
Mama menaruh gelas tehnya dan menatap Niko dengan serius.
"Kau sungguh-sungguh ingin menjadi perancang perhiasan?" "Ya," jawab Niko pasti.
Mama melihat keseriusan di mata putranya dan akhirnya mengangguk. "Baiklah mama mendukung keinginanmu."
"Thanks, ma," seru Niko sambil tersenyum lebar.
"Ada sebagian hati mama yang masih ingin kau meneruskan jejak mama dan papa." Mama menatap Niko lembut. "Tapi, mama sadar kau harus menemukan jalan hidupmu sendiri."
Niko menarik napas panjang. "Aku berharap papa juga bisa berpikiran seperti mama."
Mama tersenyum kecil. "Papamu sama sepertimu. Kalian berdua sama-sama keras kepala. Mama akan mencoba berbicara dengan papa."
"Ma, aku masih tetap akan melanjutkan pelajaranku, walaupun sampai akhir papa tetap tidak akan pernah menerima pilihanku," kata Niko sungguh-sungguh. "Aku tidak bisa melepaskan impianku." "Mama mengerti." Mama mengambil tas belanjanya. Dia mengeluarkan sebuah mantel tebal hitam yang dibelinya siang tadi.
__ADS_1
"Untukmu," katanya. "Mama lihat mantelmu tidak cukup tebal untuk menahan hawa dingin dikota ini. Jadi mama memutuskan untuk membeli mantel ini untukmu."
Niko mengamabil mantel pemberian mama. "Terima kasih ma, aku akan mengenakannya selama musim dingin ini."
Mama mendekati putranya dan memeluknya. "Jaga kesehatanmu, dan sering-sering telepon mama."
"Aku akan melakukannya," kata Niko balas memeluk mama. Mama melepaskan pelukannya.
"sekarang ceritakan tentang kuliah gemologimu di GIA."
Dua jam kemudian, mama memutuskan untuk pulang. Dan Niko mengantarnya sampai pintu depan apartemen.
"Terima kasih karena sudah mendengarkanku, ma." Niko mengambil mantel mama dari tangannya dan membantu mama mengenakannya..
"Jangan lupa. Telepon mama," kata mama mengingatkan. "Dan semoga berhasil, Niko."
__ADS_1
"Aku akan menelepon mama sering-sering." Niko menghentikan sebuah taksi kuning di depan jalanan apartemennya,membukakan pintu untuk mama dan melihat mama masuk ke taksi.
Niko melihat mama melambaikan tangan dari dalam taksi. Niko balas melambaikan tangannya. Hatinya terasa lebih ringan. Setidaknya salah satu orangtuanya sudah bisa menerima keputusannya.
Niko kembali ke apartemennya. Dia duduk disofa kemudian kemudian melihat buku sketsa yang tergeletak di meja. Halaman demi halaman dibukanya. Saat senggang, dia selalu menyempatkan diri untuk menggambar rancangan perhiasan yang ada di benaknya. Kini buku sketsa tersebut sudah terisi berpuluh-puluh rancangannya. Niko kembali pada halaman pertama. Sketsa cincin bintangnya. Tangannya mengelus elus gambar itu perlahan-lahan. Gambar tersebut telah membuatnya berkenalan dengan Fara. Pada kuliah seni perhiasan nanti, dia bertekad untuk membuat cincin tersebut sebagai karya pertamanya. Tujuh buah bintang dengan lima sudut. Dengan dua lingkaran yang menghubungkan satu sudut atas dan dua sudut bawah bintang-bintang tersebut. Tiga puluh lima butir berlian yang akan menghiasi sudut-sudut ketujuh bintangnya. Niko berharap tidak lama lagi dia bisa membeli berlian pertamanya dan memasangkannya pada cincin tersebut.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Dua bulan berikutnya, saat ujian akhir kelas gemologi usai, Niko tertegun melihat pengumuman di kelasnya. Namanya tertulis sebagai penerima beasiswa GIA. Niko tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia memang berharap bisa mendapatkannya, tapi juga tahu bahwa dia harus bersaing dengan siswa lain yang tidak kalah berbakat darinya. Dia benar-benar tidak menyangka beasiswa tersebut bisa jatuh ketangannya.
Hanya Satu orang yang bisa mendapatkan Beasiswa Gemologi.....
Niko tertawa lepas. Teman-teman sekelasnya memberi selamat atas prestasinya. Kecuali George Finley. Dia melihat Niko seakan-akan Niko sudah merebut hal yang paling berharga darinya.
__ADS_1