
Sang dokter menyuruh suster jaga untuk meminta informasi dari bapak tersebut, lalu membuka tas sang pasien, mengeluarkan Hp yang ada di dalamnya dan melihat daftar nama kontak yang terakhir meneleponnya. Saat menemukan nama *mama* di daftar tersebut, sang dokter langsung meneleponnya.
"Halo, Fara. Ada apa?" Sapa suara seorang wanita.
"Maaf, bu. Saya dokter sandra. Saya dokter jaga dirumah sakit pusat. Putri anda baru saja mengalami kecelakaan. Sebaiknya anda datang ke rumah sakit."
Terdengar teriakan histeris di ujung telepon. "Bagaimana keadaannya, dok? Apakah Fara, tidak apa-apa?"
"Saya belum tahu pasti. Untuk sementara ini putri anda masih dirawat." Dokter Sandra menarik napas perlahan. Memberitahukan kabar buruk kepada pihak keluarga bukanlah salah satu kegiatan yang disukainya. "Anda perlu datang secepat mungkin kerumah sakit pusat."
"Saya akan segera datang. Dokter....tolong... selamatkan putri saya," pinta suara dari seberang telepon.
"Saya akan berusaha, bu." Dokter Sandra menutup telepon, kemudian memerintah suster lain. "Tolong beritahu saya jika kerabat Fara, korban tabrak lari kita, datang ke rumah sakit. Dan tolong nanti berikan tas pasien pada mereka."
"Baik, dokter," kata sang suster sambil mengambil tas Fara dari tangan dokter Sandra.
__ADS_1
*********************************
Luki meneguk bir yang dibukanya setengah jam yang lalu. Setelah membaca semua kartu ulang tahun untuknya, dia memerlukan minuman. Mungkin besok dia harus berbicara dengan ibu tirinya.
Luki mendesah. Perasaanya tidak tenang. Dia meletakkan birnya. Dia bangkit dari kursinya, lalu masuk ke kamarnya dan mengambil kunci mobil. Dia tidak akan menunda sampai besok. Hari ini juga dia ingin berbicara dengan ibu tirinya.
Sesampainya di depan mobilnya, Luki mengernyit heran. Ada selembar kertas putih di sana. Luki membuka kertas tersebut. Lain kali tidak hanya pacarmu yang akan mengalami *kecelakaan*. Anggap saja ini peringatan karena kau telah berani menantangku.
Dragon.
Luki meremas kertas tersebut. Dia tidak mengerti apa maksudnya. ("Pacar? Aku tidak punya pacar. Jadi, siapa yang dia maksud?") Pikir Luki. Saat hendak masuk ke mobilnya, Luki baru tersadar. Minggu lalu, dia memukul seorang preman bertato naga. Napas Luki berhenti.
"Luki!" Teriak papa panik. "Fara kecelakaan. Sekarang papa dan Helen sedang dalam perjalanan ke rumah sakit pusat."
Luki menghentikan mobilnya tiba-tiba. Fara. Fara yang dimaksud Dragon.
Napasnya terengah-engah. Dia merasakan hal yang sama seperti saat ibunya meninggal. Kekosongan dan kesedihan. Dia memaksa pikirannya untuk tetap fokus dan mengendarai mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dokter Sandra berusaha menenangkan Charles Rafael dan Helen yang sedang panik.
"Putri anda sedang berada di ruang operasi," dokter Sandra menjelaskan dengan tenang. "Dokter Riswan adalah dokter bedah Ortopedi terbaik di rumah sakit ini. Beliau akan berusaha menyelamatkan putri anda.
Dokter Sandra melihat mama Fara menangis, sedangkan Charles Rafael memeluk pundak istrinya tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Terima kasih, dokter." Charles Rafael berusaha tersenyum.
"Saya akan kembali kalau ada kabar selanjutnya. Anda berdua harus tabah," dokter Sandra berusaha menenangkan.
"Terima kasih....", ucap Helen perlahan.
Dokter Sandra tersenyum, lalu pergi meninggalkan keduanya. Sepuluh menit kemudian, Luki melihat papa dan ibu tirinya menangis.
__ADS_1
"Bagaimana keadaannya?" tanya Luki panik.
Papa menjelaskan," Fara sedang di operasi. Masih harus menunggu kabar selanjutnya.