My Kindergarten Teacher

My Kindergarten Teacher
Kok Bisa?


__ADS_3

Dewa dan Alina duduk di pinggir trotoar sambil manyun. Gara-gara Alina, Dewa tampak terpesona dengan ucapan gadis itu soal menjadi imam yang dibanggakan, akibatnya dia Meleng dan setirnya pun oleng ke kiri lalu menabrak trotoar. Beruntung tidak terjadi tabrakan karambol dan mobil merah kesayangan Dewa harus rusak bemper depannya.


Petugas polisi yang melihat itu langsung menghampiri dan meminta keterangan dari Dewa. Bahkan pria itu harus dites apakah mabuk atau tidak meskipun hasilnya kebanyakan durian.


Sekarang keduanya menunggu Mobil derek dari brand mobil Dewa untuk segera dibenarkan dan juga menunggu Ragil datang.


"Maaf ya mas Dewa. Jadinya mobil mas Dewa rusak deh..." Alina menatap Dewa takut-takut.


"Nggak papa. Memang wayahe ( waktunya ) ganti bemper baru" jawab Dewa enteng.


"Tapi kan harga bemper kan mahal." Alina benar-benar merasa tidak enak membuat mobil kesayangan Dewa rusak.


"Hei, apa gunanya aku tiap tahun bayar asuransi?" Dewa menepuk kepala Alina pelan. "Sudah, tidak apa-apa..."


Alina tampak bersalah karena membuat Dewa harus pergi tanpa mobil kesayangannya karena harus menginap ke bengkel.


Tak lama, mobil derek pun datang dan Dewa mengurus semua administrasi nya bersamaan dengan kedatangan Ragil yang tampak bingung melihat mobil Bossnya ditarik mobil derek.


"Ada apa pak Dewa?" tanya Ragil setelah turun dari mobil Expander nya. "Kenapa Mazdanya diderek?"


"Nabrak" jawab Dewa pendek.


"Kok bisa?" tanya Ragil lagi sambil memeriksa bemper depan mobil Dewa yang lumayan babak bunyak karena menabrak trotar dan kursi yang berada disana.


"Buktinya bisa. Sudah lah Gil, jangan dibahas..." jawab Dewa yang sudah mengurus semua administrasi.


Ragil menoleh dan melihat wajah Alina yang tampak bersalah berada di dekat trotoar, membuat asisten Dewa itu mulai berpikir macam-macam.


"Pak Dewa dicium nona Alina?" Ragil menatap serius ke Dewa yang langsung mendelik sebal. Jika wajah Ragil tidak mode serius, Dewa bakalan menghardiknya. Tapi kenapa Ragil memasang wajah serius semakin membuat Dewa merasa jengkel kwadrat.


"Jangan membuat pitenah ! Alina bukan model cewek macam itu !" hardik Dewa yang tidak mau Ragil terlalu ikut campur.


"Pak Dewa, mobilnya kami derek ya" ucap petugas dari Mazda tersebut.


"Iya pak. Tolong dibuat kinclong lagi" balas Dewa. Setelahnya mobil mewah kesayangannya pun dibawa pergi dan Dewa menatap Ragil. "Jangan samakan Alina dengan cewek-cewek aku dulu ! Dia berbeda !"


Ragil pun mengangguk. "Maaf pak Dewa. Ngomong - ngomong, kok bapak bau durian?" Ragil memang tidak ikut bersama Dewa ke Sumatera karena dia pergi bersama dengan Syamsudin, wakil Bagas Hadiyanto.

__ADS_1


"Memang aku habis makan durian" jawab Dewa sambil menghampiri Alina.


"Durian Palembang?" tanya Ragil.


"Iyalah !"


"Bapak tidak bawakan buat saya?" tanya Ragil lagi sebab dirinya sangat penggemar buah berduri itu.


"Siape lu?" Dewa melirik sinis ke Ragil.


"Lha ? Bapak kok gitu sama saya?"


"Hukuman buat kamu yang sudah bikin pitenah ! Tidak ada durian untukmu Orgil ! Yuk Jeng Alina, kita pulang... Ubernya sudah datang !" ajak Dewa ke Alina mengacuhkan wajah sebal Ragil ke Bossnya.


Paringi sabar ya Allah ... Nduwe boss kok ya luwih njelehi dibandingke The Devil wears Prada tho... Ragil hanya bisa membaca semua ayat pendek khusus buat Dewa agar bisa rada waras dikit tapi tampaknya tidak mempan...


Dewa menggandeng tangan Alina dan masuk ke dalam mobil Expander milik Ragil. Keduanya memilih duduk di kursi tengah, membuat Ragil menjadi sopir di mobilnya sendiri.


Mobil bewarna hitam itu pun mengantarkan Alina ke kost-kostan nya dan Dewa turun sampai Alina masuk ke dalam halaman kostnya.


"Sudah Jeng Alina... Tidak apa-apa. Beneran." Dewa memegang tangan Alina dan mencium punggung tangannya. "Jangan merasa guilty feeling. Memang wayahe ganti kok..."


Wajah Alina memerah saat Dewa mencium punggung tangannya.


"Sudah, masuk dan beristirahat lah... Good night Jeng Alina..." senyum Dewa.


"Good night, mas Dewa. Hati-hati..." balas Alina lembut.


***


Keesokan harinya, Dewa mendapatkan kabar dari Radeva Dewanata bahwa mereka akan pergi ke Jakarta.


"Lha ngapain kalian ke Jakarta? Bokap gue malah mau ke New York" ucap Dewa saat Radeva melakukan panggilan video. New York sudah malam sedangkan Dewa sudah berada di ruang kerjanya untuk bekerja di Senin pagi ini.


"Aku mau bawa sekretaris nya mas angin topan..." cengir Radeva.


"Oh yang namanya Ajeng itu?"

__ADS_1


"Iyee yang bikin gegeran elu sama mas Lisus pas kita berada di Brussels" cengir Radeva.


"Tunggu Deva, kamu mau bawa Ajeng ke Jakarta... Lha si angin kentut kemana?" tanya Dewa asal membuat Radeva tertawa terbahak-bahak.


"Angin kentut... Kacau deh ... Mas Lisus harus ke Washington jadi Ajeng aman sentosa buat dibawa pergi ke Jakarta..." senyum Radeva usil.


"Deva, itu namanya penculikan !" ucap Dewa.


"Penggunaan kata penculikan itu macam aku itu kriminal saja sih..." gerutu Radeva.


"Karena itu memang penculikan !! Kamu membawa pergi Ajeng tanpa persetujuan mas Lisus ! Eh tapi kalau Ajeng mau diculik itu berarti penculikan konsensual? Atau ikhlas dibawa pergi? Tunggu, kok jadi aneh kesannya..." gumam Dewa.


"Eniwaaiiii, pokoknya aku mau bawa Ajeng ke Jakarta untuk bertemu dengan Oma Gendhis dan Opa Bara. Lagipula kapan lagi bisa bawa wong Solo ketemu sama wong Solo..."


"Ajeng itu wong Solo?" seru Dewa.


"Hu um. Makanya itu, aku ingin kalian semua bertemu dengan Ajeng... Dia sangat-sangat receh dan menyenangkan..." jawab Radeva.


"Va, kalau mas tolak angin itu mulai ngereog dan mulai keluar F-5 Twister nya berarti itu salah kamu dan Devan yang menjadi bocil kematian" celetuk Dewa serius.


"Tenang, mas Lisus tidak akan jadi F-5 ataupun F-10 karena kita memiliki pawang nya. Jika mas Lisus mulai gedubrakan, tinggal kasih Ajeng didepan kita, dijamin mas Lisus bakalan langsung auto diam karena Ajeng macam kryptonite nya" sahut Radeva dengan wajah begitu yakinnya bahwa mereka akan selamat dari kakak mereka yang panasan.


"Gue kagak ikutan ya Va, kalau pada akhirnya kalian terkena dragon breath yang bisa bikin kalian gosong seketika..."


"Tenang saja Wa, tidak akan terjadi apapun pada aku dan Devan. Yakin deh !" balas Radeva jumawa.


Entah kenapa perasaan Dewa tidak enak karena bagaimana pun Bayu O'Grady bukanlah orang bodoh untuk tidak menghukum Radeva dan Devan..


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️

__ADS_1


__ADS_2