
Setelah mendengar putrinya berkata demikian, mama akhirnya mengalah. Beberapa hari kemudian, dalam perjalanan pulang dari supermarket, Fara melewati sebuah restoran italia yang memampang tawaran kerja sebagai pelayan disana. Tanpa pikir panjang, Fara langsung mengambil tawaran itu dan diterima hari itu juga. Ada dua alasan mengapa Fara memutuskan bekerja direstoran itu. Yang pertama adalah karena letaknya yang dekat dengan rumah. Hanya sepuluh menit berjalan kaki. Yang kedua adalah karena bekerja di restoran artinya setiap hari ia harus berurusan dengan makanan. Dan Fara memang sudah menyukai hal itu sejak SMA.
Tetapi kedua alasan itu, terutama yang kedua, membuatnya memikirkan kembali apakah ia sudah membuat pilihan yang tepat. Terutama saat-saat punggungnya serasa mau patah, kakinya kesemutan, dan tangannya teramat sangat pegal. Bulan pertama bekerja direstoran, ia dapat melihat bahwa bosnya adalah seseorang yang cepat naik darah. Setiap tiga bulan sekali, selalu ada asisten chef baru,karena Antonio____ namanya dijadikan nama restorannya____selalu punya alasan untuk memecat mereka. Sebagai seorang chef, Antonio adalah seorang genius yang bisa membuat makanan italia yang sangat lezat. Fara mengagumi aspek tersebut, tapi tidak temperamenya.
"Kau dipecat!" teriak bosnya tiba-tiba dari dapur restoran.
Fara mendesah kembali sambil mengelap meja. Bosnya memecat asistennya lagi. Kali ini bahkan belum sampai tiga bulan.
"Dia melakukannya lagi, "keluh maya, seorang pelayan senior yang sudah bekerja hampir lima tahun, sama seperti umur restoran mereka.
Seorang pria paruh baya keluar dari dapur dengan kesal. Dia berjalan melewati ruang makan, membuka pintu keluar, dan melenggang pergi tanpa sepatah katapun. Fara merasa sedikit kasihan pada si asisten. Bekas asisten, maksudnya.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, pintu dapur terbuka. Seorang pria italia, berjanggut putih, berumur lima puluh tahunan berteriak. "Maya, carikan aku asisten baru! Aku tidak mau idiot seperti yang tadi. Mengerti?"
Maya hanya bisa menelan ludah dan mengangguk. "Oke, Antonio," katanya membalas.
Setelah Antonio keluar dari restoran,para pelayan menarik napas lega.
"Aku tidak tahu harus mencari asisten chef di mana lagi," keluh Maya di dekat Fara.
Fara mendekati Maya. "Jangan menyerah, mbak. Mbak pasti menemukannya."
Pukul setengah satu malam ,restoran Antonio ditutup.Fara berhenti sejenak di depan restoran. Terdapat sebuah papan tulis disana.
__ADS_1
Open.
Mon_Thurs: Lunch 11.30 - 14.30 Dinner, 18.00 - 24.00
Fri-Sun: Lunch 11.30 - 14.30 Dinner, 18.30 - 00.30
Fara mendesah panjang. Jam sebelas siang nanti ia akan mengulang kembali semua yang dikerjakannya tadi. Membersihkan meja, membereskan bangku, melayani pelanggan, membawa makanan, mengambil piring bekas makanan untuk dicuci, lalu mengulang lagi dari awal. Satusatunya yang membuatnya bertahan bekerja di restoran Antonio adalah kesempatannya untuk melihat bagaimana seorang juru masak hebat membuat makanan mentah menjadi santapan lezat. Seperti karya seni.
Fara memasukkan tangan ke saku jaketnya. Sehelai kertas kecil berada disana, ia mengeluarkannya dan membukanya. JANGAN MENYERAH. Tulisan tangan Niko.
__ADS_1
Ia tahu, tidak seharusnya ia menyimpan kertas tersebut kalau ingin benar-benar melupakan Niko, tapi entah mengapa ia tidak sampai hati membuang kertas tersebut. Setelah membacanya, Fara merasa semangat baru menyelimutinya. Ia meletakkan kertas tersebut hati-hati ke dalam dompet dan berjalan pulang.
Setibanya di rumah sekitar pukul satu dini hari, Fara duduk di sofa sebentar, lalu mandi dan tidur. Jam kerjanya di restoran membuatnya jarang bertemu dengan mama di sore hari. Ketika mama pulang, Fara masih di restoran, dan saat Fara pulang, mama sudah tidur. Tapi Fara masih terbiasa untuk bangun pagi, sehingga masih sempat bertemu mama sebelum berangkat ke kantor.