My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Ke Rumah Daud


__ADS_3

Kediaman Eyang Daud di Grogol Petamburan Jakarta


Eyang Daud menatap tidak percaya ke pasangan di hadapannya setelah Dewa mengatakan maksud dan tujuannya esok Sabtu, kedua orangtuanya akan datang melamar Alina.


"Tenanan ( beneran ), Ngger? Wong tuwomu arep mrene ( orang tuamu mau kesini )? Melamar Alina? Tapi Eyang belum ada persiapan..." Eyang Daud tampak panik membayangkan harus mengundang keluarga nya.


"Nggak usah ramai-ramai Eyang, wong saya cuma sama bokap, nyokap dan Ragil kemari. Saya nggak bawa rombongan sirkus ... Eh... Keluarga saya yang di Jakarta karena pasti kacau dunia akhirat yang mana Hades pun bakalan taubat jadi jahat melihat kekacauan keluarga saya" ucap Dewa dengan wajah serius tapi membuat pak Parjo terbahak.


"Mas Dewa, masa tho keluarga sampeyan diarani ( dianggap ) rombongan sirkus?" gelak Pak Parjo.


"Lho tenin ( benar ) Pak. Takon jeng Alina nek ora percoyo ( tanya Jeng Alina kalau tidak percaya )" balas Dewa masih dengan wajah serius.


"Iya kah mbak Alina?"


"Tenan ( beneran ) Pak Parjo. Aku nganti ( sampai ) pusing melihat mereka kalau sudah kumpul. Ora umum nek guyon ( nggak umum kalau bercanda ). Isine nistain dan ngeledek satu sama lain... Lupa kalau mereka itu pengusaha dan orang-orang berpengaruh kalau sudah kumpul" jawab Alina.


"Jadi acaranya gimana besok?" tanya Daud


"Hanya silahturahmi antar bokap dan nyokap ke eyang. Soal catering, sudah diatur nyokap. Eyang dan Pak Parjo tinggal dekorasi rumah saja biar tampak semarak."


***


Malam itu Dewa makan malam di rumah Eyang Daud dan rencananya usai makan malam, pria itu akan mengantarkan Alina kembali ke Kost-kostan nya karena esok Alina masih mengajar.

__ADS_1


"Cincin sudah Ngger?" tanya Daud.


"Lha itu Eyang. Ada story nya. Jadi aku itu sama nyokap muter-muter macam gasingan cari semua hantaran dan seserahan besok Sabtu. Tapi yang bikin kacau adalah, aku lupa membeli cincin tunangannya..." cengir Dewa.


Eyang Daud dan Pak Parjo melongo tidak percaya mendengar cerita Dewa kalau pria itu melupakan hal yang paling penting di acara lamaran.


"Sing nggenah wae Kowe ( yang benar saja kamu ), Ngger. Kok iso nganti lali ( kok kamu bisa sampai lupa)?" kekeh Eyang Daud.


"Lha ya itu... Aku yang salah ... " jawab Dewa dengan wajah merasa bersalah.


Alina sudah cekikikan mendengar percakapan di meja makan. "Yang penting kan Eyang, mas Dewa sudah membelikan Cincin nya meskipun harus ada drama lupa."


"Benar itu mbak Alina. Tapi bukan mas Dewa kalau nggak ada story yang Membagongkan..." kekeh Pak Parjo.


***


Usai makan malam dan berpamitan dengan para penghuni rumah, Dewa dan Alina pun melanjutkan perjalanan ke kost-kostan gadis itu.


"Mas Dewa..."


"Hhmm..."


"Serius cuma mas Dewa, Tante Safira dan Oom Bagas yang datang terus sama pak Ragil?" tanya Alina ke Dewa.

__ADS_1


"Serius. Memang kenapa?" jawab Dewa sambil konsentrasi.


"Nggak, takutnya keluarga mas Dewa yang di Jakarta bakalan ngereog kalau tidak dikasih tahu."


"Ngereog ya Wis Ben ( biarin aja )" sahut Dewa cuek.


"Kalau tiba-tiba nongol?" tanya Alina yang tahu bagaimana kreatifnya keluarga Dewa.


"Nongol, usir pakai ulekan dari dapur terus bilang 'muliho, muliho ( pulanglah )' mengko kan minggat ( nanti kan pergi )" jawab Dewa cuek membuat Alina gemas. Gadis itu lalu mencubit pipi Dewa dengan gemas.


"Aduuuhhh! Jeng !"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Sorry pendek ... Besok aku lanjutkan yang panjang.


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2