
Poughkeepsie NY, markas milik McGregor dan Blair
Dewa dengan telaten mengajari Alina mulai cara membuka pengaman, memasang magazine, cara mengunci dan cara mengarahkan ke kertas target. Alina pun merasakan sensasi pertamanya menembak, begitu juga dengan Ajeng dan Ratih yang dibantu oleh pasangan masing-masing.
Setelah Alina bisa melakukan sendiri, Dewa pun memilih untuk mundur beberapa langkah dan mensupport tunangannya.
"Ayo Janetwati !" ucap Dewa sambil bertepuk tangan membuat para sepupunya menoleh.
"Janetwati?" tanya Bayu.
"Lha Jeng Alina pakai Walther PPK punya nya James Bond. Karena dia wanita kan harusnya Janet Bond cuma kok kurang Indonesia... Jadilah Janetwati..." cengir Dewa membuat Alina meletakkan pistolnya di atas meja dan menoleh ke arah Dewa.
"Jadi itu alasannya?" tanya Alina sambil mengulum senyum.
"Iya jeng Alina. Kenapa?" tanya Dewa mode curiga antara Alina marah atau Alina gemas.
Alina hanya mencubit kedua pipi Dewa. "Benar-benar calon suaminya Alina menggemaskan !"
Dewa tampak senang mendapatkan perlakuan tunangannya. "Kan aku memang nggemeske..."
"Huweeeeeekkk !" seru semua sepupu Dewa yang sebal dengan gaya sok imutnya pria ganteng itu.
"Ojo Meri gaeeesss ( jangan iri gaeeesss )... " ucap Dewa dengan gaya tengil ke semua sepupunya. "Mbok pasangan kalian dikondisikan untuk sok uwu macam jeng Alina. Ojo mung mbok ajak gelut Ning kamar ( jangan cuma kamu ajak gelut di kamar )..."
"HEEEEIIIII !!!" seru semua orang.
"Masih ada anak di bawah umur iniiii !" teriak Giordano, Mamoru dan Remy.
"Apa tho? Gelut di kamar itu berar... Mmmmhh ... Mmmmhhhh ... " Mulut Dewa langsung ditutup oleh tangan Luke Bianchi.
"Stop Wa ! Jangan beleber kemana-mana !" tegur Luke. "Yuk dilanjutkan acaranya, nggak usah dengerin mantan playboy insyaf ini !"
***
Alina melihat semua saudara Dewa mulai melakukan acara tanding tembak bahkan dirinya sangat kagum melihat bagaimana kakak perempuan Dewa sangat keren dalam acara menembak.
"Kamu nggak usah iri, Jeng Alina. Kami semua sudah dari kecil berlatih menembak jadi kami jago semua" ucap Dewa di sebelah Alina yang mukanya sangat memperlihatkan perasaannya.
"Mereka sangat badass mas !" ujar Alina.
"Kamu kalau mau belajar, ya bisa. Tiap weekend kita ke markas Giandra dan Reeves terus latihan disana. Tapi untuk koleksinya mungkin lebih banyak disini."
__ADS_1
"Mas, yang penting ada senjata buat latihan" senyum Alina.
"Memang benar sih. Mau kamu punya banyak koleksi tapi kalau kamu tidak bisa menembak ya percuma saja..." senyum Dewa ke Alina.
Alina melihat bagaimana sepupu dan ipar Dewa yang pria pada bertanding. Dalam hatinya dia merasa seperti di dalam lokasi pemotretan majalah GQ atau Esquire karena semuanya seperti model berjalan.
Mau cari model apa, ada. Mau Asia baik Jawa, korea, Jepang, India, Arab, Turki lalu bule mau bule Amerika, Italia, Inggris, Belgia maupun Maori, ada ! Namun satu yang Alina bangga dengan keluarga Dewa adalah meskipun mereka sangat diversity tapi mereka sangat akur ... Terlalu akur hingga soal menistakan itu bagaikan hukum wajib, bagaikan makan nasi Padang harus pakai rendang daging.
Alina ikut bersorak saat Shinichi menang dalam pertandingan meskipun menembak nya asal dan sambil merem. Entah definisi sangat jenius atau sangat beruntung itu beda tipis.
Acara tembak menembak pun berakhir menjelang jam empat subuh dan semua orang pun pulang menuju hotel untuk beristirahat.
***
St Regis Hotel Manhattan New York Siang Harinya
Alina dan Dewa menikmati acara jalan-jalan di sekitar Manhattan usai mereka semua bangun kesiangan. Dewa ingin mengajak Alina menikmati yang namanya bagel, ubi khas New York, berbagai macam street food disana dan berbelanja.
Alina melihat ada dua orang mengikuti mereka, membuat dirinya ketar-ketir.
"Mas Dewa, itu siapa ?" bisik Alina karena takut dengan dua orang di belakang.
"Oh don't worry, itu pengawal yang disewa Oom Abi buat kita. Soalnya kami semua memang dikawal kalau di publik place" jawab Dewa tenang.
"Mereka akan makan nanti kalau kita makan di cafe atau restauran. Sudah ada aturannya, Jeng Alina. So, kamu mau kemana lagi? Shopping?" tawar Dewa.
"Boleh?" Alina menatap penuh harap.
"Boleh. Buat siapa?"
"Eyang, pak Parjo dan teman-teman di TK Bintang, sama teman-teman di kost dan pak Sabar depan kost" jawab Alina sambil mengabsen orang-orang yang dekat dengan dirinya selama ini.
"Boleh. Yuk kita ke mall. Beli aja yang kamu kira cocok buat eyang Daud, pak Parjo dan orang-orang yang kamu sebutkan itu" senyum Dewa sambil menggandeng tangan Alina.
***
Apartemen Ragil di Jakarta
Ragil baru saja hendak memejamkan matanya ketika suara ponselnya berdering. Mendengar ringtone nya, sudah pasti Bossnya yang minus akhlak tapi selalu berlagak paling imut sedunia.
Dalam hati Ragil merutuki kebodohannya karena lupa mengganti mode silent tapi SOP nya jika Dewa tidak ada di Jakarta, hpnya tidak boleh silent. Tapi kalau tidak di silent, akan seperti ini. Simalakama memang.
__ADS_1
Sedikit ogah-ogahan, Ragil menerima panggilan Dewa. "Malam pak Dewa .. "
"Siang Orgil. Eh kamu itu sepatu ukuran berapa?"
"Kenapa pak? Mau beliin saya sepatu?" balas Ragil sambil merem.
"Iya. Mau gue beliin sepatu bola !"
"Tapi saya bukan pemain Persija pak... Percuma bapak belikan saya sepatu bola..." jawab Ragil yang sudah hapal dengan kebagongan Bossnya.
"Elu mah pantasnya main di MU !"
"Manchester United? Wah bisa jalur belakang minta tolong pak Tristan Neville..."
"Ngimpi MU itu Man United. Madura United."
"Wah saya jadi carok dong..."
"Tinggal dikembang biakan kumis lu melintang macam kumis pak Raden ... Wait, kita ngomong apaan sih?" Dewa bingung sendiri.
"Lha bapak bahas apaan?" ejek Ragil sebal.
"Balik ke ukuran sepatu. Kamu ukuran berapa?"
"44 pak. Gimana?"
"Air Jordan atau Nike Air Max atau Adidas atau Reebok ?"
"Terserah Bapak yang penting ikhlas pak, jangan main potong gaji. Cicilan CBR saya kurang satu lagi..." jawab Ragil kalem.
"Kampreettt lu Gil ! Ya sudah, terserah gue ya yang penting ukuran lu 44. Dah, molor lagi Sono !" Dewa mematikan ponselnya membuat Ragil tersenyum. Terlepas dari kacaunya Dewa, tapi Ragil mengakui kalau Bossnya itu sangat perhatian tapi kalau mode kutu kupret nya keluar, ya wassalam. Ragil harus mulai membaca ayat kursi berulang kali agar Dewa kembali lurus.
Ragil kemudian memejamkan matanya dan tak lama asisten Dewa itu pun masuk ke dalam dunia mimpi.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
__ADS_1
Tararengkyu ❤️🙂❤️