
Papa memandang Niko dengan kesal. Putranya sudah berani menentang keinginannya tahun lalu. Dia menyangka seiring berjalannya waktu,putranya tidak akan bertahan dengan pilihannya. Tapi pilihan Niko untuk tidak pulang saat liburan membuat papa menyangsikan hal itu. Niko tidak pernah meminta bantuannya dan tidak pernah menghubunginya. "Kalau kau ingin kuliah di sini, papa bisa mengaturnya. Banyak kuliah kedokteran yang bagus di New York. Kau masih bisa masuk semester depan."
"Papa masih belum menyerah?" kata Niko keras. Hatinya benar-benar kesal. "Aku tidak akan masuk kuliah kedokteran, tidak di sini, tidak di mana pun, sampai kapan pun. Kenapa papa tidak pernah menghargai pilihanku? Aku menyukai perhiasan dan aku tidak akan melepaskan impianku."
Papa mengepalkan kedua tangannya menahan marah. "Kau tidak akan bertahan lama. Suatu saat nanti kau pasti akan memohon pada papa dan meminta bantuan papa."
"Aku rasa tidak, pa. Aku sudah bisa bertahan sampai sekarang tanpa bantuan papa. Seharusnya itu menjadi indikasi bahwa aku tidak akan pernah mewujudkan impian papa untuk menjadi dokter." kata Niko tegas. Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat itu usianya baru dua belas tahun, papa menyuruh Niko menghafal nama latin seluruh anatomi tubuh. Setiap hari, saat sarapan, papa selalu mengadakan kuis untuk mengetahui perkembangan hafalan putranya. Kalau melakukan kesalahan, Niko harus menghafal ulang dari awal. Niko tidak pernah menyukai kuis tersebut.
"Sekarang kau sombong sekali." Papa menatap putranya dengan kesal. "Papa ingin lihat sampai kapan kau bisa seperti ini. Jangan harap papa akan membantumu saat kau menyadari kau telah membuat pilihan yang salah dan menyesalinya."
Niko kesal bukan main. "Papa tenang saja. Aku tidak akan pernah memohon untuk meminta bantuan papa."
"Hentikan kalian berdua." Mama berdiri dan menengahi keduanya. Mama tahu keduanya samasama keras kepala.
__ADS_1
"Maaf, ma." Niko menatap mama dan tahu hati mama sedih melihat kedua orang yang paling disayanginya bertengkar. "Aku tidak ingin berdebat lagi dengan papa," kata Niko pada papa. "Sebaiknya papa pergi sekarang."
Papa berdiri dan menatap putranya sekali lagi dengan penuh kekesalan. "Ayo, kita pergi saja!" katanya pada istrinya.
Mama hanya mendesah sambil menarik napas. Ia mengusap wajah putranya dengan lembut, kemudian mengikuti suaminya keluar dari apartemen.
Niko melihat punggung keduanya lenyap dibalik pintu. Ia merasa sedih dengan pertengkaran tadi. Bagaimanapun,papa adalah orangtuanya. Di lubuk hatinya yang terdalam, Niko masih menyayanginya. Niko takut kalau papa masih memaksanya seperti tadi, rasa sayangnya akan terkikis perlahan-lahan dan digantikan rasa benci. Niko tidak mau itu sampai terjadi. Dia benarbenar berharap papa dapat mengerti pilihannya suatu hari nanti.
Aktivitas Niko keesokan harinya sama seperti sebelumnya. Malam harinya ketika dia sudah sampai di lobi depan apartemen, mama sudah menunggunya. Kali ini tanpa papa. Mama menggenggam tas belanja. Mama tersenyum melihat putranya, dan Niko balas tersenyum.
"Mama mau minum apa?" tanya Niko setelah mereka berada di apartemennya.
__ADS_1
"Teh saja," kata mama sambil melihat-lihat ruangan tempat Niko tinggal beberapa bulan ini. Ruang tamu yang luas, dua kamar tidur, dan satu dapur." Apartemenmu terlihat sangat nyaman.
Kau betah tinggal disini?"
Niko menghangatkan air untuk membuat teh. "Ya. Papa tidak menemani mama?"
Mama duduk di sofa putih ruang tamu. "Mama yakin kalian pasti bertengkar lagi kalau bertemu.”
Niko memutuskan untuk tidak berkomentar.
Suara air mendidih mengalihkan perhatiannya. Dia mematikan kompor dan mulai menyeduh teh hangat untuk mama.
"Kau suka dengan pelajaran gemologimu?" tanya mama sambil menghirup perlahan teh yang dibuat putranya.
__ADS_1
Niko mengangguk. "Aku sangat menyukainya."