
"Kau sudah hampir kehabisan waktu," katanya mengingatkan.
"Anda belum merasakan makanan saya yang ini," kata Fara sambil menyodorkan piring spagetinya pada Antonio.
Antonio menggeleng. "Aku tidak perlu merasakannya. Aku sudah tahu spageti buatanmu tidak layak dimakan. Akui saja, kau tidak punya bakat untuk menjadi seorang chef."
Hari kelima
Fara membuat pizza.
Antonio menyindir Fara. "Dari mana kau belajar membuat pizza? Apakah dari buku tentang bagaimana membuat pizza untuk orang-orang bodoh? kau sama sekali tidak punya bakat."
Perlahan Antonio mengambil pizza Fara dan membuangnya ke tempat sampah, tanpa mencicipinya.
__ADS_1
Hari keenam.
Pada hari keenam, Fara sudah lelah, baik secara fisik maupun mental. Penolakan demi penolakan yang dilakukan Antonio sudah mematahkan semangatnya. Pada hari keenam, Fara membuat spageti bolognese yang dibuatnya enam hari sebelumnya.
Antonio mengernyit kening ketika spageti itu berada di depannya. Dia mengambil garpu dan mencicipinya. Saat meletakkan garpunya kembali, dia memandang Fara dengan perasaan tidak suka. Tak berapa lama kemudian, nasib spageti bolognesenya sudah berada ditempat sampah.
"Kenapa?" protes Fara. "Saya membuatnya sama persis dengan buatan anda. Bahkan rasanya pun sama."
"Benar," kata Antonio tegas. "Kau membuatnya sama persis dengan buatanku. Apakah kau hanya bisa menjadi peniru? Kau tidak punya kreativitas. Seperti yang kukatakan sebelumnya berulang-ulang, kau tidak punya bakat. Sebaiknya besok kau menyerah saja dan bereskan barang-barangmu."
Untungnya, Maya cepat-cepat mengatasi hal itu. Ia langsung meminta maaf, bersama dengan Fara, dan memberikan makanan cuma-cuma kepada si pelanggan.
Melihat semua itu dari jendela dapur, Antonio hanya mendengus. Saat Fara mengambil pesanan berikutnya dari dapur, Antonio berkata lagi, "Bagaimana mungkin kau bisa menjadi seorang chef hebat, kalau kau tidak bisa melakukan pekerjaanmu yang sekarang dengan benar?"
Fara meminta maaf.
"Pulanglah!" teriak Antonio. "kau hanya akan menambah kekacauan kalau terus berada disini."
__ADS_1
Maya melihat muka pucat Fara sekeluarnya dari pintu dapur. Ia menghela napas panjang kemudian mendekati Fara. "Antonio memarahimu lagi?" Fara mengangguk.
"Tapi kali ini perkataannya benar. Sebaiknya kau pulang beristirahat. Kau benar-benar kelelahan." Maya menepuk pundak Fara perlahan. "Pelayan yang kelelahan tidak dapat bekerja dengan maksimal. Sebaiknya sore ini kau tidak usah masuk. Kau benar-benar butuh istirahat." Fara mengangguk.
Sebelum Fara pergi untuk mengganti seragamnya, Maya berkata lagi, “Fara. aku ingin kau tahu bahwa beberapa hari ini aku sepenuhnya mendukungmu. Sebelumnya tidak pernah ada orang yang berani melawan Antonio sepertimu. Jadi, pulanglah, istirahatlah, dan besok kejutkan Antonio dengan makananmu."
Fara tersenyum. " Terima kasih atas dukungannya, mbak."
Setibanya dirumah, Fara menuju dapur. Ia tidak bisa beristirahat. Ia malah mulai memasak lagi. Beberapa jam kemudian, lima belas piring masakan yang mulai terasa dingin berada disekitarnya. Tidak satu pun dari kelima belas piring itu yang bisa memuaskan lidahnya_____apalagi Antonio.
Ia terduduk di lantai dapur dan menangis. Tubuhnya kelelahan. Ia tidak punya tenaga untuk memasak lagi. Ketika mama pulang malam harinya ,ia melihat putrinya tertidur pulas dikamarnya.
Mama mengusap kening Fara dengan lembut. Ia tahu seminggu belakangan ini putrinya sudah bekerja keras tanpa henti. Diselimutinya putrinya sambil mematikan lampu kamar.
Ketika Fara terbangun lagi, hari sudah gelap. Ia melihat jam dinding di kamarnya. Pukul 22.00. "Oh tidak," keluhnya dalan hati. (aku pasti ketiduran)
Ia bergegas menuju dapur dan mulai mencoba memasak lagi. Sekeras apa pun ia berusaha, hasilnya masih belum memuaskan.
__ADS_1