My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 16


__ADS_3

Dia berjalan menuju kafe utk membeli minuman. Dilihatnya Fara sedang mengantre.


''Hai Fara,'' sapa Niko.


Fara berbalik perlahan. ''Niko, hai. Mau antre beli minuman juga?'' 


Niko mengangguk. Saat antrean sampai pd giliran Fara, Niko menyela. ''Biar aku yg traktir.''


Fara keberatan dgn usul itu. ''Tidak usah, Niko, biar aku bayar sendiri saja.''


Tapi Niko sudah memesan pd petugas kafe. ''Kopi dingin, dua.'' ''Niko,'' sela Fara lagi.


''Aku tahu kau tidak mau ditraktir. Tapi anggap saja ini hadiah karena sudah membuat kelas kita menang sewaktu bazar dulu. Aku belum sempat mengucapkan selamat padamu.''


"Ehm... bukan begitu,'' lanjut Fara ragu. ''Bisakah kau mengganti pesananku? Aku tidak bisa minum kopi. Ganti jus jeruk saja.''


Niko keheranan. ''Kau tdk bisa minum kopi?''

__ADS_1


Fara mengangguk. ''Aku pernah mencobanya sekali. Tapi perutku langsung mual. Jadi sejak itu aku menghindari kopi. Aku rasa kopi kurang cocok utk perutku.''


''Baiklah,'' kata Niko, lalu berkata lagi pd petugas kafe, ''Ganti pesanannya, satu kopi dingin dan satu jus jeruk.''


''Terima kasih,'' kata Fara.


Mereka duduk berdua di kafe menunggu pesanan.


''Di mana Erika? Dia tdk bersamamu hari ini?' 'tanya Fara bingung. Biasanya Erika selalu berada disamping Niko.


''Dia pergi keluar kota. Ada kompetisi marching band disana,'' kata Niko memberi penjelasan. ''Dia baru saja mengirimiku kabar. Katanya dia lebih suka berada disini. Tapi bagaimanapun, sebagai ketua klub, dia harus berada di sana. Lagi pula, ini kompetisi terakhir yg akan dia hadiri.''


Niko tersenyum. ''Ya, dia memang hebat.''


Sang pelayan kafe mengantarkan pesanan mereka. Niko menyodorkan jus jeruk di depannya utk Fara. Keheningan meliputi ke duanya. Niko meletakkan gelas kopinya di meja.


''Kita jarang berbicara lagi sejak bazar waktu itu.''

__ADS_1


Fara berhenti meminum jusnya. ''Ya, aku tahu.''


''Kau tdk perlu merasa bersalah. Aku sudah melupakan masalah itu. Aku sudah baikan dgn papa,'' kata Niko memberi penjelasan.


''Syukurlah,'' ujar Fara lega.


''Aku tdk pernah menyalahkanmu. Maafkan aku, aku tdk ingin kau jd tdk enak hati karena kejadian itu.'' Niko menatap Fara seakan meminta maaf.


Fara menggeleng cepat. ''Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Aku yg minta maaf karena sudah mencoba meyakinkanmu utk memajang gambarmu.''


Niko tersenyum. ''Sudahlah, lupakan saja masalah itu. Aku senang waktu gambarku dipajang. Hampir semua orang mengatakan gambarku bagus.'' (''kecuali papamu,'') pikir Fara. ''Saat itu aku benar-2 puas,'' lanjut Niko lagi.


Fara menatap Niko dgn lembut. ''Kau memang berbakat, seandainya kau menjadi perancang perhiasan, aku pasti akan memakai perhiasan buatanmu.''


Niko tertawa pelan, ''Terima kasih.'' Lalu mata Niko menerawang dan dia menatap Fara lagi. ''Aku sudah menyukainya sejak kecil. Waktu umurku 10 tahun, papa dan mama mengajakku ke pameran perhiasan. Dan saat itu aku melihat kalung berlian yg sangat indah. Mataku tak bisa berpaling dr situ, menurutmu aneh tdk kalau seorang pria menyukai perhiasan wanita?''


Fara menggeleng. ''Tidak''

__ADS_1


“Tampaknya hanya kau yg tdk menganggapnya aneh.'' Niko tersenyum lagi. ''Orang tuaku manganggapnya aneh. ''Menurut mereka aku tidak cocok menjadi perancang perhiasan. Lagi pula orangtuaku ingin aku menjadi seperti mereka.''


Fara tdk tahu bagaimana perasaan seorang anak yg ditentang orangtua utk meraih keinginannya, karena selama ini mama selalu mendukungnya. Pasti perasaan Niko sedih sekali. Apalagi waktu itu Niko masih kecil.


__ADS_2