My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Bertemu Bocil Kematian


__ADS_3

Hari Jumat.... Jakarta, Indonesia


Alina tampak bingung saat Dewa datang menjemput nya dengan mobil Mazdanya yang sudah beres dari bengkel bertepatan jam makan siang usai jumatan.


"Ada apa Mas Dewa?" tanya Alina yang memang sudah bersiap pulang. Bukannya tidak ada acara pergi berdua?


"Yuk ikutan, kita makan siang sama anak New York..." ajak Dewa. "Besok malam Minggu kita makan lagi, terus begitu sama anak New York."


"Haaahh? Tiap malam aku pergi?" tanya Alina tampak tidak percaya.


"Yaaa kayaknya nggak tiap malam tapi hampir... Yuk !" ajak Dewa. Alina pun membereskan bawaannya dan berpamitan pada semua rekan-rekannya termasuk Yani yang tidak jadi barengan pulang.


Alina dan Dewa pun masuk ke dalam mobil mewah berwarna merah itu lalu keluar halaman sekolah menuju RR's Meal Kuningan Jakarta.


***


RR's Meal Kuningan Jakarta


Dewa menggandeng tangan Alina saat masuk ruang VIP restauran high end milik keluarganya itu. Alina hanya bisa ikut karena baru kali ini dia masuk ke dalam restauran yang dikenal sangat ekslusif dan bisa masuk berdasarkan reservasi.


"Mas, ini restauran mahal kan?" bisik Alina.


"Yup."


"Kita kok bisa main masuk ?" Alina menatap Dewa bingung.


"Aku kan salah satu pemegang sahamnya. So, bukan masalah kan?" cengir Dewa yang memberikan kode kepada pelayan untuk membuka pintu ruang VIP.


Alina masuk bersama Dewa dan matanya melihat dua orang pria bule yang tampan dan seorang gadis Indonesia bersama dengan Radyta Yung dan Remy Giandra.


"Alina, perkenalkan ini Radeva Dewanata dan Devan McCloud, sepupu aku yang tinggal di New York dan sekarang sedang berkamuflase menjadi bocil kematian karena membawa gadis ini, Ajeng Pratiwi, sekretaris mas Bayu aka mas Angin Lisus plus Angin topan bukan anak jalanan..." cengir Dewa membuat Alina melongo.


"Hah? Apaan mas?" Alina menatap Dewa bingung. "Siapa yang angin topan bukan anak jalanan ?"


"Kakak sepupuku, namanya Bayu tapi kan artinya juga angin tho Jeng Alina..."


"Iya tapi kan orang tuanya mas Bayu pasti sudah kasih nama pakai selamatan bubur merah dan putih ! Didoain yang baik-baik. Kok mas Dewa main ganti seenaknya ! Mboten pareng ( tidak boleh - bahasa Jawa halus ) !" Alina mendelik ke arah Dewa yang hanya terpesona dimarahi gadisnya.


Kelima orang yang melihat adegan itu awalnya Terbengong-bengong namun akhirnya tertawa terbahak-bahak.


"Mas Dewa dimarahi Bu Guru !" gelak Devan McCloud.


"Eh?" Wajah Alina langsung memerah karena lupa dirinya tidak hanya berdua dengan Dewa tapi ada para sepupunya.


"Ya ampun. Baru kali ini ada cewek berani marahi COO Bank Arta Jaya..." gelak Radyta Yung.

__ADS_1


Alina memilih menyembunyikan wajahnya di balik punggung Dewa.


***


"So, jadi kamu sekretaris ke seratus mas Bayu? Gimana, gimana... Rasanya punya Boss macam angin kentut ?" tanya Dewa membuat Alina gemas dengan kekasihnya hingga mengeplak bahu pria itu.


"Mas Dewa !" hardik Alina.


"Alina, it's okay. Kami biasa ngatain mas Bayu dengan berbagai macam istilah angin" kekeh Radeva.


"Tapi mas Radeva..." protes Alina.


"Paling mas Bayu lagi bersin-bersin" sahut Devan cuek.


Alina memegang pelipisnya. "Ya Allah..." gumamnya membuat Ajeng menepuk bahunya.


"Jangan kaget, Alina. Aku pun juga sama pada awalnya tapi aku sekarang sudah tabah meskipun mikir, begitu banyak perbendaharaan kata Bayu ya..." ucap Ajeng dengan wajah polos membuat Alina menatap dengan perasaan tidak percaya.


"Ajeng, tapi itu boss kamu..."


"Boss aku memang aslinya Durjana kok ..." jawab Ajeng cuek. "Bayangkan Al, sudah tahu tulisannya naudzubillah, aku suruh terjemahin !"


Alina melongo. "Ini benar-benar definisi boss dan sekretaris sama-sama ngeyelan ya?"


"Benar juga. Apalagi cari kerja sekarang juga susah dan kamu tinggal di New York... " timpal Alina.


Ajeng menarik tangan Alina dan berbisik di telinga kekasih Dewa Hadiyanto itu. "Sebenarnya Al, aku tabah-tabahkan sama pak Bayu itu demi mendapatkan bonus enam digit kalau aku bisa bertahan setahun..."


Alina melotot. "Apa?"


Ajeng mengangguk.


"Lalu kamu mau apain bonus itu?" bisik Alina.


"Pulang ke Solo dan wiraswasta disana. Aku kangen kuliner negaraku Al... Bayangkan saja ... Aku susah di New York nggak ada yang jual nasi liwet tengah malam... " ucap Ajeng sambil manyun membuat Alina tertawa.


"Di Jakarta juga nggak ada Jeng... "


"Tapi setidaknya nasi uduk kan ada ... New York? Junk food, Chinese food... Ilatku Kuwi ilat jowo, kudu ngemplok panganan Jowo ( lidahku itu lidah Jawa, harus makan masakan Jawa )" balas Ajeng dengan wajah sungguh - sungguh.


Alina tertawa geli mendengar ucapan Ajeng. "Mas Dewa, harusnya Ajeng dibawa ke restoran ayam kremes yang mas Dewa pesankan sayur kembang kates( bunga pepaya )itu..." Alina menoleh ke arah Dewa yang asyik mengobrol dengan keempat sepupu prianya.


"Apa habis dari sini, kita Kesana? Jeng, kamu doyan sayur kembang kates?" tanya Dewa.


"Ada pak Dewa? Enak kah?" tanya Ajeng antusias.

__ADS_1


"Enak Jeng..." jawab Dewa dan Alina bersamaan.


"Wuuuiiiihhhh kompak kalian..." gelak Remy.


"Ya Wis. Habis makan disini, kita ke rumah makan ayam goreng kremes ya?" ajak Dewa. "Tapi apa wetengmu ( perutmu ) muat Jeng?"


"Pak Dewa, aku kiieee wong Jowo ( aku itu orang Jawa ). Nek durung kelebon Sego, durung marem ( kalau belum kemasukan nasi, belum mantap ). Sambel, lalapan, kremesan, sayur kembang kates terus apalagi selain ayam goreng?" Ajeng tampak antusias mendengar makanan khas Indonesia.


"Ada sayur asem Jeng" jawab Alina.


"Wis Iki Kabeh dibungkus wae, kita cuuusss mrono piyeee ( Sudah, ini dibungkus saja semua, kita langsung ke sana gimana )?" kerling Ajeng membuat kelima pria disana melongo karena di meja makan sudah ada makan siang yang berupa salmon grilled.


"Haaaaahhh?"


Dewa tertawa terbahak-bahak. "Owalah, luwih abot maem Sayur asem, kembang Kates plus sambal timbang salmon ( lebih mending makan sayur asem, kembang pepaya plus sambal daripada salmon ). Memang kamu tuh Membagongkan, Jeng."


***


Restauran Ayam Goreng Kalasan


Ajeng benar-benar khilaf saat melihat menu masakan khas Indonesia terutama Jawa hingga para pria disana menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun mas Deva, beneran deh. Ini lebih kacau dibandingkan sama mbak Nadya" kekeh Remy.


Alina tertawa geli melihat Ajeng macam tidak pernah makan ayam kremes berabad abad.


"Enak Jeng?" tanya Alina.


"Ya Allah, nikmat mana yang kamu dustakan... Di New York nggak ada yang macam begini..." jawab Ajeng sambil tambah sambal.


"Mas Bayu suka Ajeng?" tanya Dewa ke Radeva dan Devan.


"Yup !" jawab kedua pria tampan itu.


Dewa tersenyum smirk. "Kalian memang golek molo ( kalian memang cari masalah )!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2