
Begitu pintu ruangan Charles tertutup, Luki menatap wajah papanya dengan tajam. "Gadis itu mengingatkan papa pada siapa? Wanita itu?"
Charles manarik napas kesal. "Wanita itu ibumu."
Kini giliran Luki yang mendengus kesal. "Ibuku sudah meninggal. Papa menikahi wanita itu hanya setahun setelah mama meninggal. Apakah papa tidak ingat?"
"Papa ingat." Charles memandang putranya dengan tajam. "Untung saja wanita itu tidak pernah muncul lagi di hadapanku." Luki menatap papa dengan kesedihan yang mendalam.
"Suka atau tidak, dia masih istri papa." Charles menatap putranya dengan kesal.
"Aku harap papa tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu," kata Luki perlahan tapi pasti.
"Luki.....kau...." Charles tidak tahu harus mengatakan apa untuk mengungkapkan amarahnya. "Aku tidak mau kembali ke sini," Luki membuka pintu ruang kerja papanya, "tapi papa memaksaku datang. Aku sudah memenuhi permintaan papa. Apalagi yang papa mau? Aku tidak mau bertengkar lagi tentang masa lalu."
Pintu ruang kerja Charles ditutup. Charles duduk kembali di kursi kerjanya. Dia menarik laci mejanya, dan memandang foto seorang wanita yang sedang tersenyum padanya.
*******************************************
Fara sudah setengah jalan dari restoran ke gedung Rafael ketika HP nya berbunyi. Di layar HP tertulis Luki Rafael.
"Apa?" Tanya Fara kesal. Sudah sejak pukul lima pagi, saat Fara masih tidur lelap, Luki mengganggunya dengan meminta memasakan Menu A untuk dibawa ke gedung Rafael sebelum jam kantor mulai. Luki bilang dia hanya punya waktu luang pada waktu tersebut. Setelah terburu-buru mandi dan berpakaian seadanya, Fara pergi ke restoran untuk menyiapkan makanan di menu A. Setelah selesai, dia memasukkan makanan tersebut ke kotak makanan dan memanggil taksi.
Kini lima belas menit kemudian Luki meneleponnya.
__ADS_1
"Aku lupa bilang....," kata Luki tanpa rasa bersalah." Rasanya aku lebih cocok dengan menu B.
Apakah kau bisa membawakanku menu B saja? Menu A nya tidak jadi."
Reaksi Fara adalah ingin menampar Luki saat itu juga, tapi ia tahu ia tidak bisa melakukannya. Pelanggan adalah raja. "Aku akan kembali ke restoran untuk memasak menu yang baru."
"Thanks," kata Luki. "Maaf merepotkanmu."
Mulut Fara cemberut, tapi perkataan yang keluar adalah, "tidak apa-apa. Kemungkinan aku akan datang terlambat ke kantormu."
"Kalau bisa jangan lebih dari jam delapan pagi," Luki mengingatkan.
Fara menutup teleponnya dengan kesal dan berkata pada sopir taksinya, "Pak, kembali ke restoran."
Pukul 07.58, Fara tiba di depan kantor Luki.
"Aku kira kau tidak akan sempat," kata Luki ketika Fara memasuki kantornya.
Fara meletakkan paket menu B di depan meja Luki. "Satu-satunya penjelasan adalah... hmmm..... karena aku seorang chef yang hebat. Selama ini aku tidak pernah mengecewakan pelangganku."
Luki tersenyum melihat kepercayaan diri Fara, tapi sebentar lagi dia akan menghancurkannya. "Bisakah kau membukakan kotak makanannya?"
Fara membuka kotak makanannya dan menyodorkan garpu ke hadapan Luki, setengah berharap garpu tersebut bisa menusuk jantung pria itu. Tapi Fara menggantinya dengan tersenyum manis. ("Ingatlah,Fara,") katanya dalam hati, ("dia adalah pelanggan").
__ADS_1
Luki mencoba mencicipi spageti Fara, tapi kemudian meletakkan garpu. "Ehm... aku rasa sebaiknya aku pindah lagi ke menu A. Jadi sebaiknya kau menyiapkan lagi menu A untuk besok pagi. Waktu yang sama. Sebelum jam delapan."
Fara memandang Luki dengan tenang. Luki kebingungan dengan tatapan Fara padanya. "Kau bisa keluar dari ruanganku sekarang. Sampai jumpa besok."
Fara berdiri dan mengambil satu-persatu kotak makanan dari tas yang dibawanya tadi dan meletakkannya di depan Luki. Totalnya berjumlah sembilan kotak makanan. Fara membuka semua tutup kotak tersebut dan menunjuk tiga kotak paling kiri. "Menu A." Lalu menunjuk tiga kotak selanjutnya. "Menu C." Terakhir dia menunjuk tiga kotak paling kanan. "Menu D. Kau bisa mencoba semua menu hari ini juga."
Luki tercengang. Dia tidak menyangka Fara bisa menyiapkan semua menu dalam waktu yang singkat.
Fara tersenyum penuh kemenangan melihat tampang Luki yang terdiam. "Kau sudah mencicipi menu B. Silahkan mencicipi tiga menu yang lain..... Aku sudah bilang kan, aku chef hebat?" Fara mengambil garpu baru dari tasnya dan menyodorkannya pada Luki. "Aku tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan bahan makanan untuk tiga ratus karyawan yang tinggal dua hari lagi. Kalau kau tidak keberatan, aku mau kau memutuskan menunya hari ini juga."
Luki mengambil garpu baru dari tangan Fara. Kali ini dia mengaku kalah pada gadis di depannya. Setelah mencicipi semua menu, Luki memutuskan untuk memilih menu A.
Fara mengeluarkan selembar kertas. "Aku mau kau menandatangani kertas ini."
"Apa ini?" Tanya Luki sambil mengambil kertas dari mejanya.
"Perjanjian kerjasama antara perusahaanmu dan restoranku. Di situ tertulis kau sudah memilih menu A dan tidak akan mengubah pilihanmu lagi. Kalau kau mengubahnya sehari sebelum pesta, perusahaanmu yang menanggung semua ganti ruginya."
Luki membaca perjanjian tersebut. Dia sudah meremehkan kemampuan Fara. Kali ini dia kalah telak dari seorang gadis. Luki mengambil balpoinnya dari meja dan menandatangani perjanjian tersebut.
Fara memberikan satu salinan untuk Luki dan mengambil satunya lagi untuk dirinya. "Terima kasih."
Fara membereskan kotak makanan di meja Luki dan merapikannya kembali ke dalam tasnya. Sebelum Fara pergi, Luki berkata, "aku terlalu meremehkan dirimu bukan?"
"Aku tidak menyukai permainanmu, Luki," kata Fara serius. "Aku menyukai pekerjaanku. Aku tidak akan bermain-main dengan pekerjaanku. Sampai ketemu dua hari lagi."
__ADS_1
Fara meninggalkan Luki yang menatap pintu kantornya lama setelah itu.