
Fara menumpuk gambar-gambar itu, lalu memasukkannya kembali ke amplop cokelat. Ia akan mengembalikannya di acara wisuda nanti.
Esok harinya, Fara bangun pukul 05.30, ia mandi, kemudian memasak nasi. Hari ini hari pesta kelulusan di pantai. Karena Fara hanya perlu pergi sore hari untuk berkumpul di sekolah, ia memanfaatkan waktu paginya untuk mengemas barang-barang lain yang masih teronggok di ruang tamu.
Suara kertas di lempar menghentikan aktifitas Fara. Ia menengok ke halaman depan. Ternyata kiriman koran pagi. Fara mengambil koran tersebut dan membawanya masuk kerumah. Ia membaca berita utama sekilas, lalu membaca berita-berita lainnya. Di halaman tengah, tatapannya berhenti. Di situ tertulis bahwa julien bardeux, ahli perhiasan terkenal, akan mengadakan pameran selama dua hari. Hari ini dan besok. Ia penasaran apakah Niko membaca berita ini. Setidaknya, Niko bisa menghadiri pameran perhiasan ini.
Sekitar pukul 14.30, Fara sudah sampai di sekolah. Seperti biasa, bus-bus sudah terparkir di area sekolah. Kali ini para guru membebaskan murid-murid duduk di bus yg mana saja. Fara melihat Niko dan Erika memasuki bus pertama. Ia memutuskan untuk memasuki bus terakhir.
Seperti biasa, ia menempati tempat duduk paling belakang. Dua jam kemudian, bus sudah sampai di pantai. Sekolah sudah menyewa gedung pertemuan untuk dijadikan pusat acara perpisahan.
Di dalam gedung tersebut terdapat live music, makanan prasmanan, dan lantai. Fara melihat Erika menarik Niko ke lantai dansa. Fara memilih untuk mengambil makanan dan duduk di pojokan.
Malam itu, Niko dan Erika terpilih sebagai pasangan terbaik dari sekolah mereka. Fara bertepuk tangan saat mereka dihadiahi sepasang mahkota. (Mereka memang cocok satu sama lain), Fara mengakui dalam hati.
Perlahan-lahan langkahnya menuju keluar gedung. Sebagian murid lain mempersiapkan acara api unggun dipinggir pantai. Fara berjalan di sepanjang pantai kemudian berhenti. Matanya memandangi luasnya lautan. Mungkin sejauh itulah nanti jarak antara dirinya dan Niko. Tanpa terasa air matanya mengalir.
__ADS_1
Entah berapa lama Fara menatap lautan sambil berlinang air mata. Tiba-tiba suara seseorang menyadarkannya.
"Fara...."
Fara mencoba menghapus air matanya. Ia berbalik dan melihat Niko di depannya. "Kau tidak apa-apa?" tanya Niko. "Kita sudah mau memulai acara api unggunnya."
Fara menelan ludah. "Aku akan ke sana sebentar lagi," katanya perlahan.
Niko memperhatikan Fara dengan sedikit khawatir. Sesaat lalu, ketika Erika mengajaknya keluar untuk melihat persiapan api unggun, ia melihat bayangan seseorang tak jauh dari sana dan mendekatinya. Entah mengapa, dalam hati Niko tahu itu pasti Fara. Selama ini Fara tidak pernah bergabung dengan teman-teman yg lain. Selalu seorang diri. Itulah sebabnya, Niko mendekatinya untuk mengajaknya ke acara api unggun. Kalau perkiraannya tidak salah, dia sepertinya melihat Fara menangis.
"Aku tidak apa-apa," jawab Fara meyakinkan Niko.
"Kau seharusnya bergabung dengan yg lain," saran Niko. “Pesta perpisahan seharusnya dirayakan bersama-sama."
Fara mengangguk, "kau benar."
__ADS_1
"Ayo pergi," ajak Niko sambil membalikkan badan.
Fara memandangi punggung Niko lagi. Entah untuk yg keberapa kalinya. Tanpa sadar suaranya memanggil Niko.
Niko berbalik lagi, "ya?"
"Apakah... kau sudah membaca koran hari ini?" tanya Fara perlahan. "Ada pameran perhiasan selama dua hari. Hari ini dan besok."
Niko menghela napas. "Aku tahu."
(Oh,dia sudah tahu), kata Fara dalam hati. "Kau tidak mau menghadirinya?" tanya Fara lagi.
"Tidak," jawab Niko setelah beberapa saat.
Fara menatap mata Niko yg terlihat sedih ketika menjawab pertanyaannya. Entah mengapa, perasaannya mengatakan Niko berbohong padanya kali ini. Fara menggenggam kedua tangannya erat-erat. Niko tidak tahu bahwa tatapan sedihnya telah membuat hati Fara hancur. "Niko... disini kau rupanya." Erika menghampiri Niko dan nenarik lengannya. Tatapan tajamnya jatuh pada Fara. Ia mendengus pelan, "Ayo kita pergi. Acara api unggunnya telah dimulai."
__ADS_1