My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 39


__ADS_3

Semua pelayan dan koki berkumpul di dapur. Piring spageti buatan Fara berada di tengahtengah meja. Antonio mengambil piring tersebut dan akhirnya mencicipi masakan Fara.


Fara tidak menyangka hatinya tidak tegang saat melihat bosnya mencicipi masakannya. Padahal ini momen paling menentukan untuknya, apakah ia akan berhenti atau bertahan.


Setelah mencicipi masakan Fara, Antonio memandang Fara dengan tatapan tajam. Tangannya menggeser piring Masakan Fara.


Fara mengerti. Ia telah gagal. Tapi kali ini ia tidak mau Antonio membuang masakan buatannya ketempat sampah. Ia ingin melakukannya sendiri. Fara berjalan mendekati Antonio.


"Terima kasih atas bantuan anda selama ini. Saya akan membereskan barang-barang saya. Maaf kalau saya tidak bisa memasak sesuai selera anda." Tangannya bersiap-siap untuk membuang makanan dipiringnya ketempat sampah.


Tapi tangan Antonio menahannya. "Jangan dibuang. Aku belum memakannya sampai habis."


Fara tercengang mendengarnya. Baru kali ini Antonio mau menghabiskan masakan buatannya. Fara melihat Antonio menghabiskan sisa makanannya.


Antonio memandang Fara lagi. "Tehnik memasakmu masih payah. Tapi kau sudah membuat masakan yang berbeda daripada sebelumnya. Kali ini rasanya enak." Fara tersenyum gembira.

__ADS_1


"Tapi, kau juga harus ingat, rasa yang enak saja tidak cukup," kata Antonio tegas.


"Saya mengerti, apakah ini maksudnya anda tidak akan memecat saya?" harap Fara cemas.


"Tidak hari ini." Antonio memberikan sendok makannya pada Fara. "Kau bisa memulai pekerjaanmu di dapur hari ini."


Fara mengambil sendok yang disodorkan Antonio padanya dan untuk pertama kalinya meraih tangan bosnya. "Terima kasih,saya yakin anda tidak akan menyesal sudah memberi kesempatan ini pada saya."


"Kau bisa memulainya dengan dolce (*manis*makanan pencuci mulut italia), kata Antonio.


"Dolce?" Fara kebingungan. "Bukankah saya seharusnya memasak pasta?"


"Saya akan berusaha keras. Terima kasih," ucap Fara gembira.


 

__ADS_1


*******************************


Fara menatap delapan piring tiramisu buatannya. Masing-masing dibuat dengan takaran bahan yang berbeda. Selama hampir tiga bulan, ia mencoba membuat berbagai macam makanan pencuci mulut italia. Ia memulainya dengan biscotti cokelat (kue panggang berbentuk roti), zeppole (semacam donat italia yang bisa dilapisi gula atau madu), dan sekarang tiramisu.


Ia agak kesulitan membuat tiramisu, karena ia harus mencelupkan kue spon ke dalam kopi espreso. Menghirup aroma kopi yang kental sudah membuat perutnya berontak. Tapi demi mendapat hasil terbaik, Fara berusaha menutup hidungnya selama proses itu dan bertahan berjam-jam dalam aroma kopi.


Setelah sehari di dalam lemari es, tiramisunya sudah jadi dan siap dimakan. Ia tidak berani mencoba karena takut perutnya mual dengan aroma kopi dari dalam kue. Ia membuat delapan jenis tiramisu dan berharap mama mau mencobanya satu persatu.


"Jadi bagaimana, ma?" tanya Fara pada mama yang sudah merasakan tiramisu satu persatu dari kedelapan piring Masakan Fara.


"Mama rasa tiramisu nomor lima punya rasa yang paling enak."


Fara mengambil sendok dan mengiris sepotong kecil tiramisu nomor lima, lalu mencicipinya. "Aku setuju dengan selera mama. Besok aku akan mencoba membuat tiramisu ini untuk menu makanan pencuci mulut di restoran."


Dua hari kemudian, di papan tulis depan restoran tertulis menu makanan pencuci mulut spesial. Tiramisu #5. Dan pada hari tersebut, banyak pengunjung restoran yang mencoba tiramisu buatan Fara.

__ADS_1


Sorenya, Fara dipanggil ke hadapan Antonio. "kau bisa mulai memasak pasta besok."


"Terima kasih. Saya akan berusaha keras memasak makanan yang disukai pelanggan," ujar Fara sambil tersenyum hangat.


__ADS_2