
Niko terdiam mendengar pertanyaan Fara. Tidak ada jawaban yg keluar dr mulutnya.
Fara tersenyum lirih. "Aku rasa kau sudah menjawab pertanyaanku."
Semua sudah berakhir. Fara beranjak keluar dr ruang kelas. Ia tidak bisa berada di samping Niko lebih lama lagi. Kalau tidak, hatinya bisa hancur.
"Fara," kata Niko sebelum Fara melangkah keluar pintu, "kurasa... aku tidak bisa menjadi temanmu lagi."
Pelukannya pada gambar Niko semakin erat. Fara menarik napas dan berbalik. "Aku tahu. Maafkan aku. Selamat tinggal, Niko".
Sepeninggal Fara, Niko duduk di bangkunya tanpa bergerak. Dia tahu tidak seharusnya dia sesedih ini. Selama ini ia selalu menganggap Fara sebagai temannya. Tetapi mengapa kepergian Fara sesaat yg lalu membuat hatinya sakit? Kemudian, ia kembali teringat pada wajah Erika yg kesakitan semalam. Dan ia tahu ia juga menyayangi Erika. Ia khawatir saat Erika mengernyit nyeri dan memegangi tangannya selama diobati dirumah sakit. Tapi mengapa kesedihan dihatinya waktu itu tidak sesedih sekarang?.
Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Niko, dengan kesedihan yang mendalam Fara menemui wali kelasnya.
"Ini ijazahmu, Farra." Pak Bambang memandang anak didiknya dengan tersenyum.
"Terima kasih, pak," kata Fara sambil menerima ijazahnya dari tangan pak Bambang. "Terima kasih sekali lagi atas semua bimbingan bapak."
__ADS_1
"Ibumu bilang kau akan pindah ke luar kota besok," kata pak Bambang lagi.
Fara mengangguk. "Iya. Mama saya dipindah tugaskan ke kota lain."
Pak Bambang berkata lagi, "Semoga kau berhasil di masa depanmu nanti."
Fara mengucapkan terima kasih lagi pada pak Bambang lalu keluar dari ruang guru. Sebelum meninggalkan sekolah, Fara berbalik memandang sekolahnya sekali lagi. ("selamat tinggal sekolahku"), katanya dalam hati.
Tak berapa lama kemudian, Fara berada dalam bus kota yang akan mengantarkannya ke terminal. Ia menyadari ini terakhir kalinya ia akan menaiki bus di kota ini. Pandangannya beralih ke gedung - gedung tinggi di seberangnya.
Tiba - tiba matanya berhenti pada spanduk besar di sebuah gedung. Pameran perhiasan Julian Bardeux. Tatapannya lalu beralih pada amplop cokelat di tangannya. Karena pertemuannya dengan Niko di kelas tadi pagi, Fara lupa ia masih membawa gambar rancangan Niko.
Fara bergegas turun dari bus dan berlari menyeberangi jembatan penyeberangan menuju ke hotel berbintang lima tempat pameran perhiasan Julian Bardeux diadakan. Fara terengah-engah memasuki lobi hotel. Ia bertanya pada resepsionis dimanakah pameran tersebut diadakan, lalu bergegas kesana.
Dalam lift yg membawanya, Fara mengenggam erat gambar Niko. ("setidaknya ini hal terakhir yg bisa kulakukan untuk Niko,) pikirnya.
Pintu lift membuka, Fara melangkah keluar dan menemui petugas pameran.
__ADS_1
"Saya ingin menemui Mr. Julien Bardeux," katanya tanpa ragu sedikitpun.
Salah seorang petugas penjaga pameran tersenyum lalu bertanya, "Apakah kau membawa undangan masuk pameran?"
Fara menggeleng. "Saya tidak punya undangan."
Si petugas tersenyum menyesal. "Maaf. Kau tidak boleh masuk tanpa undangan."
"Apakah saya tidak bisa menemui Mr. Julien Bardeux sebentar saja?" tanya Fara tanpa patah semangat.
Si petugas menggeleng. "Maaf. Jadwal beliau padat sekali. Apalagi ini hari terakhir pameran. Apakah kau punya janji temu sebelumnya?"
Fara menggeleng.
"Maaf kalau begitu," kata si petugas.
"Tapi Mr. Bardeux ada didalam sana kan?" tanya Fara penasaran. "Dia akan keluar melalui pintu ini nanti?"
__ADS_1
Si petugas menatap Fara dengan penasaran. "Ya. Tapi beliau masih lama berada di dalam sana." "Tidak apa-apa," kata Fara tersenyum ramah. "Saya akan menunggu disini."