My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Acara Lamaran


__ADS_3

Note.


Mitos orang Jawa soal ulekan atau muntu atau cobek yang bisa mengusir orang yang tidak diinginkan datang ke rumah itu walahualam ya. Caranya begini... Disaat kamu kedatangan tamu tidak diundang, kamu pergilah ke dapur. Ambil itu muntu dan arahkan kepalanya ke ruang tamu tempat tamu itu berada. Jangan sampai terlihat sambil mengucap "Pulanglah... Pulanglah..." Tak lama tamu itu pun akan pulang.


( tapi aku pernah coba dan berhasil... Hehehehe ).


Oke... Kita kembali ke Dewa.


***


Toko Emas Milik Keluarga Baskara


"Pagi Frank" sapa Arkananta yang datang ke toko emasnya di sebuah mall di Jakarta.


"Pagi pak Arka. Tumben bapak pagi bapak sudah datang..." balas Frank sambil menata semua perhiasan yang akan didisplay di lemari pajang.


"Ara minta diantar ke rumah Bokap. Katanya mau masak bareng nyokap, bikin botok atau apa lah itu. Namanya juga Bumil... Suka-suka dia lah" jawab Arkananta. "Eh kemarin si playboy insyaf sudah kesini?"


"Pak Dewa maksudnya pak?" Frank menatap Bossnya.


"Yoi. Jadi beli cincin dia?"


"Jadi pak. Ambil yang desain dari pak Bima pakai berlian dari Mr Weston."


Arkananta menatap lurus ke Frank. "Dewa beli cincin tunangan?"


"Iya pak. Kemarin datang sama kekasihnya, nona Alina. Ya ampun ayune pak... Cocok sama pak Dewa" jawab Frank polos.


"Tunggu ... Dewa mau lamar Alina?" tanya Arkananta lagi.


"Semestinya... Wong kemarin sudah ajaran lamaran."


"Frank ! Kapan Dewa mau lamar Alina?" desak Arkananta.


Frank diam saja. "Maaf Pak Arkananta, saya dilarang kasih tahu. Kata pak Dewa, ini acaranya mau private."


Arkananta menyipitkan matanya. "Frank ... Kamu kerja sama saya atau Dewa?"


Frank hanya nyengir. Arkananta menggelengkan kepalanya. "Aku akan cari tahu sendiri !"


***


"Playboy sok insyaf itu mau lamaran tapi tanpa kabar-kabar ke kita ? Maksudnya apa !" omel Valentino ketika Arkananta melakukan panggilan video dengan putra Hoshi itu serta Radyta Yung.


"Kata Frank, Dewa maunya private tanpa kita-kita..." jawab Arkananta.


"Pelanggaran !" celetuk Radyta. "Wong lamaran kok diam - diam Bae!"


"Kita harus cari tahu alamat Alina ... Eh tapi Alina kan kost dan baru ke rumah eyangnya kalau weekend. Aku tidak tahu alamat persisnya tapi kata Ara rumah eyangnya daerah Grogol Petamburan" gumam Arkananta.


"Aku hubungi Ragil. Minta alamat eyangnya Alina." Valentino langsung menghubungi Ragil. "Gil, Pak Valentino. Bisakah kamu memberikan alamat eyangnya Alina?"


***

__ADS_1


Usai jam makan siang, Valentino dan Arkananta mendatangi rumah Eyang Daud. Kedua pria imut dan tampan itu melihat bagaimana rumah pagar cat biru itu tampak asri dengan banyaknya tanaman yang dijual.


Valentino memencet bel dan seorang pria berumur keluar dengan kaos dan celana pendek serta sandal jepit. Wajahnya tampak heran melihat dua pria yang sedikit mirip dengan Dewa.


"Njih mas? Cari siapa atau apa?" tanya pria itu.


"Nyuwun Sewu. Pak Parjo?" tanya Valentino.


"Njih. Gimana mas?" jawab Parjo bingung.


"Saya Valentino Reeves dan ini Arkananta Baskara. Kami saudara sepupu nya Dewa Hadiyanto. Boleh kami masuk?"


"Saudaranya mas Dewa tho? Pantas ada miripnya... Monggo mas. Masuk" senyum Parjo sambil membuka pintu pagar.


Keduanya pun masuk sedangkan sopir Arkananta memasukkan mobil Toyota Camry miliknya masuk kedalam rumah agar tidak menghalangi jalan.


Parjo pun berjalan menuju rumah untuk memberitahukan Eyang Daud kalau ada tamu.


"Sopo Jo? Ono tamu?" tanya Eyang Daud sambil berjalan dengan walkernya.


"Assalamualaikum Eyang Daud" salam Arkananta dan Valentino bersamaan.


"Wa'alaikum salam. Sopo yo?" Eyang Daud tampak bingung dengan kedatangan dua pria tampan itu.


"Perkenalkan Kulo Arka, lajeng meniko Valentino ( saya Arka, lalu itu Valentino ), sepupunya Dewa..." jawab Arkananta sambil Salim ke Daud yang diikuti Valentino.


"Owalaahhh dulure ( saudaranya ) Dewa tho. Nek Iki ora perlu diragukan, gayane podho ( kalau ini tidak perlu diragukan, gayanya sama )" kekeh Eyang Daud. "Monggo... " pria lanjut usia itu mempersilahkan Valentino dan Arkananta untuk duduk.


"Eyang Daud. Nyuwun Sewu dengan kedatangan kami yang mendadak tapi kami penasaran bin penisirin..." ucap Arkananta membuat Parjo tersenyum kecil karena gaya Arkananta mirip dengan Dewa.


"Kapan Dewa akan melamar Alina? Sebab anak itu memilih tidak memberitahukan pada kami" jawab Valentino.


Eyang Daud tertawa. "Ya Allah kalian itu kenapa jadi heboh begini... Dewa dan Alina memang hendak mengadakan lamaran ... Tapi mereka ingin secara private... Hanya Keluarga inti saja."


"Tapi itu sangat pelanggaran... Kapan lagi kita bisa melihat Dewa lamaran. Kapan eyang acaranya?" desak Arkananta.


"Insyaallah akan dilaksanakan besok Sabtu pagi sekitar jam sepuluh... Ini jadi beneran Nak Dewa tidak mengabari keluarga nya?" Eyang Daud menatap Arkananta dan Valentino bergantian.


"Tidak sama sekali."


"Woooo bocah nakal Kuwi ! Tenang Eyang Daud. Kami akan buat ramai acaranya" seringai Arkananta.


"Kowe arep gawe opo Ngger ( kamu mau buat apa nak )?" tanya Eyang Daud dengan perasaan tidak enak, begitu juga dengan Parjo.


Arkananta dan Valentino hanya nyengir.


***


Hari Sabtu.


Dewa bersama dengan Bagas dan Safira sudah dalam perjalanan menuju rumah eyang Daud, merasa terkejut melihat bagaimana jalan itu tampak ramai dengan mobil-mobil yang sangat mereka kenali.


"Lho kok ada mobilnya Hoshi, Bima, Aji... " Bagas mengabsen satu persatu mobil yang dihapalnya.

__ADS_1


"Ada pengawal dari Ramadhan Securitas juga..." gumam Safira.


"Ada apa ini?" tanya Dewa bingung.


Ketiganya pun turun dan melihat wajah-wajah yang dikenal mereka.


"Pak Bagas nggak keceplosan kan? Bu Safira?" tanya Dewa ke kedua orangtuanya.


"Kagak lah !" balas Bagas judes.


"Wah yang mau lamaran nggak bilang-bilang" goda Bima ke Bagas.


"Kok kalian bisa tahu?" kekeh Bagas yang langsung menyalami dan berpelukan dengan ipar-iparnya.


Dewa menoleh ke arah Ragil. "Kamu kasih tahu ke pasukan sirkus?"


"Nggak pak..." jawab Ragil tapi dalam hatinya agak takut juga karena beberapa hari sebelumnya Valentino Reeves menanyakan alamat Daud.


Dewa hanya menggelengkan kepalanya dan melihat adanya kesenian Tanjidor disana lalu Arkananta bertindak sebagai ketua panitia pun langsung memulai acara.


"Ini yang lamaran wong Jowo, kenapa ada Tanjidor sih?" gumam Safira sambil tertawa kecil.


Dewa pun cemberut karena rombongan sirkus bikin huru hara di daerah rumah Eyang Daud yang tentu saja membuat para tetangga ikutan heboh bin kepo dengan keluarga Sultan itu malah membuat pesta rakyat. "Padahal baru lamaran ini..." sungut pria itu manyun.


Tanjidor (kadang hanya disebut tanji) adalah sebuah kesenian Betawi yang berbentuk orkes. Kesenian ini sudah dimulai sejak abad ke-19 atas rintisan Augustijn Michiels atau lebih dikenal dengan nama Mayor Jantje di daerah Citrap atau Citeureup. Alat-alat musik yang digunakan biasanya sama seperti drumben. Kesenian Tanjidor juga terdapat di Kalimantan Barat, sementara di Kalimantan Selatan sudah punah. Ada juga fungsi musik tanjidor untuk daerah setempat yaitu untuk menghibur, tetapi terkadang bisa juga sebagai acara untuk meramaikan lamaran tapi yang melakukan lamaran biasanya orang betawi.


Tak lama rombongan itu pun tiba di halaman rumah eyang Daud dan lagi-lagi Dewa harus menghitung sampai seratus demi menahan emosinya. Dan kini mereka berhadapan dengan keluarga Alina yang diwakili beberapa tetangganya dan Valentino membuat Dewa melongo.


Apa hal ini?


"Assalamualaikum kisanak" salam Arkananta dengan gaya berpantun. "Buah kedondong buah kenari. kami berbondong datang kemari, hendak melamar gadis pujaan hati ... "


"Lha? Arka macam Jarjit" bisik Romeo ke Juliet yang sudah cekikikan karena ini acara lamaran paling kacau yang terjadi di keluarganya.


"Jahitlah baju dengan benang, sudah rapi tolong gantungkan, Kalaulah niat datang nak Minang, tentu saja kami persilahkan..." cengir Valentino ke Dewa yang sudah cemberut menahan emosi karena acaranya makin huru hara.


Tentu saja acara berbalas pantun itu menjadi riuh apalagi sudah jarang orang jaman sekarang melakukannya. Meskipun yang melamar diketahui wong Jowo tapi dengan campuran budaya seperti ini membuat banyak orang menjadi terhibur.


Dewa melihat catering yang disiapkan adalah semua para pedagang kecil yang sering berjualan keliling seperti kerak telor, ketoprak, nasi uduk, siomay, bahkan ada putu dan gandos termasuk cendol dan es degan.


Benar - benar merakyat banget nih acara.


Tak lama Dewa dengan didampingi Bagas dan Safira masuk ke dalam rumah yang sudah didekorasi dengan indah dan Dewa bisa melihat bagaimana wajah sumringah Eyang Daud menikmati kekacauan yang dibuat keluarga besarnya.


Wis Wis ... Meh piyeeee maning.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2