
Fara melihat hasil di tangannya dengan gembira. Nilainya tidak mengecewakan. Matanya berkaca-kaca karena lega. Semua siswa saling memberi selamat. Ia melihat Niko dipeluk oleh Erika.
Fara terdiam. Kini hanya tinggal pesta perpisahan yg menanti. Fara mengeluarkan HP dan menelepon mama.
Setelah tersambung, Fara langsung memberitahukan berita baiknya. "Ma, aku lulus."
"Selamat sayang," kata mama dengan gembira ditelepon. "Kita makan malam di luar malam ini untuk merayakan kelulusanmu."
"Baiklah," Fara menyetujuinya. Setelah berbicara beberapa saat, ia memutuskan sambungan telepon. Niko mendapat ucapan selamat dari para guru setelah itu, karena nilai ujiannya adalah yg tertinggi dari semua murid.
Fara melihat itu semua sambil tersenyum. Di samping Niko, Erika tersenyum bangga, Fara kembali ke kelasnya. Tangannya mengelus ringan meja tempat Niko berada. "Selamat,Niko," katanya. Ia tahu sampai kapanpun ia takkan bisa memasuki dunia sekeliling Niko yg berbeda jauh dr dunianya.
Fara merapikan tas, lalu berjalan pulang menuju halte bus.
***
"Terima kasih, Ma", kata Fara gembira melihat hadiah kelulusan dr mama. Mereka sedang makan malam di restoran seafood.
Fara mengenakan jam tangan berwarna perak pemberian mama. "Seharusnya mama tidak usah boros membeli jam semahal ini."
Mama tersenyum. "Tidak apa-apa. Mama benar-benar bangga padamu. Mama tahu betapa kerasnya kau berusaha untuk lulus."
__ADS_1
"Aku akan selalu menjaga jam ini," kata Fara sambil memandang mama lembut. "Jadi, kapan petugas pengangkut barang akan datang?"
Mama mengambil minumannya dan meneguknya kemudian menjawab, "mungkin besok. Kau sudah membereskan barang-barangmu ke dalam kardus?"
"Sebagian sudah," kata Fara. "tinggal sisa buku-buku sekolah. Aku bisa melakukannya malam ini."
"Kau bisa menyelesaikannya besok kalau kau kecapekan," saran mama.
"Aku tidak capek kok. Rasanya tenagaku berlipat ganda setelah makan," canda Fara.
"Kau sudah memutuskan mau masuk jurusan apa?" tanya mama serius.
"Kalau mama boleh tahu," kata mama sabar, "sebenarnya apa yg paling kau sukai di dunia ini?"
Fara langsung menjawab, "bersama-sama dengan mama."
Mama tertawa. "selain itu apa lagi?"
"Hm....., aku suka memasak... mungkin", jawab Fara.
"Kenapa kau tidak coba ambil jurusan masak saja?" usul mama.
__ADS_1
"Aku masih belum yakin ma," kata Fara ragu-ragu.
"Kau tidak harus memutuskannya sekarang," kata mama penuh pengertian. "Kau akan tahu saatnya nanti. Sekarang... bagaimana dengan persoalan hatimu? kau sudah menyelesaikannya?"
Fara berpikir keras. "Aku tidak tahu, ma. Tapi beberapa hari lagi semuanya akan berakhir. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Dan aku akan berusaha melupakanya."
"Cinta pertama memang susah dilupakan," kata mama mengangguk bijak. "Hanya waktu yg akan mambantumu melupakannya. Kau pernah mengatakan padanya bahwa kau menyukainya?"
Fara menggeleng. "Tidak pernah."
"Mungkin seharusnya kau memberitahukannya, setelah itu kau bisa meneruskan hidupmu dan mendapat cinta yg baru suatu hari nanti." Mama menyentuh lengan putrinya perlahan. "Kau butuh sebuah penyelesaian."
"Ya, aku tahu." Fara menatap mata mama dengan sedih. "Hanya saja aku tidak ingin semuanya berakhir."
"Yang harus kau ingat," kata mama menguatkan hati anaknya, "kau harus jujur pada dirimu sendiri. Katakan padanya bagaimana perasaanmu." "Aku akan mencobanya," tekad Fara.
***
Malam harinya, Fara mengepak bekas buku-buku sekolahnya. Saat memasukkan buku terakhir, Fara melihat amplop besar berwarna cokelat di mejanya. Fara membuka amplop tersebut dan mengeluarkan gambar-gambar rancangan perhiasan Niko. Fara menyusun satu demi satu gambar-gambar itu dan memandangnya. (mungkin sebaiknya kukembalikan pada Niko), katanya dalam hati.
__ADS_1