
Alina hanya bisa memegang pinggang Dewa dalam diam. Entah mengapa dirinya bisa merasakan pria slengean ini dalam mode marah besar. Tak lama, mereka pun tiba di kantor Dewa. Alina hanya diam saja saat Dewa menggandeng tangan kirinya lalu membawa ke dalam kantor bank Arta Jaya.
Banyak pegawai yang sedang bersiap pulang, bingung melihat wajah Dewa yang dingin dan dipenuhi amarah sambil menggandeng seorang gadis manis. Namun mereka berusaha untuk tidak kepo karena tidak ingin kena semprot Dewa. Keduanya pun masuk lift menuju lantai ruang kerja Dewa.
Ragil yang masih berada di mejanya, menatap bingung melihat Dewa marah dengan menggandeng Alina.
"Gil, ini kunci motor kamu. Helm di bawah aku titipkan ke satpam" ucap Dewa sambil melemparkan kunci motor itu ke Ragil.
"Baik pak..." jawab Ragil sambil menerima kuncinya. "Bapak masih mau di kan..." ucapan Ragil terhenti saat Dewa masuk ke dalam ruang kerjanya bersama Alina dan pintu langsung tertutup keras. Ragil menggelengkan kepalanya. "Fix... Si boss lagi mode pengen cincang orang."
***
Di Dalam Ruang Kerja Dewa
"Sekarang kamu cerita sama saya bagaimana kamu bisa terluka?" tanya Dewa setelah mengajak Alina duduk di sofa.
"Bukannya bapak sudah tahu dari pak Sabar?" jawab Alina.
"Saya mau dengar versimu." Dewa menatap Alina serius.
Alina pun menceritakan kejadian yang menimpanya tadi dan Dewa hanya mengepalkan tangannya karena dirinya harus menahan emosi.
"Benar-benar deh... " Dewa pun berdiri mengambil tas Pradanya dan jasnya. "Kita ke rumah sakit buat memeriksakan tanganmu."
"Tapi pak Dewa..." Alina menatap Dewa bingung. "Tangan saya cuma memar."
"Jeng Alina sayang, cengkraman seorang pria ke pergelangan tangan wanita itu bisa membuat retak tulang jika dilakukan penuh amarah. Dan aku tidak mau mengambil resiko jika kamu harus kesakitan saat beraktivitas akibat tidak diperiksa lebih mendalam." Dewa mengulurkan tangannya ke arah Alina. "Lebih baik kita preventif kan?"
Alina menerima uluran tangan Dewa. "Maaf tangan kiri, pak Dewa."
"Nggak papa, tangan kananmu kan lagi sakit." Dewa mengandeng tangan Alina dan mereka keluar dari ruang kerja pria itu. Ragil tampak berdiri di sebelah mejanya bersiap untuk pulang.
"Nona Alina tidak apa-apa?" tanya Ragil saat melihat pergelangan tangan Alina dibalut plester gips.
"Tidak apa-apa pak Ragil. Terimakasih" senyum Alina.
__ADS_1
Ragil memeriksa kembali ruangan Dewa dan dirasa sudah tidak ada yang tertinggal, asisten Dewa itu pun mengunci ruang kerja Bossnya.
"Gil, kapan ada pertemuan dengan kantor walikota Jakarta Barat?" tanya Dewa sambil masuk ke dalam lift.
"Lusa Pak Dewa. Menurut rencana pak Bagas juga akan ikut..." jawab Ragil. "Bu Emilia sudah mengkonfirmasi." Emilia adalah sekretaris Bagas berusia 50 tahun yang dikenal sekretaris bulldog karena kedisiplinan dan tangguhnya.
"Bagus." Dewa tersenyum licik membuat Alina dan Ragil merinding melihat wajah ganteng itu macam Lucifer.
Di parkiran, sopir Dewa berjalan untuk membukakan pintu mobil Mazda CX-9 nya.
"Gil, thanks motornya" ucap Dewa ke sekretarisnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Sama-sama pak" jawab Ragil sembari mengenakan helmnya.
Dewa dan Alina pun pergi meninggalkan parkiran menuju RS PRC Group.
***
PRC Group Hospital
"Siapa ini Wa?" tanya Safira bingung karena putranya main slonong Boim ke ruang prakteknya. Safira yang masih duduk di kursi kebesarannya pun menghampiri putra dan gadis yang belum pernah dilihatnya.
Kini keduanya duduk di kursi depan meja Safira yang biasa dipakai konsultasi para pasiennya. Dewa memilih berdiri di belakang Alina.
"Perkenalkan ma, ini jeng Alina Ratnadewi. Jeng Alina, ini mamaku yang tukang mbeleh orang ( sembelih orang ), dokter Safira Pratomo Hadiyanto" jawab Dewa santai membuat kedua wanita disana terkejut.
"Jadi ini yang namanya Alina ... " senyum Safira. "Senang bertemu sama kamu Al. Perkenalkan saya mamanya anak durhakim itu yang dengan seenaknya bilang mamanya tukang sembelih orang. Kamu bisa panggil Tante Safira. Ini kenapa tangannya?" Dokter cantik itu memegang tangan kanan Alina. "Tante buka ya."
Safira membuka perban gips Alina dan bibirnya tampak mengetat saat melihat bagaimana pergelangan tangan gadis itu membiru.
"Siapa yang melakukannya Al? Apakah Dewa? Kalau memang anak Tante yang melakukan, saat ini juga Tante sunat !" tanya Safira dengan tatapan tajam ke Alina.
"Eh? Bukan... Bu..kan pak Dewa, Tante. Sungguh... Jangan disunat lagi pak Dewanya... Eh !" Alina menutup mulutnya dengan tangan kiri membuat Dewa tersenyum lebar.
"Akhirnya ada yang belain..." seringai Dewa bahagia.
__ADS_1
"Shut it, Dewa. Sekarang cerita sama Tante. Ini kenapa? Tidak mungkin ini jatuh karena ada bekas jari-jari disana!" Safira langsung mengambil ponselnya dan memotret tangan Alina.
"Buat apa ma?" tanya Dewa yang berdiri di belakang Alina.
"Visum et repertum. Ini sudah masuk kekerasan fisik dan kamu berhak menuntut orang yang melakukannya." Safira mengambil foto tangan Alina dari berbagai sudut. "Kapan kejadiannya?"
"Sekitar satu jam-an yang lalu" jawab Dewa.
"Kamu tahu siapa pelakunya?" tanya Safira ke Alina.
"Tahu ma..."
"Dewa ! Mama tanya sama Alina ! Bukan sama kamu !" bentak Safira. "Al, cerita sama Tante. Ini mlebukane ( asal muasalnya ) bagaimana?"
Alina sedikit terkejut karena meskipun Safira bule, tapi tahu bahasa Jawa antik begitu. "Awalnya..." Alina pun bercerita kembali ke Safira.
"Kamu mau menuntut?" tanya Safira ke Alina. "Jika iya, Tante punya kenalan polisi banyak."
"Tidak usah Tante, saya tidak mau menuntut karena sudah diancam oleh teman kost saya akan diviralkan rekaman CCTV yang memperlihatkan Gatot menarik tangan dan tubuh saya hingga menubruk pintu pagar besi..." Alina mengernyitkan dahinya saat mulai kerasa nyeri di panggulnya.
"Oh my. Badan kamu kena ya? Sudah, Tante periksa dulu. Wa, kamu keluar !" hardik Safira ke putranya.
"Lho ma, kan aku juga pengen tahu memarnya seberapa... Addduuuhhh !" Dewa meringis saat Safira berdiri dan menjewer telinga nya. Alina terkejut karena apa yang diceritakan Dewa memang kejadian.
"Kamu ! Katanya mau taubat nasuha ! Nggak usah ngadi-ngadi dan mbati ( cari untung )! Keluar ! Mama mau periksa Alina !" omel Safira sambil menyeret putra tunggalnya keluar dari ruang prakteknya.
Safira menutup pintu sedikit keras meninggalkan Dewa yang mengusap-usap telinganya. "Ya Allah, mama habis makan ayam geprek level berapa sih? Pedes banget!" gumamnya dan pria itu pun duduk di kursi tunggu depan ruang praktek mamanya.
***
Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️