
Alina merasa tubuhnya remuk redam usai acara belah duren yang tertunda akibat dirinya mendapatkan periodenya. Benar - benar definisi mantan playboy yang paham membuat dirinya merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.
Alina menutupi tubuhnya dengan selimut hingga kepalanya dan wajahnya makin memerah jika mengingat tadi Dewa membuatnya bisa merasakan yang namanya puncak dalam berhubungan intim. Alina tidak menyangka Dewa pada saat ronde pertama membuatnya bisa menghilangkan rasa malunya dengan membimbingnya pelan serta lembut hingga bisa mengimbangi Gai*rah suaminya.
Hati Alina merasa hangat saat bagaimana Dewa memuji dirinya, memuji bentuk tubuhnya dan berbagai macam kata cinta serta rayuan, hingga dirinya merasa percaya dirinya muncul. Rasa takut dirinya tidak bisa memuaskan suaminya, perlahan terkikis saat Dewa mengatakan bahwa dirinya sangat puas bersamanya.
Dewa memberikan kesempatan pada Alina untuk menata dirinya dulu setelah pembukaan pertama agar tubuhnya beradaptasi dari belah duren. Kemudian Dewa pun meminta lagi haknya dan kali ini Alina sudah sedikit berani memberikan balasan yang membuat Dewa semakin semangat dalam acara olahraga suami-istri kedua.
Akhirnya sekarang Alina mendapatkan akibatnya. Tubuhnya terasa pegal dimana-mana dan dirinya merutuk kurang olahraga dalam arti sesungguhnya hingga olahraga diatas kasur ini menjadi bikin pegal.
"Kok istriku jadi kepompong?" celetuk Dewa yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Alina membuka selimutnya sedikit dan melihat suaminya berdiri di pinggir tempat tidur sambil bersedekap dengan tubuh polos dan dibawah pinggangnya hanya ditutupi handuk biru navy. Harum shampoo dan sabun mandi menyeruak dari pria ganteng itu.
"Apa mas?" cicit Alina dari balik selimutnya.
"Kamu itu lho... Ngapain pakai acara kemulan ( berselimut ) macam itu? Kademen ( kedinginan )?" tanya Dewa.
Alina hanya mengangguk.
"Kamu mau mandi nggak, Jeng?"
Alina menggelengkan kepalanya.
"Nanti sebelum sholat subuh, mandi dulu ya."
Alina mengangguk.
"Kamu sakit gigi Jeng Alina?"
Alina menggeleng.
"Lha terus kenapa angguk geleng begitu? Macam boneka ondel-ondel..." kekeh Dewa sambil berjalan menuju walk in closet nya dan dengan santainya membuka handuk di pinggangnya membuat Alina melotot melihat tubuh polos suaminya yang sedang mengambil celana tidurnya.
Ya benar tadi aku sudah melihat semuanya, tapi ya nggak gini jugaaaa ...
__ADS_1
Alina menarik selimutnya lagi hingga menutup kepalanya. Wanita itu bisa merasakan tubuh suaminya berada di sisi tempat tidur yang kosong dan tiba-tiba, selimut itupun disibak oleh Dewa.
"Kamu itu lho Jeng ... Gak bakalan jadi kepompong lagi wong sudah jadi kupu-kupu yang cantik begini..." goda Dewa ke Alina yang terkejut karena tubuh polosnya jadi terpampang.
"Mas Dewa !" Alina berusaha menutupi aset tubuhnya.
"Ngapain kamu tutupi, Jeng. Wong aku dah lihat semuanya kok..." kekeh Dewa yang langsung menarik tubuh polos Alina ke dalam pelukannya. "Terima kasih sudah memberikan hartamu padaku Jeng..." Dewa mencium kening Alina. "Semoga anak kita segera hadir disini ..." Pria itu mengelus perut Alina. "Jangan ngidam aneh-aneh besok kalau hamil... Jangan macam Arabella ngidam Saki maunya makan nggak jelas ... Apaan itu Milo dino ?"
Alina cekikikan mengingat Arabella saat hamil Alsaki maunya minum cuma dua, air putih dan Milo Dino, selain itu muntah - muntah.
"Semoga ngidam aku nggak aneh ya mas... " senyum Alina.
"Aamiin."
***
Kehidupan pernikahan Dewa dan Alina jauh dari kata akur dalam arti, Alina harus mempunyai stok kesabaran yang banyak karena suaminya semakin Membagongkan. Semenjak menikah, Dewa dan Alina pindah ke rumah mereka sendiri, rumah yang memang sudah dibeli Dewa lama untuk asetnya tapi akhirnya menjadi milik istrinya.
Dewa membebaskan Alina untuk mengganti interior rumah jika dirasa tidak sesuai dengan keinginan istrinya. Alina sendiri tidak banyak mengganti karena semua sudah tertata rapi hanya saja dia lebih banyak memberikan kesan feminin di dalamnya. Rumah satu lantai dengan empat kamar itu, ditempati Dewa dan Alina bersama dengan pelayan yang dibawanya dari rumah Bagas Hadiyanto. Pelayan itu bertugas untuk membersihkan rumah dan pekerjaan rumah lainnya karena Dewa dan Alina bekerja.
***
Empat Bulan Kemudian...
Dewa mendengar suara Alina muntah-muntah di kamar mandi. Pria itu melirik jam digital yang berada di atas nakas dan terkejut saat tahu pukul lima pagi. Semalam dirinya dan Alina sangat menikmati acara olah raga malam hingga membuat Dewa heran karena tumben istrinya yang meminta duluan.
Dewa pun bangun dan segera mengenakan celana piyamanya lalu berjalan menuju kamar mandi. Tampak Alina terduduk di pinggir kloset dengan wajah pucat. Dewa yang panik melihat kondisi istrinya, langsung menggendongnya menuju tempat tidur.
"Kamu kenapa? Tadi malam makan masakan timur tengah kayaknya deh..." Dewa lalu mengambil minyak kayu putih untuk menggosokkan ke dada dan perut istrinya.
"Tapi aku memang pengen makan itu tadi malam..." ucap Alina lemas.
Dewa tertegun. "Jangan ... Jangan ... " Pria itu bergegas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Assalamualaikum Oma Gendhis. Masih bisa terima pasien subuh-subuh nggak?"
***
__ADS_1
Mansion Giandra Satu Jam Kemudian
Arum Giandra memeriksa dengan teliti kondisi cucunya dengan peralatan USG yang dimilikinya sebagai bagian dari profesi nya seorang dokter Obgyn. Arum dulunya memang buka praktek di mansion Giandra dan sekarang diteruskan oleh putra nya, Anarghya.
Dewa menatap cemas ke layar monitor sedangkan Remy Giandra, cucu Arum, ikut kepo melihat sepupu iparnya sedang diperiksa.
"Bagaimana Oma?" tanya Dewa.
"Alhamdulillah Alina Hamil. Empat Minggu... " jawab Arum dengan wajah sumringah.
"Selamat ya mbak Al..." ucap Remy sambil menyalami kakak perempuannya.
"Terimakasih dik Remy. Ini beneran Oma? Aku hamil?" tanya Alina tidak percaya.
"Beneran lah Al. Ini titik hitam anak kalian" jawab Arum sambil menunjukkan di layar monitor. "Kamu nggak makan aneh-aneh kan Al?"
"Semalam aku ingin masakan timur tengah, ternyata itu namanya fase ngidam ya Oma... Aku nggak tahu kalau hamil soalnya disibukkan dengan awal tahun ajaran baru..." senyum Alina.
Arum menoleh ke arah Dewa yang masih terbengong bengong melihat calon anaknya.
"Kamu kenapa Wa?" tanya Arum.
"Oma, ternyata... Kecebong kecil-kecil aku itu bisa bikin anak ya..." gumam Dewa membuat Arum dan Remy melotot.
"Ya iyalah mas... Wong hampir tiap hari... Eh ?" Alina segera menutup mulutnya membuat Dewa mendelik judes ke istrinya yang tanpa filter. Arum tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan cucu menantunya sedangkan Remy menatap sebal ke pasangan suami istri itu.
"Biarpun aku masih di bawah umur tapi aku sudah masuk kedokteran jadi tabah deh !" gerutu cicit Abimanyu Giandra itu.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️