
Pagi ini Alina sudah siap di kediaman keluarga Bagas Hadiyanto guna menghadiri pesta pernikahan Pramudya dan Zara Aulia. Akhirnya, mereka pun menikah dan Alina sangat bahagia mendengarnya.
Semalam Alina memang menginap di rumah Dewa agar besok pagi tidak repot harus menjemputnya di kost. Sekarang mereka sudah bersiap menuju rumah Pramudya karena acara pernikahan diadakan disana.
"Kalian kompak deh pakai gaun merah maroon" komentar Dewa yang keluar dengan batik tulis warna senada dengan gaun Alina.
"Lha kamu juga samaan warnanya ma Alina" komentar Bagas yang memakai sarimbit dengan Safira.
"Kan biar kompak pak Bagas tersayang..." cengir Dewa.
"Kok kamu bilang gitu malah bikin papa merinding... Kalau mamamu malah berdesir wuuuiiinnnggg..." ejek Bagas membuat Dewa memicingkan matanya sebal ke ayahnya.
"Bokap reseh !"
"Anak Durhakim !"
"Bokap... Aaadduuuuhhhh duh !" teriak Dewa dan Bagas bersamaan karena mendapatkan jurus jepitan telinga dari Safira.
"Kalian berdua ! Berisik !" bentak Safira gemas. "Sudah, kita berangkat ! Ampun deh !"
Alina hanya cekikikan melihat dua pria itu meringis kesakitan sembari memegang telinga masing-masing.
***
Acara pernikahan Pramudya dan Zara memang sengaja dibuat sederhana tapi sesederhana nya keluarga Hadiyanto, tetap saja kesan mewah tidak lepas.
Pramudya hanya bisa menghela nafas panjang melihat kehadiran para keluarga besar Dewananda Hadiyanto ke rumah miliknya. Memang Oma Angela mengundang secara khusus ke keluarga Reeves, Giandra, Lexington, Yung dan Baskara yang berada di Jakarta.
Pramudya tersenyum lelah melihat kerusuhan antara Dewa, Valentino dan Arkananta saat menghampiri dirinya.
"Akhirnya gue dilangkahi dah sama bocah satu ini" ucap Dewa sambil memeluk Pramudya.
"Tenang, tidak ada Tanjidor maupun barongsai meskipun kepikiran" timpal Valentino bergantian memeluk Pramudya.
"Barongsai keren lho... Apalagi kalau..."
"Stop, Ka ! Sudah, jangan macam Dewa lamaran. yang jadi pesta rakyat. Aku maunya tenang dan tidak rusuh !" kekeh Pramudya sambil memeluk Arkananta.
"Hahahaha, bukankah itu sangat bagus ?" gelak Valentino. "Salah siapa mau diam-diam Bae !"
"So, kamu sudah siap?" tanya Dewa.
"Insyaallah." Wajah Pramudya tampak bahagia. Berbalut jas bewarna putih gading, Pramudya sangat tampan hari ini. "Ngomong-ngomong, kalian kok bisa kompak datang ke acara nikahan aku?"
"Jadi begini Pram..." Arkananta merangkul bahu sepupu iparnya. "Harusnya kita-kita itu ke New York buat datang ke acara nikahannya Nadya dan Omar. Sayangnya, mereka juga maunya keluarga New York saja yang datang. Kami gabut lah... Jadi pas kamu nikah sehari sebelum Nadya, ada penghibur agar jiwa rusuh kami tersalurkan..."
Pramudya menatap horor ke Arkananta. "Please deh, jangan bikin rusuh kalian..."
Arkananta nyengir. "Insyaallah... tapi nggak janji ..."
***
Ucapan kata 'SAH' terdengar usai Pramudya mengucapkan ijab qobul. Karena Zara sudah tidak memiliki siapa-siapa, wali hakim lah yang bertindak sebagai wali nikahnya. Pramudya tampak senang karena tidak terjadi hal-hal yang diharapkan trio rusuh Jakarta, Arkananta - Valentino dan Dewa. Bisa menjadi bulan-bulanan kena ejek yang bakalan diungkit setiap saat.
Dewa dan Alina saling berpegangan tangan karena tahu tahun depan giliran mereka yang akan melakukan ijab qobul seperti halnya Pramudya dan Zara.
__ADS_1
Usai ijab qobul, semua tamu undangan pun mengucapkan selamat pada pengantin baru itu termasuk Dewa dan Alina.
"Tar gue nyusul chuy" ucap Dewa ke Pramudya.
"Tapi masih tahun depan katanya?"
"Iyeee Pram. Parah deh keluarga gue dari trah nyokap. Kawin aja borongan macam khitan massal... " jawab Dewa asal membuat Alina dan Zara mendelik judes.
"Mas Dewa !" hardik Alina gemas.
"Apaan sih?" Dewa menoleh ke Alina dengan waja polos.
"Selamat ya pak Pramudya dan nona Zara..."
Keempat orang itu menoleh dan tampak Ragil datang bersama Chika Felisha, kekasihnya.
"Lha apa hal kamu panggil Pram, bapak tapi manggil Zara nona ? Harusnya Bu Zara dong..." ujar Dewa dengan wajah menegur.
"Baik pak Dewa. Nanti saya koreksinya..." jawab Ragil tanpa ada niatan untuk membantah Bossnya karena bakalan lama.
"Selamat Pak Pramudya, Bu Zara. Aku senang akhirnya happy ending buat kalian berdua ..." ucap Chika tulus sambil menyalami Pramudya dan Zara. "Oh Bu Zara..." Chika membisikan sesuatu ke istri Pramudya itu. Wajah Zara tampak memerah dan menatap Chika dengan tatapan tidak percaya.
"Mbak Chika... Masa sih? Kan aku jadi nggak enak ..." Zara menatap Pramudya dan keempat orang lainnya dengan waja gugup.
"Kamu ngomong apa Chika?" tanya Ragil yang sudah was-was.
"Ada deh ! Yang jelas bukan hal yang buruk kok" jawab Chika santai.
"Awas kalau aneh-aneh ! Saya kirim ke Sorong !" ancam Dewa.
"Sorong ke kiri Sorong ke kanan... Lalalalala..." Dendang Chika dan Alina kompak membuat Dewa melongo.
"Lha bukannya Nona Alina ketularan dari pak Dewa duluan? Suhu rusuh dan kacau siapa dulu kalau bukan bapak?" balas Ragil tidak mau disalahkan.
Pramudya hanya memegang pangkal hidungnya yang mancung dengan gemas sedangkan Zara sudah cekikikan melihat keributan iparnya.
"Kan aku sudah bilang, untung aku keturunan Hadiyanto 90% . Berbeda sama Dewa yang 99% keturunan Pratomo, 1% nya Hadiyanto !" ucap Pramudya ke Zara yang tidak berhenti tertawa.
***
Dewa memilih menuju panggung hiburan untuk menjebak Pramudya.
"Pram ! Main piano dong !" panggil Dewa via mic. "Kasih persembahan lah buat istrimu."
Pramudya menoleh ke arah Zara yang mengangguk. "Main lah mas. Pengen tahu mau kasih aku lagu apa..." senyum Zara manis.
"Okelah. Siapa takut." Pramudya pun menuju grand piano miliknya yang sengaja dikeluarkan untuk menghibur tamu. Kini dirinya duduk di depan piano kesayangannya dan bersiap.
"Lagu ini aku persembahkan khusus untuk istriku yang cantik dan perfect di mataku... " Tak lama mengalunlah intro Beautiful in White dari Shane Filan.
"What we have is timeless
My love is endless
And with this ring I
__ADS_1
Say to the world
You're my every reason
You're all that I believe in
With all my heart I mean every word
So as long as I live I love you
Will haven and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight.."
Zara menatap Pramudya dengan penuh cinta dan hatinya langsung meleleh mendengar lagu cinta paling terkenal dikumandangkan di pernikahan. Tapi kalau yang menyanyikan dan bermain piano adalah suami sendiri, itu sangat-sangat romantis.
Sedikit kesulitan Zara pun menghampiri Pramudya usai menyanyikan lagu itu dan mencium bibir suaminya, mengacuhkan suara riuh di sekelilingnya. Mereka ikut larut melihat pasangan romantis itu.
***
"Duh ternyata Zara sama Pram itu romantis ya mas..." ucap Alina saat mereka berada di teras belakang kediaman Keluarga Bagas Hadiyanto usai acara pesta pernikahan.
"Lha kamu kira aku tuh nggak romantis Jeng Alina? Jadi lagu KKEB dan bidadari yang aku nyanyikan itu nggak romantis? Kurang?" pendelik Dewa membuat Alina tertawa terbahak-bahak melihat wajah menggemaskan tunangannya.
"Romantis kok mas. Ohya, kira - kira besok kita menikah, mas Dewa mau nyanyiin lagu untuk aku kan?" pinta Alina dengan senyum manis.
"Oh ya mesti. Dewananda Hadiyanto ini adalah pria paling romantis di dunia... Dengan gayanya sendiri. Harus orisinil dong !" jawab Dewa jumawa.
"Percaya kok mas..." Alina memegang wajah Dewa. "Mas Dewa itu romantis nya out of the box .."
Gadis itu menempelkan bibirnya ke bibir Dewa.
"Astaghfirullah! Dewa ! Kok kamu main cium-cium Alina !" teriak Safira.
Dewa dan Alina langsung melepaskan ciumannya.
"Bukan Dewa yang cium Alina Ma! Alina yang cium Dewa !"
"Bohong ! Masa Alina berani cium kamu duluan!" bentak Safira.
"Sumpah Pramuka Mamaaaaa... Kali ini Mama salah tersangka !" rengek Dewa.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa
thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️