
Bagian Empat (Fara & Luki)
Fara, 24 tahun
Fara turun dari taksi dengan terburu-buru. Setelah dua jam terjebak macet di jalan raya, ia menaiki tangga memasuki Gedung Rafael. Setahun lalu Fara mengusulkan untuk membuka Jasa Catering demi menaikkan penjualan restoran. Setelah uji coba beberapa kali dan berhasil, Antonio memutuskan untuk meneruskan jasa Cateringnya untuk pesta ulang tahun, pernikahan dan pesta kantor.
Kini setelah satu tahun mengurus Jasa Catering tersebut, Fara berhasil mendapatkan klien besar.
Rafael Group bergerak di bidang properti, hotel, supermarket, dan otomotif. Direktur utamanya, Charles Rafael, yang pernah menyantap makanan di restoran Antonio, sangat menyukai masakan italia yang di masak Fara. Minggu kemarin ia menelepon untuk menyewa Jasa Catering restoran Antonio untuk pesta karyawan kantornya.
Walaupun belum pernah bertemu secara langsung dengan Charles Rafael, Fara bisa menyimpulkan bahwa beliau pria yang ramah setelah beberapa kali percakapan melalui telepon. Bahkan setelah mengetahui umur Fara yang masih muda, Charles Rafael bersikeras meminta Fara memanggilnya 'om'. Fara menganggap itu sebagai pertanda baik. Kalau Jasa Catering untuk Rafael Group berhasil, Fara yakin bisnis Cateringnya bisa berkembang.
Setahun yang lalu Fara meminta mama untuk berhenti dari pekerjaannya. Setelah diangkat menjadi chef kepala di restoran Antonio, Fara tidak ingin mama bekerja keras lagi. Gaji Fara cukup Lebih untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Fara mengatakan pada mama, kini sudah saatnya dia yang menjaga mama.
__ADS_1
Setelah dibujuk berulang kali, akhirnya mama setuju. Kini mama tinggal di rumah, dan untuk mengisi waktu dia mulai menjahit pakaian, hobinya yang dulu tidak sempat dilakukan.
Fara membawa kertas proposal untuk menu makanan pesta karyawan nanti sambil setengah berlari. Di depan lobi, dia diberi kartu tamu dan melanjutkan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas. Ia sudah terlambat satu jam dari janjinya. Pertanda yang tidak bagus untuk sebuah kerjasama yang baik. Ketika melihat pintu lift terbuka, Fara langsung berlari. Seorang pria masuk ke lift mendahului Fara. Saat Fara masuk, lift berbunyi. Tanda kelebihan orang. Fara mendesah kelelahan. Ia melihat orang-orang di belakangnya. Semuanya wanita, kecuali pria yang tadi ikut masuk dengannya.
"Maaf mas..." kata Fara sambil memohon. "Bisakah mas mengalah dan keluar lift ini? Saya sudah sangat terlambat untuk janji penting."
Pria itu memandang Fara tanpa rasa iba. "Aku masuk lebih dulu. Bukankah yang terakhir masuk yang harusnya mengalah?"
Di belakang Fara, orang-orang mulai gelisah.
Dengan entengnya si pria berkata. "Bukan salahku kalau kau terlambat, kan?"
Akhirnya dengan berat hati karena tidak enak dengan orang-orang di belakangnya, Fara melangkah keluar dari lift. Sebelum pintu lift menutup, pria itu berkata lagi. "Kalian para wanita tidak mau diperlakukan khusus, kan? Wanita harus setara dengan pria. Hm.....apa itu istilahnya... emansipasi, bukan?"
__ADS_1
Pintu lift tertutup. Fara kesal sekali. Pria tersebut benar-benar menjengkelkan. Terpaksa Fara menunggu lift berikutnya. Lima belas menit kemudian, ia sampai di ruang kerja Charles Rafael. Sekretaris Charles Rafael menyuruhnya untuk segera masuk,setelah Fara memperkenalkan diri. Fara menarik napas panjang dan bersiap meminta maaf.
"Saya minta maaf, saya terlambat." Fara menatap mata Charles Rafael dengan sungguhsungguh. "Ada kecelakaan di jalan raya. Sehingga saya terlambat datang kemari. Maafkan saya."
Charles Rafael terpaku memandang Fara. Wajah Fara yang sangat Cantik, mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.
Fara terdiam serba salah. Charles Rafael tidak berkomentar selama beberapa saat. "Ehm... Om... Saya Fara, chef kepala dari restoran Antonio. Maaf saya terlambat."
Charles Rafael kemudian tersadar dari lamunannya. "Oh iya, Fara. Aku sangat menyukai masakanmu."
"Terima kasih, om." Fara tersenyum. "Maaf, saya datang terlambat."
"Tidak apa-apa." Charles Rafael tersenyum ramah. "Silahkan duduk."
__ADS_1