My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Acara Pesta


__ADS_3

Kediaman Keluarga Hamid


"Cewek itu memang nggak punya manner ya mas !" gerutu Alina sambil memegang lengan Dewa. "Aku bagaikan Casper yang tidak terlihat !"


Dewa tertawa mendengar omelan tunangannya. "Kamu kalau jadi Casper, gundul dong macam Upin Ipin..."


"Idiiihhhh... Ya sudah Wendy saja, temannya Casper."


"Wendy itu penyihir berbaju merah, sedangkan kamu bergaun hitam..." Dewa mencium pelipis Alina. "Sudah ah ! Bodo amat soal nenek lampir. Kita cari makan aja deh !"


***


"Kira-kira si angin kentut itu mau pakai beskap atau nggak ya?" tanya Dewa ke Valentino saat mereka berempat menikmati hidangan.


"Aku rasa si angin muson kagak pakai beskap. Apa mau model Arka yang pengsan ? Aku tidak mau gotong-gotong badan Segede kebo !" sungut Valentino membuat Alina dan Katya cekikikan.


"Woi valet parking, bini lu lagi hamidun ! Tar kalau anak lu bodinya sama kayak angin sepoi-sepoi gedenya gimana ? Kuala lumpur eh... Kuwalat lu sama si Bay-bay..." tegur Dewa.


"Waduuuhhh... yang penting ganteng, pinter dan mewarisi gen Reeves." Valentino mengusap perut Katya.


"Egois lu. Gen D'Angelo nggak kamu masukin?" ejek Dewa.


"Ikut sumbangsih dong ! Good looking" gelak Katya. "Kan bisa blasteran Spanyol juga."


"Yang penting nanti lahiran, Kay dan debaynya selamat dan sehat tanpa ada aneh-aneh..." ucap Alina lembut.


"Aamiin. Itu yang benar Jeng Alina..." sahut Dewa.


"So, kira-kira acaranya mas Bayu bakalan mewah ya?" tanya Katya.


"Iyalah. Secara cucu pertama Oma Kaia dan Opa Rhett yang menikah. Kan cucu nya Bayu, Raveena dan Radeva. Tapi Mas Bayu cucu laki-laki pertama, ditambah anak tunggal Oom Abi dan Tante Gandari, Wis... Kan Ajeng tidak ada orang tuanya jadi semua Oom Abi yang tanggung" jawab Valentino.


"Mas Dewa, kok aku jadi deg-degan ke New York nya..." bisik Alina. "Kalau aku bikin salah, gimana?"


"Tenang saja Jeng Alina. Kamu cukup menikmati kekacauan di keluarga aku. Wis anteng, menep, ngakak. Cukup sekian dan terimakasih... Addduuuhhh !" Dewa mengelus bahunya yang kena keplak Alina.


Valentino dan Katya tertawa melihat kerusuhan pasangan di hadapannya.


"Bro !" sebuah suara membuat keempatnya menoleh.


"Eh? Lho Pram? Sama siapa? Kirain kagak mau datang lu !" kekeh Dewa sambil memeluk Pramudya. "Wah, pacarmu cantik banget. Halo, aku Dewa Hadiyanto dan ini tunangan aku, Alina Ratnadewi." Dewa mengulurkan tangannya yang disambut Zara.


"Zara Aulia" jawab Zara lembut.


"Senang bertemu dengan mu Zara" balas Dewa.


"Halo, aku Alina. Senang bertemu denganmu" senyum Alina sambil bersalaman dengan Zara.

__ADS_1


"Senang bertemu denganmu, Alina" balas Zara.


"Halo Al... Kapan resminya?" senyum Pramudya sambil sedikit memeluk Alina dan mencium pipi nya.


"Insyaallah tahun depan, Pram. Jadwal nikah di keluarga mas Dewa sudah padat jadi kami ngantri lah" jawab Alina sambil tertawa.


"Lho Valentino?" Pramudya baru sadar pria yang mengobrol dengan Dewa adalah sepupu iparnya.


"Lha si Pram kacau juga. Kagak lihat!" kekeh Valentino Reeves sambil berpelukan dengan Pramudya. "Halo Zara..."


Zara sekali lagi bersalaman dengan keluarga Pramudya.


"Perkenalkan ini istriku Katya" ucap Valentino sambil merangkul pinggang wanita bule bermata biru itu.


"Katya D'Angelo Reeves. Senang bertemu dengan mu Zara" sapa Katya sambil bersalaman dengan Zara.


"Senang bertemu denganmu Katya. Aku kira tidak bisa berbahasa Indonesia..." ucap Zara sedikit malu membuat semua orang tertawa.


"Katya SMA nya di Jakarta, Zara jadi bisa lah bahasa Indonesia. Halo, Katya... Bagaimana kehamilannya?" sapa Pramudya sambil mencium pipi Katya yang memang sedang hamil besar.


"Alhamdulillah nggak nyusahin. Ini anak cool banget" senyum Katya.


"Berapa bulan?" tanya Zara.


"Alhamdulillah jalan tujuh bulan. Minggu kemarin baru saja kami adakan acara nujuh bulan. Kok kamu nggak ajak Zara sih kemarin?" tegur Katya karena saat itu Pramudya datang ke acara keluarga Reeves.


"Eh iya ding..." senyum Katya.


"So, kabarnya Tamara mau buat surprise..." celetuk Valentino.


"Tapi kayaknya bakalan bikin rusuh deh... Aku tidak pernah suka cewek itu !" gerutu Dewa. "Dia juga mau jebak kamu kan Pram?"


Pramudya mengangguk namun membuat Zara terkejut. Jadi itu alasannya.


"Hampir saja aku dijebak sama dia. Untung saat itulah Genta datang menyelamatkan aku..." jawab Pramudya.


"Genta bawa Pram yang mabok ke rumah dan disana dibantu mama menghilangkan efek obat perang*sangnya" lanjut Dewa. "Benar-benar biatch!"


"Astaghfirullah...." semua orang menoleh ke arah Zara yang tampak memucat. "Teganya sama kamu mas..."


"Itu saat aku belum bertemu kamu, Zara. Makanya aku akan melindungi kamu dari dia!" ucap Pramudya tegas.


"Kamu tenang saja Zara, Pram itu bisa dipegang ucapannya. Bukan karena aku sepupunya tapi karena memang Pramudya begitu orangnya" senyum Dewa. "Hanya kemarin saja dia lengah."


Alina menghampiri Zara dan memegang tangannya. "Kamu kan pacar Pram, dan sudah pasti akan dilindungi olehnya."


Zara mengangguk ke arah wanita yang mengenakan gaun hitam simple tapi terlihat cantik dan anggun. "Terima kasih Alina."

__ADS_1


Suara pembawa acara membuat ketiga pasangan itu menoleh.


"Mari sekarang kita lakukan acara tiup lilin dan potong kue dari wanita cantik yang sedang menikmati harinya.. Nona Tamara, silahkan..."


Pramudya memeluk pinggang Zara seolah tidak mau jauh-jauh darinya dan gadis itu merasa ini adalah salah satu cara pria itu melindunginya dari tatapan banyak orang. Kode kepemilikan.


Tamara memotong kuenya dan memberikan pada ayahnya yang langsung mencium pipinya. Gadis itu memotong kuenya dan meletakkan diatas piring lalu melihat ke arah Pramudya yang tampak sibuk sendiri dengan Zara.


Amarah nya pun memuncak tapi Tamara berusaha untuk tetap bersikap anggun. Gadis itu lalu memberikan pada teman-temannya karena dirinya tahu jika memanggil Pramudya, pria itu pasti menolaknya.


Gadis itu tersenyum smirk lalu mengambil mikrofon yang dipegang MC. "Saya mau hadiah saya adalah mendengar cewek yang dibawa mas Pramudya menyanyi kan lagu untuk saya !"


Keluarga Hadiyanto dan Reeves terkejut mendengar ucapan tanpa malu Tamara itu.


"Cewek? Apa nggak ada kata-kata yang lebih sopan?" omel Valentino sebal. Dirinya memang baru kali ini bertemu Zara tapi seperti ayahnya, Hoshi Reeves, Valentino bisa menilai seseorang itu seperti apa.


"Dengan memainkan piano ! Kalau memang dia cewek kesayangan mas Pramudya, harusnya selevel lah ! Mas Pramudya bisa main piano lho !" lanjut Tamara. "Aku juga bisa main piano. Kalau kamu nggak bisa, berarti kamu tidak pantas buat mas Pramudya."


"Memangnya kamu..." Pramudya sudah emosi tapi Zara menahannya.


"Tidak apa-apa. Mas Pram tahu lagunya Bruno Mars yang judulnya It will rain?" bisik Zara.


"Tahu."


"Bisa nyanyinya?"


Pramudya menatap Zara bingung tapi setelahnya, dia tahu, kekasih kontraknya masih menyimpan banyak rahasia.


"Yuk, aku antar ke grand piano" seringai Pramudya membuat Dewa dan Valentino terkejut.


"Pram !" Dewa memanggil sepupunya sebelum ke tempat piano itu berada.


"Tenang saja." Pramudya menggandeng tangan Zara lalu berjalan ke grand piano itu.


"Mas Dewa... Apakah tidak apa-apa mereka dikerjain Tamara ?" tanya Alina cemas.


"Kita lihat saja" jawab Dewa sama khawatir nya dengan Alina.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu

__ADS_1


__ADS_2