tampak senang melihat dandanan Alina yang tidak berlebihan, semuanya serba chich dan pas.


"Ayune Bidadari Dewa Hadiyanto..." goda Dewa saat menjemput Alina di depan pagar kostnya.


"Masa mau ketemu Oom Bagas dan Tante Safira dandan nya berantakan" jawab Alina manis.


"Ah benar juga. Aku mau cium pipi Jeng Alina tapi aku belum mandi ... Nanti ya ?" cengir Dewa membuat wajah ayu Alina memerah.


Selama mereka pacaran, Dewa belum pernah menciumnya sama sekali kecuali punggung tangannya dan paling banter pegangan tangan. Terkadang Alina bertanya-tanya, kenapa Dewa tidak mau menciumnya.


"Ayo masuk..." ajak Dewa yang membuka pintu penumpang mobil Teslanya.


Alina pun masuk ke dalam mobil listrik itu dan Dewa berjalan memutari lalu masuk ke kursi pengemudi. Tak lama, mobil itu pergi meninggalkan kost-kostan Alina.


***


Di Dalam Mobil Dewa


"Mas Dewa..." panggil Alina.


"Ya?" jawab Dewa.


"Aku tanya boleh? Tapi jangan sampai nabrak lagi..."


"Mau tanya apa?" Dewa mengubah menjadi setir autopilot di mobil Teslanya.


"Mas Dewa, kenapa tidak pernah mencium aku?" tanya Alina dengan wajah penasaran.


Dewa melongo. Iya ya , kenapa gue belum pernah cium Alina ? Paling cuma punggung tangannya saja... Apa ada yang salah?


"Aku juga nggak tahu Jeng. Bukan aku tidak ingin tapi mungkin... Lebih menghormati kamu, Jeng. Sebab... Dulu... Maaf sayang tapi aku lebih suka jujur sama kamu... Begitu ciuman, pasti endingnya masuk kamar hotel... Dan diatas tempat tidur ... Atau sofa... Atau kursi belakang mobil..."


Alina menatap Dewa dengan wajah memucat. "Jadi mas Dewa takut... Kalau kebablasan...?" bisik gadis itu.


"Satu sisi Jeng, aku ingin mencium kamu tapi sisi lain, aku sangat menghormati kamu jadi aku menunggu jika waktunya pas..."

__ADS_1


CUP !


Dewa terkejut luar biasa ketika Alina berani mencium pipinya. Dalam hatinya dia bersyukur mobil Teslanya sudah diganti ke autopilot ... Kalau tidak bisa nabrak lagi dan habis uangnya buat perbaikan lagi meskipun ada asuransi. Hanya saja nggak lucu dalam seminggu dua mobil harus masuk bengkel?


"Jeng ..." bisik Dewa.


"Terima kasih Mas Dewa..." senyum Alina.


"Terima kasih untuk?"


"Mau jujur sama aku... Jadi aku tahu alasannya. Tapi aku yakin, mas Dewa yang sekarang berbeda jauh dengan mas Dewa yang dulu. Mas Dewa yang sekarang, bisa mengontrol diri dan bisa diandalkan... Maksud aku, bisa diandalkan bahwa tidak akan kebablasan. Dalam cinta pasti ada n@fsu tapi dalam n@fsu belum tentu ada cinta..."


"Aku tuh cinta banget sama kamu Jeng Alina jadi aku sangat menghormati kamu karena kamu adalah bidadari aku, pujaan aku ... " ucap Dewa bersungguh-sungguh dan membuat Alina memegang tangan erat. "Aku hanya bersyukur... Disaat aku taubat, Allah memberikan hadiah yang tidak terhingga. Karena itulah aku tidak mau merusak kamu..."


Tanpa sadar, air mata Alina menitik melihat kesungguhan Dewa yang berbeda jauh saat menembak dirinya dengan lagu Sheila On 7.


"Aku suka mas Dewa yang ini. Bisa diandalkan..."


"Diandalkan apanya?"


"Sikapnya, perilakunya... Dompetnya..." kerling Alina menggoda Dewa.


"Heeeeiiiii... Malah nyasar ke dompet !" protes Dewa dengan wajah seolah marah membuat Alina tertawa.


"Aamiin. Insyaallah... Tolong, tegur aku jika mulai melenceng..."


"Termasuk Julid ke pak Ragil?" tanya Alina.


"Errrr kalau itu, jangan dicegah Jeng Alina. Mood booster aku... " cengir Dewa membuat Alina melengos.


"Kasihan pak Ragil..."


"Sudah resikonya Jeng" senyum Dewa sembari mengembalikan poisis autopilot menjad di bawah kendalinya.


***


Kediaman Keluarga Bagas Hadiyanto


Safira langsung memeluk Alina dan mencium pipi kiri dan kanannya sedangkan ke Bagas, Alina melakukan Salim. Dewa pun melakukan hal yang sama, Salim ke ayahnya dan mencium pipi ke ibunya.

__ADS_1


"Kamu mandi deh Wa, baru kita makan malam bersama" perintah Bagas.


"Oke Pa... Jeng Alina, aku mandi dulu..." pamit Dewa yang dijawab oleh Alina "Yang bersih dan wangi yaaa..."


Bagas dan Safira terbahak mendengar ucapan Alina yang mirip Zinnia saat menyuruh Arsya mandi.


"Yuk duduk di sofa" ajak Safira sambil merangkul pinggang Alina.


Ketiganya pun duduk bersama dan Alina bisa melihat ada koper disana.


"Maaf, Oom Bagas mau pergi?" tanya Alina.


"Iya. Oom mau ke London dulu baru ke New York. Oh Alina, Minggu ini sepupu Dewa yang di New York mau datang ke Jakarta. Jadi nanti kalau ada acara kumpul-kumpul, kamu ikut saja" jawab Bagas.


"Apakah sepupunya Mas Dewa yang di New York sama hebohnya dengan yang di Jakarta?" tanya Alina.


"Kamu akan melihat nya sendiri, Al. Dan pasti kamu bisa mengimbangi kacaunya mereka kalau kumpul... Bukankah kamu sudah ajaran waktu Arabella ngidam? Anggap saja gini Al, kamu dengan sepupu Dewa sudah heboh begitu, ini ditambah lagi. Gitu saja... " senyum Safira.


Alina tampak tercenung. Wong cuma sedikit saja sudah heboh macam satu RT ... Apa kabar kalau ketambahan orang lagi dari New York. Duh iso gempa bumi tenan ...


Tak lama Dewa pun ikut bergabung dengan anggota keluarganya dengan wajah segar dan harum sabun serta parfum.


"Dah yuk... Kita makan malam. Aku sudah lapar..." ajak Dewa.


"Yuk..." Bagas pun mengulurkan tangannya yang disambut oleh Safira. Keduanya pun berjalan menuju ruang makan.


"Dah, kamu tidak akan digojlok oleh sepupuku dari New York karena tujuan mereka berbeda..." senyum Dewa sambil merangkul pinggang Alina yang sudah bangun dari duduknya.


"Apa maksud mas Dewa?" tanya Alina bingung.


Dewa hanya menyeringai usil.


Kok perasaan aku tidak enak ya - batin Alina.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2