My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Di Kantor Imigrasi


__ADS_3

Hari Senin...


Alina sudah bersiap berangkat ke kantor imigrasi dan mendapatkan ijin dari kepala sekolah untuk tidak masuk hari ini apalagi dia berada di rumah eyang Daud.


"Kamu naik apa Lina ?" tanya Eyang Daud yang tahu kalau Alina akan diajak ke New York untuk menghadiri acara pernikahan sepupu Dewa.


"Ojek online saja Eyang, yang praktis" jawab Alina.


"Cincin tunangan kamu kemana?" Daud melihat jari tangan Alina polos kembali.


"Aku simpan di brankas kecil, eyang. Aku takut hilang..."


"Mahal sekali ya mbak?" tanya Parjo.


"Lumayan..." Wajah Alina tampak memelas.


Eyang Daud dan Parjo saling berpandangan. Pasti nilainya ratusan juta. "Tapi apa Dewa sudah tahu kamu tidak memakai cincinnya?"


"Sampun Eyang. Malah kata mas Dewa, mau digantikan cincin punya eyang buyut nya yang sudah tidak bisa dipakai Tante Safira. Buat hari-hari tapi kalau pergi dengan mas Dewa, baru pakai cincin tunangan kemarin."


"Syukurlah kalau Dewa tidak marah kamu nggak pakai cincin tunangan kemarin" senyum Eyang Daud.


Suara bel pintu terdengar membuat Parjo menoleh ke arah jendela dan melihat mobil merah yang sudah sangat dikenalnya. "Lho mbak Alina. Kok mas Dewa jam segini datang kemari?"


Alina hanya menatap bingung ke Parjo.


***


"Lho kamu sama siapa Ngger?" tanya Eyang Daud saat Dewa dan Lucky masuk ke dalam rumah.


"Nih sama Lucky, sopir aku. Kalau Senin, Ragil biasanya berangkat sendiri naik motornya" jawab Dewa sambil Salim ke Daud.


"Sarapan dulu mas Dewa, mas Lucky" tawar Parjo.


"Ky, yuk makan. Kita kan memang tamu nggak tahu malu pagi-pagi datang minta makan ke rumah calon biniku..." ucap Dewa sambil menerima piring dari Alina.


"Dasar !" kekeh Eyang Daud.


"Makannya sederhana nggak papa ya mas Dewa, mas Lucky" ucap Parjo.


"Nasi uduk kan? Malah favorit sama nasi Padang" jawab Dewa santai sambil mengambil dua bungkus nasi uduk dan satunya dia berikan pada Lucky.


"Terima kasih pak Dewa" ucap Lucky yang menerima nasi uduk dari Bossnya.


Daud dan Parjo melihat bagaimana Dewa tampak santai memberikan nasi uduk ke sopirnya. Alina menatap eyang dan pak Parjo sambil tersenyum karena tahu keduanya suka dengan cara Dewa memperlakukan sopirnya.


"Dahar, Eyang, Pak Parjo" ucap Dewa yang berarti dia meminta ijin untuk makan dengan bahasa Krama Inggil.

__ADS_1


"Mari makan pak Daud, pak Parjo, nona Alina" ucap Lucky.


"Maemmo Ngger..." senyum Daud.


"Jeng Alina nggak maem?" tanya Dewa.


"Ini maem..." senyum Alina manis.


***


Di Dalam Mobil Dewa


"Nah pas kan cincinnya..." senyum Dewa sesudah memasangkan cincin milik Oma buyut nya, Savitri Pratomo.


"Ya ampun mas, cincinnya cantik banget" ucap Alina sambil melihat cincin berlian yang modelnya lebih sederhana dibandingkan cincin tunangannya.


"Itu cincin kelulusan Oma Savitri dari UI yang diberikan bokapnya, Opa Reza. Dipakai terus sampai menikah dan setelah melahirkan Opa Nathan, eh nggak cukup terus disimpan. Dulu nyokap sempat pakai karena jarinya masih langsing... Kalau sekarang kan rada langsung..." terang Dewa cuek membuat Alina mengeplak bahu tunangannya.


"Mas Dewa ! Tante Safira masih awet langsing!"


"Eh tapi dulu lebih langsing lagi !"


"Ya kan faktor punya anak dan usia juga tapi termasuk langsing kok!" Alina merasa gemas dengan Dewa yang sering membuat darting.


"Kamu nanti pulang dari imigrasi naik apa Jeng Alina?" tanya Dewa.


"Ojek online saja mas."


Alina menatap Dewa sambil tersenyum. "Mas Dewa kenapa sih tidak mengijinkan aku pulang sendiri?"


"Karena Jeng Alina sayang, kamu itu bidadari aku, cintaku, jangan sampai kulit nya hitam kena matahari..." gombal Dewa membuat Lucky yang sedang menyetir, tersedak mendengar rayuan receh Bossnya. "Ky, kalau kamu masih mau kerja, jangan bikin saya mindahin kamu ke Timbuktu !"


"Baik pak Dewa. Maaf" jawab Lucky yang memilih diam daripada membuat Bossnya nyolot.


"Mas Dewa jangan begitu ah. Kasihan pak Lucky. Nanti anak istrinya bingung kalau pak Lucky dipindah ke Timbuktu ..." tegur Alina.


"Benar Nona Alina, nanti anak-anak saya makan apa" sahut Lucky.


"Tuh mas Dewa ... Dosa lho dzolim sama pegawainya..." Alina menatap Dewa macam seorang guru ke muridnya yang bandel.


"Anak-anak apa? Wong Lucky belum nikah, kalau kawin mana kutahu... Anak-anaknya dia itu dua kucing peliharaannya..." balas Dewa sambil bersedekap.


"Eh?"


***


Kantor Imigrasi di Daan Mogot Jakarta

__ADS_1


Alina berpamitan ke Dewa dan pria itu mencium kening gadisnya sebelum turun dari mobil merahnya. Dewa menunggu sampai Alina masuk ke dalam gedung kantor imigrasi baru dia pergi bersama Lucky.


Alina pun memulai proses pembuatan paspor setelah sebelumnya dirinya mendaftar via online. Dewa sudah memberitahukan untuk mengambil percepatan satu hari bahkan pria itu mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadi Alina tadi sebelum turun dari mobil.


Gadis itu hanya bisa pasrah karena meskipun dia punya uang, tapi bagi Dewa, dirinya harus bertanggung jawab semua biayanya. Alina dengan sabar menunggu semua prosesnya hingga selesai dan setelah mendapatkan buku paspor nya.


Alina membaca pesan di ponselnya dan tampak pesan dari Dewa masuk yang mengatakan akan menjemput dirinya sekitar satu jam lagi. Alina pun berjalan menuju kantin yang tersedia di sana dan mulai memesan nasi rames dengan es teh. Gadis itu pun memakan menu makan siangnya sambil menonton drama Korea dari ponselnya dengan menggunakan earphone.


Gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya dipandangi sedemikian rupa oleh seseorang dan pria itu pun menghampiri meja tempat Alina duduk. Mengetahui ada bayangan seseorang di hadapannya, membuat Alina mendongakkan wajahnya.


Betapa terkejutnya Alina saat tahu siapa yang berdiri di depannya.


"Gatot?" Alina melepaskan earphone nya dan mematikan aplikasi filmnya. "Kamu ngapain disini?"


"Perpanjangan paspor lah! Aku kan mau honeymoon ke Maldives dengan Margaret... Kamu sendiri apa masih dengan boss Arta Jaya?" tanya Gatot dengan nada sinis.


"Alhamdulillah masih..."


"Katanya orang kaya, tapi tas kamu kenapa biasa sekali?"


"Yang penting fungsinya. Tidak perlu branded...." jawab Alina kalem sambil membalas pesan Dewa.


"Kamu sudah bertunangan?" Gatot melihat cincin berlian di jari manis Alina.


"Alhamdulillah sudah dengan mas Dewa..."


"Kamu buat paspor sendiri? Katanya orang kaya tapi kenapa nggak diurus sama suruhan nya?" ejek Gatot lagi.


"Bukankah harus kita sendiri yang datang untuk wawancara sekalian?" jawab Alina masih dengan nada santai.


"Memangnya kamu bikin pasport mau kemana?"


Alina menatap Gatot dengan wajah datar. "Terserah aku mau kemana. Bukan urusan kamu... "


"Paling ke Singapura dan Malaysia..."


"Kami mau ke New York, Paris dan London."


Gatot membeku dan menoleh ke arah belakangnya. Tampak Dewa berdiri disana dengan wajah dingin.


"Baru ke Maldives dibayarin mertua saja sombong !" ejek Dewa dengan nada sinis. "Jadi laki itu kudu modal !"


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa gaaaeeessss


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2