
Hari ini Alina datang ke pengadilan kasus tabrak lari, percobaan pembunuhan, konspirasi pembunuhan serta pembunuhan yang dilakukan oleh Tamara Hamid ke Zara, nenek Aisyah dan seorang preman yang dibayar untuk menabrak dan membunuh Zara beserta sahabatnya Martina.
Alina memegang tangan Dewa saat waktunya Zara bersaksi dan tunangannya tahu kalau gadisnya tampak cemas. Dewa menepuk pelan tangan Alina dan seolah memberikan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Alina melihat Pramudya sama tegangnya dengan dirinya. Wajar jika Pramudya tegang karena Zara bukan tipe gadis kuat macam Juliet atau Arabella, sepupu Dewa.
Namun kali ini Alina bisa melihat bagaimana wajah Zara tampak dingin dan kuat dalam menghadapai pertanyaan baik dari Jaksa Penuntut Umum dan Pengacara Tamara. Zara menjawab semua pertanyaan jaksa penuntut umum dengan lancar dan dia bisa melihat bagaimana tatapan kebencian saling terlihat antara Zara dan Tamara.
"Yang Mulia Hakim, kita bisa membuktikan bahwa mobil yang dipakai untuk menabrak nona Zara Aulia dan Nyonya Aisyah, memang milik Pak Pramudya Hadiyanto yang dicuri oleh nona Tamara Hamid dari bengkel tempat mobil itu sedang diservis. Kesaksian dari pemilik bengkel sudah kita dapatkan tadi." Jaksa Penuntut Umum lalu kembali menatap Zara. "Bagaimana perasaan anda saat tahu siapa pelakunya?"
Zara menatap tajam ke arah jaksa penuntut umum, pengacara dan Tamara. "Perasaan saya? Anda menanyakan perasaan saya? Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana ada seorang wanita tega mengambil nyawa orang sebegitu mudahnya? Bagaimana seorang wanit tega menyakiti sedangkan banyak orang bilang kami kaum lemah lembut dan berperasaan... Saya saat ini lebih ke arah kasihan dan miris ke terdakwa... Bagaimana uang dan kekayaan tidak menjamin seseorang akan menjadi baik. Dia tidak tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh seseorang yang sangat mencintai dan dicintai, dia tidak tahu rasanya kehilangan salah satu hal yang berharga dalam tubuhnya, dia belum merasakan itu semua. Aku kehilangan nenekku ! Aku hanya memiliki satu indung telur yang berakibat kemungkinan punya anak, 50-50. Tapi aku bersyukur, aku masih hidup, masih menghirup udara bebas tapi kamu... " Zara menatap dingin ke arah Tamara. "Kamu akan dihukum seumur hidup dan kemungkinan hukuman mati, karena hasil perbuatan kamu. Kamu tidak akan pernah bebas, kamu tidak akan pernah merasakan memiliki pasangan atau pun anak, kamu tidak akan pernah melihat bagaimana aku bisa menikmati hidup yang masih diberikan Allah kepadaku. Kamu akan membusuk di penjara dan kamu akan menjalani nya selama sisa hidup kamu !"
Semua orang di ruang pengadilan merasakan hawa dingin yang teruar dari seorang gadis cantik bertubuh langsing itu. Suasana sidang merasakan bagaimana amarah seorang Zara Aulia yang mengalami banyak peristiwa akibat obsesi seorang Tamara Hamid kepada Pramudya Hadiyanto.
"Dengarkan aku, nona Tamara Hamid. Sampai kapan pun, kejahatan tidak akan pernah menang. Dan sekarang aku duduk disini, hidup, dan bebas. Akulah pemenangnya dan kamu hanyalah seorang pecundang !" lanjut Zara dingin.
"Kamuuuu !" Tamara berlari mendekati Zara dan hendak menghajarnya namun Zara sudah siap. Disaat Tamara hendak memukulnya, Zara meninju wajah Tamara terlebih dahulu hingga darah segar keluar dari hidung nya. Tamara pun terjatuh apalagi hidungnya hasil operasi plastik, semakin membuat rusak implannya.
Petugas pengadilan lalu membawa Tamara pergi menuju mobil tahanan guna dibawa ke rumah sakit karena darahnya tidak mau berhenti. Pramudya bergegas menghampiri Zara dan memeluknya apalagi tubuh gadis itu gemetar akibat emosi.
"Itu buat Nenek!" desis Zara dengan suara penuh kebencian.
"Harap tenang ! HARAP TENANG!" seru hakim sambil mengetuk palunya karena ruang sidang menjadi kacau balau.
Alina menutup mulutnya dengan tangannya karena tidak menduga Zara akan berani menonjok wajah Tamara tanpa ragu.
***
"Akhirnya di sel?" tanya Alina saat mereka makan malam dengan keluarga Hadiyanto.
"Di sel karena menyerang terdakwa tapi memang patut dia mendapatkannya..." ucap Safira. "Kalau mama disana... Wis akan lebih aku bejek-bejek !"
"Sayangku, jangan lah sadis - sadis ..." senyum Bagas.
"Gemas aku mas !" ucap Safira.
__ADS_1
"Ma, ingat sumpah dokter ..." celetuk Dewa. "Demi Allah saya bersumpah, bahwa :
Saya akan membaktikan hidup saya guna perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena keprofesian saya.
Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam..."
"Sumpah mama tidak berlaku sama kamu dan wanita jahat macam Tanjidor itu !" potong Safira judes.
"Astaghfirullah... Mamaaaa..." rengek Dewa dengan wajah memelas.
Alina tertawa melihat keributan di meja makan seperti biasanya.
"Setuja Tante !"
Alina dan Safira saling tos bareng. "Jangan lupa Al, minta kartu hitam nya Dewa !"
Bagas dan Dewa hanya pura-pura tidak mendengar ucapan kedua wanita itu.
***
Rupanya bukan hanya Dewa yang manyun, tapi Pramudya pun manyun karena Oma Angela bersama dengan Zara ikut bergabung dengan Safira dan Alina untuk acara shopping bersama. Kini keempatnya tampak asyik bergosip di sebuah restauran Korea sambil grilled daging dan berbagai macam bakso.
"Jadi para pria di rumah ini Fira?" tanya Oma Angela.
"Iya Tante. Aku suruh jaga rumah soalnya kita mau girls day out. Yang penting kartu hitam sudah di tangan kita masing-masing" cengir Safira.
__ADS_1
"Kamu tuh sama Alina kompak banget !" kekeh Oma Angela.
"Soalnya aku pengen punya anak perempuan tapi dapatnya Dewa kupret itu ... Eh untung kupret begitu, dapat calon istri kok ya sesuai dengan doa aku. Mungkin doa ibu yang terdzolimi selama ini ya jadi Allah Maha Baik memberikan calon mantu Alina Ratnadewi yang baiknya minta ampun..." ucap Safira cuek membuat Oma Angela dan Zara tertawa sedangkan Alina menundukkan wajahnya dengan pipi merah padam karena tersipu mendapatkan pujian dari calon mertuanya.
"Tante Safira, jangan memuji aku seperti itu ..." bisik Alina malu.
"Tapi Al, Tante memang suka dengan kamu. Setidaknya Tante sudah tidak asah golok lagi selama Dewa sama kamu ..."
"Astaghfirullah! Safira !" tegur Oma Angela sambil tertawa.
"Bagaimana dengan tanganmu, Zara?" tanya Alina.
"Lumayan njarem. Ternyata mukul orang sekuat tenaga itu lumayan ya?" kekeh Zara.
"Apa sudah dikompres?" tanya Safira.
"Sampun Tante. Mas Pram begitu aku keluar sel, langsung kompres tanganku. Lumayan senut-senut soalnya... " senyum Zara.
"Gimana rasanya masuk sel?" tanya Alina.
"Manyun."
Safira dan Alina terbahak. "Asal kamu tahu, Zara, keluarga kami yang dari pihak klan Pratomo itu sudah terbiasa masuk sel bahkan dari generasi ketiga sudah kena. Tahanan kota, tahanan negara ... Wis khatam ! Termasuk aku yang juga kena tahanan di bandara gara-gara bawa scalpel di tas Hermès aku ..." cengir Safira santai.
"Astaghfirullah..." ucap Zara.
"Kamu tenang saja. Pram nggak bakalan macam keluarga Dewa dari klan Pratomo. Keluarga Hadiyanto itu anteng-anteng kok" senyum Oma Angela sambil menepuk tangan Zara.
"Aku yang pusing Zara, karena mas Dewa kan bisa 50-50 antara keluarga Pratomo dan keluarga Hadiyanto" keluh Alina.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️