My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Tampon


__ADS_3

Acara Ulang Tahun Tamara Hamid


Dewa dan Alina melongo saat melihat bagaimana Zara dengan luwesnya memainkan piano mengiringi suara merdu Pramudya menyanyikan lagu It Will Rain dari Bruno Mars. Keduanya bisa melihat jika Pramudya dan Zara memiliki rasa satu sama lain.


Valentino dan Katya mendekati pasangan Dewa dan Alina yang juga surprise dengan kemampuan Zara. Ditambah setelahnya gadis itu memainkan lagu Canon D Major karya J.C Palchelbel dengan sentuhan rock dan upbeat, membuat semua tamu undangan terpesona termasuk Dewa dan keluarganya.


"Ternyata pacarnya Pram berbobot..." komentar Valentino. "Dia luwes sekali memainkan pianonya."


"Aku saja tidak sebagus Zara memainkan pianonya meskipun aku bisa..." timpal Katya.


"Pantas Pramudya milih dia, wong punya bakat terpendam dan jauh lebih benar daripada nenek peyot itu ..." gerutu Dewa yang mendapatkan cubitan dari Alina.


"Mas Dewa !" tegur guru TK itu gemas.


"Tapi benar kok ! Zara lebih semuanya dari si Tampon itu..." celetuk Valentino membuat Alina dan Katya mendelik.


"Vale !"


"Mas Valentino !" seru dua wanita itu bersamaan.


"What?" Valentino menatap dua wanita di hadapannya dengan wajah polos.


Apa itu Tampon? Tampon adalah salah satu jenis pembalut wanita berbentuk silinder yang digunakan dengan cara memasukkannya ke dalam lubang v@gin@. Tampon dilengkapi oleh aplikator yang terbuat dari tabung kardus atau plastik untuk memudahkan pembalut tersebut masuk ke dalam lubang v@gin@. Di Indonesia nyaris tidak pernah melihat tampon karena pemakaian nya yang ribet dibandingkan dengan pembalut biasa.


Dewa sudah cekikikan mendengar ucapan sepupunya. Di keluarga besarnya, sudah biasa mengganti nama orang seenaknya dan tidak boleh marah karena sudah menjadi resikonya punya nama bisa diganti.


Pramudya dan Zara pun turun dari panggung sambil bergandengan tangan, menuju ke arah empat orang di sana.


"Waaaaahhhh, aku tidak mengira kamu bisa main Canon in D Major dengan gaya rock brutal begitu !" senyum Katya yang memang bisa bermain piano. "Aku kalah level." Wanita berdarah Spanyol itu langsung memeluk Zara.


"Iya lho. Sekali lagi, jangan judge a book from the casing..." timpal Alina yang bergantian memeluk Zara. "Aku sangat suka melihat wajah si tempayan itu berubah menjadi ungu dan macam nenek sihir !" bisik guru TK itu.


"Sayang, kamu sudah ketularan penyakit bobrok keluarga aku... " tegur Dewa yang mendengar ucapan tunangannya. "Lanjutkan !"


Pramudya dan Valentino tertawa mendengar ucapan Absurd Dewa ke gadisnya.


Wajah Zara tampak memerah mendapatkan pujian dari dua wanita cantik yang merupakan pasangan pengusaha muda yang terkenal.

__ADS_1


"Lihatin deh mukanya si Mak lampir... Macam kena tampol panci..." bisik Dewa ke kelima orang yang bersamanya.


"Mas Dewa !" tegur Alina gemas.


"Lho itu kenyataannya Jeng Alina sayang. Mukanya kan masih bagus aku bilang kena tampol panci daripada kena tahi cacing!" balas Dewa cuek membuat Zara melongo sedangkan Valentino dan Katya sudah melengos.


"Mas Pram... "


"Ya Zara?" Pramudya menatap lembut ke Zara.


"Tahi cacing itu seperti apa?" tanya Zara polos membuat Pramudya terbengong bengong.


"Tanya saja sama Dewa !" ucap Pramudya akhirnya dengan nada kesal.


"Kamu nggak tahu Zara? Jadi tahi cacing itu macam..." Dewa membisik kan sesuatu ke Zara dan membuat wajah gadis itu memucat.


"Pak Dewa jorok !" pekik Zara sedangkan Dewa tertawa terbahak-bahak melihat wajah gadis itu tampak jijik.


"Baru tahu kalau sepupuku jorok?" kekeh Pramudya.


"Mas Dewa ! Jorok !" hardik Alina kesal.


Dewa tertawa terbahak-bahak, senang membuat semua orang sebal.


Seorang pelayan menemui keenam orang itu dan meminta mereka masuk ke dalam ruang makan untuk makan malam khusus bersama dengan tamu undangan VIP lainnya.


Keenamnya saling berpandangan tapi mereka pun berjalan mengikuti pelayan itu. Dewa menoleh ke arah Valentino dan keduanya seperti ada kode tersendiri yang membuat Alina dan Katya sudah hapal jika pasangan mereka tidak nyaman dengan permintaan tuan rumah.


Enam orang tersebut masuk dan sudah ada beberapa orang dari kalangan atas disana termasuk Irjen Randy Hutabarat yang tersenyum melihat keponakannya datang. Bagi Randy, keponakan David adalah keponakannya dia juga.


Zara duduk diantara Pramudya dan Valentino lalu bersiap untuk santap malam. Mereka berada di depan Tamara persis hingga Zara tahu jika gadis itu berusaha mempermalukan lagi dengan gala dinner yang lengkap seperti ini.


"Nona Zara, permainan pianonya bagus sekali" puji Randy yang membuat Zara tersipu.


"Terimakasih Pak..." jawab Zara malu-malu karena tahu siapa pria paruh baya tersebut dari Pramudya bernama Irjen Randy Hutabarat, Oom mereka.


"Nona Zara belajar dimana?" tanya seorang wanita dengan memakai perhiasan yang mencolok.

__ADS_1


"Dari nenek saya. Beliau adalah guru piano dan dari kecil sejak usia empat tahun, saya sudah bermain piano."


"Orangtua nona Zara pengusaha apa?" tanya pria tua lainnya.


"Orangtua saya hanya pegawai biasa dan sudah meninggal dua-duanya. Saya hanya tinggal bersama dengan nenek saya."


Tamara menatap sinis ke Zara. "Jadi itu yang membuat kamu bisa mendapatkan mas Pramudya. Menjual kesedihan?"


Pramudya tampak geram namun Zara memegang tangannya. "Saya tidak menjual kesedihan karena bagi saya, jika boleh memilih saya ingin orang tua saya hidup bukan tewas karena kecelakaan. Seharusnya anda bersyukur nona Tamara... Memiliki orang tua dan kekayaan itu suatu anugerah. Bukan memupuk kebencian yang tidak akan ada akhirnya karena penyakit hati adalah penyakit paling berbahaya di dunia ini" jawab Zara tenang dengan tatapan lurus ke arah mata Tamara.


"Ehem, mari kita semua makan... " senyum Hamid guna menetralisir suasana tidak nyaman yang dilakukan putrinya.


Dewa dan Valentino menatap tajam wajah Tamara sedangkan Alina dan Katya berusaha menahan emosi kedua pria mereka.


"Sekali lagi nenek lampir itu berbuat ulah di meja makan, kita pulang !" putus Valentino ke Katya sambil berbisik.


"Iya Vale. Aku juga tidak nyaman dengan suasana seperti ini" balas Katya. "Macam tidak menghormati tamu yang ada di meja makan."


"Dasar terlalu dimanja !" balas Dewa ke Valentino yang duduk di sebelahnya.


"Bilang sama Pram, jaga itu Zara ! Dia bukan dari keluarga kaya tapi dia memiliki manner lebih kaya daripada si nona rumah !" ucap Valentino dingin.


Dewa sudah hapal kalau Valentino keluar judesnya, mirip Hoshi, berarti dia sudah kesal luar biasa. Pria ganteng itu menowel bahu Pramudya.


"Zara-san kiwotsukete ne. Kare wa totemo kichōna sonzaidesu ( Jaga Zara. Dia sangat berharga )" ucap Dewa serius dengan bahasa Jepang yang dijawab anggukan oleh Pramudya.


"Iya Wa."


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2