My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 50


__ADS_3

"Terima kasih...." Si pelanggan melihat bagian atas saku Niko dan membaca namanya, "Niko." "Panggil saya kalau anda masih membutuhkan pesanan lain," kata Niko sopan.


Setengah jam kemudian, Niko menerima tips dari pelanggan wanita itu. "Terima kasih," ucapnya.


Tiba-tiba wanita itu menyodorkan selembar kertas putih. "Nomor teleponku," katanya. "Namaku Michelle. Telepon aku kapan-kapan."


Niko tersenyum dan memberikan kembali kertas tersebut pada wanita itu. "Maaf, aku tidak bisa menerimanya."


Michelle mengangguk mengerti. "Kau sudah punya seseorang."


Niko hanya tersenyum tanpa menjawab.


"Baiklah," kata Michelle, lalu mengambil kertas yang ditulisnya dan keluar dari kedai.


Saat Niko duduk beristirahat di meja kasir, Mike mendekatinya.


"Aku sudah sering melihatmu menolak nomor telepon para wanita. "Mike menggelengkan kepala. " Kau punya pacar?"

__ADS_1


Niko menggeleng. "Tidak."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menerima salah satu dari mereka?" Mike menepuk pundak Niko perlahan.


Niko memandang Mike dengan tatapan sedih. "Hatiku belum siap menerima seseorang."


Mike tertawa perlahan. "Masih belum bisa melupakan cinta pertamamu? Tidak ada salahnya kau mulai bertemu dengan wanita lain. Siapa tahu salah satu dari mereka bisa menyembuhkan luka di hatimu."


Niko tertawa mendengar nasihat Mike. "Cinta pertama? Aku tidak tahu apakah itu cinta pertama atau bukan. Tapi aku tidak bisa melupakannya."


"Kau benar-benar menyukainya, ya?" Mike melihat mata Niko bersinar sedih saat membicarakan orang yang disukainya.


Niko menggeleng. "Aku tidak tahu dia di mana sekarang."


Mike mendecak. "Sebaiknya kau mencoba melupakannya."


"Aku rasa aku tidak bisa melakukannya," Niko tersenyum sedih, mengenang masa lalunya. "Dia membantuku mengejar impianku."

__ADS_1


"Ah...." Mike mengangguk. "Apakah dia cantik?"


Niko tertawa mendengar komentar Mike. "Tidak," benak Niko mengingat wajah Laura. "Tapi dia cantik di mataku. Aku tidak tahu apakah suatu saat nanti aku bisa melupakannya atau tidak. Tapi saat ini aku tidak ingin memulai hubungan dengan seseorang. Tidak akan adil bagi wanita itu kalau hatiku tidak bersamanya. Bagaimana dengan istrimu, Mike? Aku dengar kau sudah menikah lebih dari dua puluh tahun."


Mike tersenyum. "Cinta pada pandangan pertama. Aku tidak pernah bersama wanita lain selain dengannya."


"Wah, aku benar-benar iri padamu, Mike." Niko tersenyum. "Aku harap aku bisa sepertimu."


Mike tertawa lebar. Tapi, sesuatu tampak ganjil. Tiba-tiba tawa Mike terhenti. Dia memegang dada kirinya lalu jatuh pingsan di lantai.


Niko berlutut di samping tubuh Mike. Para pelayan dan pelanggan yang melihat kejadian tersebut segera mendekati mereka. Niko menatap salah seorang pelayan dan memerintahkan dengan tegas. "Telepon 911!"


Niko melepaskan dasi Mike dan melonggarkan kerahnya. Dia mengecek denyut nadi di leher Mike dan tidak menemukannya. Niko memiringkan kepala Mike perlahan dan mengangkat dagunya. Dia memberikan napas buatan melalui mulut Mike dua kali. Lalu telinganya mencoba mendengar napas Mike kembali. Tapi tidak ada bunyi napas.


Niko menyilangkan kedua telapak tangannya di dada Mike dan mulai menekannya. "Satu... dua... tiga... empat... lima..." Niko menghitung dalam hati. "Ayolah, Mike, bernapaslah... satu....dua… tiga... empat... lima...." Niko menekan dada Mike.


Niko terus-menerus menekan dada Mike tanpa henti. "Ayolah, Mike. Bernapaslah."

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian Mike terbatuk. Niko bernapas lega. "Kau akan baik-baik saja, Mike. Teruslah bernapas perlahan."


__ADS_2