
Niko berlari ke meja tamunya dan menelepon nomor Erika.
"Erika," katanya cepat, "aku akan datang ke pesta reuni."
Erika terdengar senang dengan kabar tersebut. Selanjutnya, Niko mengetuk pintu apartemen Julien di lantai bawah.
"Aku harus pulang," kata Niko ketika Julien membuka pintunya.
"Apa maksudmu, pulang?” tanya Julien bingung.
"Beri aku waktu tiga hari. Aku harus pulang minggu depan," Niko memohon pada Julien.
"Apakah ada yang sakit? Orangtuamu?" Julien tidak pernah melihat Niko sepanik ini, bahkan pada saat tertekan karena tuntunan pekerjaan sekalipun.
"Bukan itu. Aku harus menemui seseorang. Aku harus menemuinya Julien." Niko menatap Julien dengan serius.
Julien menarik napas. "Seseorang yang istimewa, bukan?"
Niko mengangguk sambil tersenyum. "Seseorang yang telah membantuku mewujudkan mimpiku."
"Ah... gadis itu." Julien mengangguk-anggukan kepala. "Gadis yang memberikan karyamu beberapa tahun yang lalu. Aku mengerti. Pergilah."
__ADS_1
Niko memeluk Julien singkat. "Merci( terima kasih), Julien.”
Niko mulai menelepon bagian tiket penerbangan, dan langsung membeli tiket pulang untuk minggu depan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Niko memasuki area sekolahnya. Dia tersenyum. Sekolahnya tidak berubah. Ruang kelas masih mengelilingi lingkungan sekolah. Di tengah-tengah terdapat taman sekolah. Lalu lapangan basket. Niko berjalan menuju aula sekolah, tempat pesta reuni diadakan.
"Niko!" teriak Erika sambil memeluknya. "Aku senang sekali kau bisa datang."
Niko tertawa dan balas memeluknya. "Lama tidak bertemu Erika."
Niko menjabat tangan Ari. "Halo, Ari. Aku Niko."
Ari mengangguk. "Aku tahu."
Erika merangkul tangan Ari sambil tersenyum. "Ari seorang dokter."
Niko tertawa lebar, "Kau benar-benar menginginkan seorang dokter untuk jadi pacarmu ya."
__ADS_1
Erika menonjok pelan lengan Niko. "Hei. Aku juga dokter, tahu! Ehm, maksudku sekitar satu atau dua tahun lagi."
"Aku tidak pernah menyangka kau masuk kedokteran." Niko terkejut.
"Salah sendiri tidak pernah mengontakku. Aku harus menyambut peserta lain," kata Erika sambil tersenyum. "Silahkan berkeliling sendiri, oke?"
Niko mengangguk. "Baiklah."
Pandangan Niko menyapu seluruh ruang aula. Dia mengenal teman-teman sekolahnya dulu dan tersenyum lalu mulai menyapa mereka. Kebanyakan dari mereka sudah bekerja atau ada yang masih kuliah.
Setelah menyapa hampir semua orang yang dia kenal, Niko duduk di sebuah meja yang menghadap pintu masuk. Setiap ada orang masuk, Niko berharap itu Fara. Ketika wajah yang diharapkannya tak kunjung muncul, hati Niko sedikit kecewa.
Erika memulai acara pesta reunian dengan meriah. Ada pertunjukan musik, sandiwara, dan rekaman video tentang aktivitas mereka selama sekolah dulu. Niko menyadari bahwa Fara tidak pernah berada dalam video rekaman tersebut. Kebanyakan didominasi oleh dirinya dan Erika. Seakan-akan Fara tidak pernah berada di sekolah yang sama dengannya. Niko sudah putus asa ketika pesta reuni sudah mencapai puncak acara dan Fara tak kunjung datang.
Jam sebelas malam, acara berakhir. Yang tersisa hanya panitia. Niko duduk di atas panggung.
Erika mendekatinya. "Kopi?" tawarnya.
Niko tertawa dan menerima tawaran kopi dari Erika. "Thanks."
"Dia tidak datang, ya? Fara?" Erika menatap mata Niko yang bersinar sedih.
__ADS_1
Niko menggeleng perlahan.
Erika menemani Niko duduk di panggung. "Aku benar-benar egois waktu sekolah dulu. Aku ingin meminta maaf padanya. Tapi dia tidak datang. Aku bertanya pada teman-teman yang lain, tapi sepertinya tidak ada yang tahu kabar Fara."