
Hal ini menumbuhkan semangat baru di hati Fara.
"Maaf, sudah menunggu lama," kata Fara pada pelanggan yang tadi mengomel. "ini spageti barunya." Fara menyuguhkan spageti itu dengan hati-hati. "Saya harap anda menikmatinya".
Si pelanggan mencicipi terlebih dahulu.
"Apakah spagetinya sudah sesuai dengan selera anda?" Tanya Fara memastikan.
Si pelanggan mengangguk. "Ya. Terima kasih."
"Selamat menikmati," kata Fara sambil tersenyum. "Kalau masih ada yang belum puas, anda bisa memanggil saya lagi."
__ADS_1
Selama menjadi pelayan, Fara belajar menahan emosi dan bersikap ramah dalam segala situasi. Terkadang itu bukan perkara mudah. Tapi untungnya Fara mencoba berpikir positif pada kondisi terburuk sekalipun.
Keesokan harinya, Fara melihat orang yang sama dengan yang dilayaninya kemarin di sebuah majalah masakan. Fara cukup terkejut. Ternyata orang tersebut adalah kritikus makanan. Di majalah tersebut orang itu menjelaskan ia menyantap makanan italia terenak yang pernah dirasakannya. Ia tidak sabar untuk mencobanya lagi dan merekomendasikan spageti buatan Antonio kepada para pecinta makanan lain. Di akhir artikelnya, ia berterima kasih pada seorang pelayan yang telah melayaninya dengan sabar.
Mata Fara berkaca-kaca karena ia tahu si pelanggan telah berterima kasih padanya. Dan saat itu Fara bangga dengan pekerjaannya. Ia tidak pernah bisa tahu siapa yang akan ia layani esok harinya.
Fara, 20 tahun
Hujan deras menyelimuti jalan. Tepat pukul setengah lima sore, Fara keluar dari rumahnya untuk bekerja. Sesampainya di restoran Antonio, ia melepas jas hujan dan melipat payungnya perlahan. Restoran masih sepi. Para pelayan lain biasanya baru datang pukul setengah enam. Setengah jam sebelum restoran dibuka.
Fara memulai pekerjàannya dengan membersihkan meja-meja makan. Ia suka saat-saat sepi seperti ini. Setelah selesai, ia beralih membersihkan meja dapur. Tangannya menyentuh alat-alat dapur dengan perlahan. Entah kapan ia bisa berdiri di sana dan menggunakan alat-alat tersebut.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian terdengar suara pintu depan terbuka. Beberapa pelayan termasuk Maya masuk dengan tergesa-gesa. Mereka berusaha menghindar dari derasnya hujan.
"Jangan lupa," Maya mengingatkan sebelum mereka semua memulai pekerjaan. "Hari ini jam setengah tujuh ada tiga puluh orang yang akan merayakan hari ulang tahun pelanggan tetap kita. Aku mau semuanya berjalan lancar."
"Siap, mbak," kata para pelayan termasuk Fara.
Ketika waktu menunjukkan pukul 18.00 dan Antonio masih belum datang, Fara melihat Maya merasa khawatir. Maya langsung menelepon Antonio dan mendapat informasi bahwa bosnya itu terkena macet dan belum tahu kapan bisa tiba di restoran.
Mendengar penjelasan bosnya, Maya mulai panik. Ia mendapat telepon lima menit sebelumnya bahwa tamu mereka akan datang setengah jam lagi. Acara dibuka dengan tiup lilin dan potong kue, setelahnya dilanjutkan dengan menu spageti bolognise buatan Antonio. Seharusnya jam segini Antonio sudah menyiapkan spageti buatannya. Kalau ditunggu sampai tamunya datang pasti akan terlambat.
Maya menatap tiga koki lain yang berada di dapur. "Kalian bisa menggantikan Antonio memasak spagetinya?"
__ADS_1
Ketiga koki berpandangan dan menggeleng. Selama ini Antonio tidak pernah mempercayakan memasak spageti special buatannya kepada para kokinya. Dan karena asistennya yang terakhir sudah dipecat minggu kemarin, Maya tidak punya jalan keluar.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya pada para pelayan. "Antonio meminta untuk menunggu. Tapi tanpa kepastian. Kalian, para koki, tidak ada yang bisa memasak spageti buatan Antonio. Aku tidak mungkin membatalkan pesta ulang tahunnya. Restoran kita pasti akan kena dampaknya."