My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 36


__ADS_3

"Katakan padaku," kata Antonio lagi, "kapan terakhir kali kau memasak spageti untuk orang sebanyak itu?"


Fara menelan ludah. "Saat bazar sekolah dulu."


Antonio tersenyum sinis. "Bazar sekolah? Kau samakan restoranku dengan bazar sekolah?"


"Tidak, bukan seperti itu." Fara berusaha memberi penjelasan.


"Saya benar-benar minta maaf. Saya tidak akan melakukannya lagi."


Antonio memandang Fara dengan kejam. "Tentu saja kau tidak akan melakukannya lagi. Bereskan barang-barangmu. Aku tidak mau melihatmu lagi."


Fara terpaku sesaat mendengar perkataan bosnya. Kakinya gemetar, tangannya lemas. Bayangan terburuk dipikirannya sudah menjadi kenyataan. Ia kehilangan pekerjaan.


Maya yang sedari tadi melihat mereka tanpa memberi komentar, tiba-tiba berkata pada Antonio.


"Ini semua bukan salah Fara. Aku yang menyuruhnya membuat spageti itu. Tolong maafkan Fara."


Antonio memandang Maya dengan dingin. "Dan bagaimana kau tahu Fara bisa memasaknya?" Maya terdiam. Ia tidak bisa menjelaskan bahwa Fara yang pertama-tama mengajukan diri.


"Jangan marahi mbak Maya," kata Fara perlahan. "saya yang mengajukan diri untuk memasaknya."


Antonio menatap Fara lagi. "Jadi keputusanku memecatmu sudah tepat."

__ADS_1


Fara terdiam. Ia melihat mata Maya yang berkaca-kaca menahan tangis. Lalu ia melihat pintu depan restoran yang sudah ia lalui ratusan kali. Hatinya tidak mau meninggalkan semua itu.


Saat Antonio hendak melangkah masuk, tiba-tiba Fara berbicara lagi. "Tunggu," ucapnya sambil mengumpulkan keberaniannya, "beri saya waktu satu minggu."


Antonio berbalik dan keningnya mengernyit keheranan. "Apa? Satu minggu?"


Jantung Fara berdetak kencang. Ia tidak tahu sampai kapan keberaniannya bisa bertahan. Jadi sebaiknya ia memanfaatkan momen ini untuk berterus terang pada Antonio.


"Kalau dalam satu minggu saya tidak bisa memasak makanan yang sesuai dengan selera anda, anda bisa memecat saya. Tapi kalau dalam satu minggu itu saya dapat melakukannya, saya ingin anda menarik kembali pemecatan diri saya... dan... saya ingin menjadi salah satu staf di dapur anda."


Antonio memandang gadis di depannya dengan sedikit kaget. Dia tidak menyangka ada orang yang berani menantangnya. (menarik juga), pikirnya.


"Baiklah," katanya sambil tersenyum singkat. "satu minggu. Aku memberimu waktu satu minggu saja. Tidak lebih. Kau kalah Fara. Aku yakin aku akan melihatmu keluar dari pintu ini seminggu lagi."


Mata Fara menantangnya. "Tidak kalau saya yang menang."


 


Hari pertama


Fara memasak lasagna.


Antonio memandang sebelah mata. Mencicipinya sekilas lalu membuang masakan buatan Fara ke tempat sampah tepat di depan mata Fara.

__ADS_1


Hari kedua


Fara membuat fettucini.


Antonio hanya mencium baunya nasibnya berakhir sama dengan masakan Fara di hari sebelumnya.


 


Hari ketiga


Fara membuat ravioli keju.


Antonio mengambil salah satu ravioli buatan Fara tanpa minat dan mengunyahnya. Dia menghabiskan satu ravioli tanpa memuntahkannya. Harapan Fara sedikit naik saat itu. Tapi lalu kandas saat Antonio menyuruh salah satu kokinya membuang ravioli buatannya ke tempat sampah.


"Maaf," kata Antonio tersenyum mencibir. "Aku bahkan tidak bisa membuang sendiri makananmu karena perutku terasa mual setelah mencoba ravioli buatanmu."


Fara mulai berpikir bahwa apa pun makanan yang dimasaknya tidak akan diterima oleh Antonio. Tapi masih ada waktu empat hari lagi. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih bisa melakukannya.


 


Hari keempat


Fara membuat spageti.

__ADS_1


Antonio hanya memandangnya sambil berkata, "apakah kau tidak mau menyerah juga?"


"Tidak." Fara menggeleng. "Saya tidak akan menyerah."


__ADS_2