
Erika berkata lemah. "Aku jatuh dari tangga."
Tangan Erika memeluk perut Niko. "Pungung dan kakiku sakit sekali."
Niko mengecek kaki Erika yg lebam. Lalu dia menengadah, menatap Fara yg panik di depan Erika.
Erika mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan simpati Niko. "Fara mendorongku."
Niko terkejut tidak percaya. "Apa?"
Salah seorang teman Niko membenarkan perkataan Erika.
"Aku melihat mereka bertengkar di tangga. Lalu Fara mendorong Erika sampai terjatuh." Fara merasa dunianya hancur saat itu. Niko membopong Erika perlahan.
Fara melangkah maju. "Aku tidak bermaksud untuk..."
Niko menatap Fara dengan dingin. "Sekarang aku tidak ingin mendengar penjelasanmu."
Para murid mengikuti langkah Niko, meninggalkan Fara seorang diri.
Fara tidak bisa bernapas. Hatinya terasa sesak. Sepasang mata cokelat hangat yg pertama kali ia lihat dua tahun lalu, kini berubah dingin. Ia jatuh terduduk. Air mata membasahi pipinya. Fara menangis terisak isak.
__ADS_1
Setelah itu ia tidak sadar lagi apa yg terjadi. Mulai dari perjalanan pulang dari pantai ke sekolah sampai perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Ketika tiba di depan rumahnya, waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Fara membuka pintu rumah dengan lemas.
Lampu ruang tamu masih menyala.
"Fara?" tanya mama yg sedang duduk di ruang tamu, tampak khawatir. "Mama mencoba meneleponmu beberapa kali, tapi kau tidak menjawab teleponmu. Mama benar-benar khawatir....
Mama..."
Mama berhenti berbicara ketika melihat Fara termenung dan membisu.
"Ada apa?" tanya mama bingung. "Mengapa kau seperti ini?"
Kaki Fara lemas dan terduduk di lantai. Mama langsung menyadari sesuatu yg buruk telah terjadi pd putrinya.
"Apa yg terjadi?"
Fara akhirnya menatap mama dengan tatapan kosong.
"Mama, maaf aku tidak memberi kabar."
Mama semakin kebingungan. "Tidak apa-apa, tapi kau kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu Hp ku dimana," kata Fara dengan tatapan kosong. "Sepertinya aku menghilangkannya."
"Itu tidak penting." Mama mulai menggucang pundak Fara dengan kencang. "Ada apa denganmu?"
Air mata Fara mengalir lagi. Fara menangis sekencang-kencangnya sambil memeluk mama. "Sakit sekali, Ma," isak Fara. "Hatiku sakit sekali."
Mama hanya bisa balas memeluk. Ia membiarkan putrinya menangis sepuasnya. Beberapa lama kemudian, tangis Fara berubah menjadi isakan perlahan.
Mama melepaskan pelukannya dan menyuguhkan segelas air putih pd Fara. "Minumlah," katanya lembut. "Setelah itu sebaiknya kau beristirahat di kamar." Fara mengangguk dan meminum air yg diberikan mama.
Mama membantu Fara berdiri lalu memapahnya ke kamar tidur. Setelah Fara berbaring di ranjangnya, mama menyelimutinya lalu mengecup keningnya. "Tidurlah."
Setelah mama pergi, meskipun lampu telah dimatikan, Fara tetap tidak bisa tidur. Ia masih mengingat kejadian sebelumnya. Erika terjatuh dari tangga. Tatapan Niko yg dingin padanya. Fara tahu dirinya akan berpisah dengan Niko, tetapi ia tidak ingin perpisahannya berakhir dengan kejadian yg menyakitkan seperti ini.
Ketika mama mengetuk pintu kamar Fara keesokan paginya, ia melihat putrinya sudah bangun dan memakai seragam.
"Kau sudah bangun", seru Mama.
Fara tersenyum. (Aku tidak tidur sama sekali.) "Ayo kita sarapan," ajak mama.
Di meja makan, Fara sarapan dengan tenang.
__ADS_1
"Kemarin mama lupa bilang, kepindahan kita dipercepat tiga hari. Kita harus pindah besok," katanya hati-hati. "Tampaknya kau tidak bisa mengahadiri wisudamu. Tapi kalau kau ingin menghadirinya, Mama bisa memesan tiket yg lain untukmu. Nanti kau tinggal menyusul mama".