My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Ayat Kursi


__ADS_3

Kediaman Eyang Daud di Grogol Petamburan Jakarta


Ragil tiba di kediaman calon eyang mertua Dewa dengan wajah ditekuk sepuluh. Bagaimana tidak, ini tuh malam Minggu di Jakarta... Bayangkan saja bagaimana super duper macetosnya ! Mau mobil elu harga milyaran tapi tetap saja menjengkolkan kalau macet ! Lagian kenapa sih Boss akhlakless itu tadi kagak bareng sama bonyoknya ?


"Nape lu Gil?" tanya Dewa polos saat asistennya berjalan menghampiri dirinya dan Alina di teras setelah mobil Lexus milik Bagas diparkirkan di teras rumah.


"Bapak ngerjain saya ya?" jawab Ragil sambil manyun.


"Siapa ngerjain elu? Gue itu masih mau ngobrol sama calon bini gue sedangkan bokap nyokap gue udah capek. Wajar dong kalau mereka pulang duluan..." ujar Dewa santuy membuat Alina menggelengkan kepalanya karena tahu tunangannya super jahil.


"Bapak mau pulang nggak?" tanya Ragil pelan daripada Bossnya makin kesini makin Kesana apalagi habis diterima lamarannya, makin durjana lah ia.


"Pulanglah... Bisa digrebek hansip kalau aku nginap si.... Eh tapi pasti langsung dinikahkan kan? Jadi kagak usah bawa pasukan sirkus?" seringai Dewa membuat Alina dan Ragil melongo sedangkan Parjo sudah tertawa terbahak-bahak.


"Yassalam pak... Tajuk beritanya bakalan seperti ini 'Pewaris Bank Arta Jaya terpaksa menikah kilat karena digrebek warga menginap di rumah kekasihnya'. Skandal pak ! Skandal !" ucap Ragil dengan nada agak panik.


"Eh seru tahu !" eyel Dewa.


"Kagak seru paaakkk ! Nona Alina, tolong kasih tahu bapak tukang ngadi-ngadi ini... Jangan seenaknya..." pinta Ragil dengan muka memelas.


"Elu tuh ya ! Mentang-mentang gue lemah sama calon bini gue, terus elu pakai azas pemanfaatan dan pewadhulan ( pengadu ) biar gue lunak sama elu ! Emangnya gue ayam tulang lunak ?" omel Dewa membuat Alina dan Parjo tertawa macam melihat ketoprak humor.


"Bapak itu bandeng tulang lunak..." ralat Ragil.


"Idiiihhhh !"


"Iki opo tho yaa ( ini apa yaaa )... Kok malah gegeran Ning teras?" kekeh Eyang Daud yang sedari tadi berada di ruang tamu sambil membaca buku biografi Javier Arata tentang kehidupan dan keluarganya yang bobrok.


"Biasa Pak Daud. Pak Dewa kan dendaman orangnya...." adu Ragil.


"Idiiihhhh ! Elu tuh dapat ati masih cari rempelo ! Cari sekutu terus !" ejek Dewa.


"Punya sekutu itu perlu demi menstabilkan tingkat kewarasan saya pak..." balas Ragil ke Bossnya.


"Mas Dewa, mbok Pak Ragil dicariin pacar biar ada yang bisa membuatnya ayem..." pinta Alina.


"Lha? Yang bilang Ragil doyan cewek siapa?! Wong dia tidak jelas ... " jawab Dewa cuek.


"Astaghfirullah Al Adzim..." Ragil hanya bisa istighfar banyak-banyak.


***

__ADS_1


Di Dalam Mobil Lexus Milik Bagas perjalanan ke rumah Keluarga Hadiyanto


"Pak Dewa..." panggil Ragil.


"Yo."


"Bapak kapan nikah rencananya?"


"Tahun depan. Kenapa Gil? Elu mau ngelangkahi gue?" Dewa menoleh ke asistennya yang sedang konsentrasi menyetir.


"Bukan pak. Bapak kan tahu saya masih jomblo" balas Ragil.


"Elu tuh sama ma Hunter dan Doogie, pengawalnya mas angin kumparan" celetuk Dewa.


"Hunter dan Doogie masih mending berdua menghadapi pak Bayu, lha saya sendirian. Kami itu para asisten kebanyakan memilih hidup solo soalnya kalian para boss lebih banyak Membagongkan daripada nggenahnya ( benarnya )" ucap Ragil kalem.


"Kalau boss nya nggak Membagongkan, diragukaj sebagai keturunan keluarga Pratomo, tahu nggak..." balas Dewa.


"Itulah kenapa saya hapal dengan keluarga bapak. Meskipun kalian semua sering kacau macam begini, tapi kami para asisten tahu kalau boss - boss sangat perhatian pada kami."


Dewa menoleh ke Ragil. "Gil, elu kok bikin gue melow sih Gil ? Apakah ini yang disebut hormon bekerja?"


"Entah !" Dewa mengedikkan bahunya.


"Ya Allah Gusti... Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm."


Dewa melotot. "Elu bacain gue ayat kursi ?"


***


Kamar Alina di Kediaman Eyang Daud


Alina menatap semua barang-barang seserahan yang dibawa Dewa dan keluarganya tadi. Gadis itu sampai banyak - banyak istighfar karena semuanya adalah barang branded.


Habis berapa ini mas Dewa dan Tante Safira.


Alina sangat bersyukur mendapatkan calon suami macam Dewa terlepas masa lalunya yang kacau balau macam tawuran Hooligans tapi sekarang sudah menjadi orang yang hidupnya lurus. Ditambah penerimaan tangan terbuka dari Bagas dan Safira ke dirinya, membuat Alina sangatlah tersanjung. Dirinya memang tidak suka kehidupan yang terlalu materialistis dan ternyata itu adalah nilai yang dicari keluarga Dewa.


Meskipun mereka hartanya tujuh turunan tidak habis-habis bahkan semakin kaya, tapi mereka tetap hidup humble dengan aura khas orang kaya. Itu yang nampak di permukaan... Aslinya ... Bobrok total !


Alina lalu mengambil ponselnya dan menghubungi tunangannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum wahai bidadari aku yang ayune rak nguwati ( cantiknya bikin tidak kuat )..." sapa Dewa membuat Alina tertawa.


"Wa'alaikum salam. Mas Dewa sudah sampai rumah?" tanya Alina.


"Sampun Diajeng Alina. Kadis pripun ( ada apa )?"


"Mas, aku mau minta ijin... Mau minta..."


"Kamu mau Hermès atau Morr?"


Alina menggelengkan kepalanya. "Bukan mas, aku mau minta ijin cincinnya aku simpan ya. Cincin mahal banget, takut kalau, amit-amit, hilang atau dicuri, apalagi aku kan pulang sama Yani."


"Perlu aku kasih sopir antar jemput?"


"Nggak usah mas ... Cincin nya nggak aku pakai selama mengajar tapi kalau pergi sama mas Dewa, baru aku pakai. Pareng mboten ( boleh nggak )?" tanya Alina dengan nada takut jika Dewa tersinggung.


"Senyamannya kamu, Jeng. Aku tahu kamu pasti ada ketakutan tersendiri jika cincin itu hilang kan?" jawab Dewa lembut.


"Iya mas. Itu cincin kan sangat berharga untuk aku karena simbol bahwa aku sudah menjadi calon istri mas Dewa. Kalau hilang, duh, rasanya aku bisa pingsan..."


"Ya sudah, gini saja. Cincin yang itu kamu simpan saja di tempat yang aman tapi kamu tetap pakai cincin tunangan yang nilainya lebih kecil dari itu. Bagaimana ?! Biar sebagai bukti kamu sudah tunangan."


"Mas Dewa beli cincin lagi?" seru Alina bingung.


"Eh bukaan, ini Cincin milik Oma buyut ku yang kebetulan di jari nyokap sudah tidak cukup. Jadi pakai saja Jeng. Bukan cincin tunangan Oma Savitri dan Opa Jaehyun tapi cincin yang dibelikan Opa Reza Pratomo."


"Duh mas Dewa, aku jadi tersanjung memakai warisan keluarga..."


"Karena kamu akan menjadi anggota keluarga aku, Jeng jadi kamu berhak memakainya..."


Hati Alina menghangat mendengar ucapan Dewa.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2