
Si pria bertato tertawa tertawa pendek. "Kau harus tahu siapa aku. Aku ketua preman daerah sini. Kau pasti punya uang. Mobilmu bagus begitu. Kau pasti orang kaya. Kau akan membayar ganti rugi untuk mobilku. Sekarang juga."
Luki menatap sang ketua preman dengan kesal. "Aku tidak akan membayar sepeser pun pada orang brengsek sepertimu."
"Kau berani menghinaku?" Tanya sang ketua preman kesal. Anak buahnya mulai mengambil ancang-ancang untukku mendukung bosnya.
Luki melihat orang-orang di depannya.("empat lawan satu") katanya dalam hati sambil memgepalkan kedua tangan.("aku pernah mengalami perkelahian yang lebih buruk. Mungkin aku bisa mengeluarkan semua amarahku dalam perkelahian kali ini. Bagus juga. Sudah lama aku tidak berkelahi)".
Sang ketua preman menyerang Luki lebih dulu. Luki menunduk menghindari tinju yang mengarah ke mukanya, lalu menyerang balik dengan menjotos hidung si ketua preman sampai berdarah. Anak buah si ketua preman kaget, dan langsung maju melawan Luki. Tapi ketiganya bernasib sama. Luki menggerakkan kepala untuk meregangkan ototnya.
__ADS_1
Melihat perkelahian di pinggir jalan, orang-orang berhenti untuk mengerumuni daerah sekitar pub. Manajer pub keluar dan mulai menelepon kantor polisi. Saat ke empat preman tersebut berdiri kembali, mereka terpaksa mundur. Sudah terlalu banyak orang yang melihat mereka. Sebentar lagi polisi pasti datang.
Luki kembali ke mobilnya dan menyalakannya. Sesaat sebelum pergi dari pub, dia memundurkan mobilnya dan menabrak bagian depan mobil si ketua preman,lalu malambaikan tangannya dari pintu kaca mobil.
Si ketua preman kesal bukan main melihat tingkah Luki. Dia menyuruh salah seorang anak buahnya yang mempunyai sepeda motor mengikuti Luki dari belakang.
"Ikuti dia," teriak si ketua preman pada anak buahnya. "Jangan sampai lepas! Aku ingin tahu dimana orang brengsek itu tinggal. Dia akan menyesal nanti karena telah menghina dan menghajarku. Tidak seorangpun yang boleh luput dari amarahku. Pergi!!!" Si anak buah langsung mengikuti perintah bosnya.
__ADS_1
Fara memasuki kamar mama dengan perlahan. Ia menyalakan lampu dan duduk di tempat tidurnya. Seminggu berlalu sejak ia bertemu ayah kandungnya. Fara sudah menyebutnya papa. Ketiganya sering makan bersama, tapi selalu tanpa Luki. Malam ini Fara menyuruh mama untuk makan berduaan dengan papa. Keduanya butuh waktu untuk berbaikan dan bercerita tentang kehidupan mereka selama 25 tahun berpisah.
Fara menyayangkan ketidak hadiran Luki, tapi ia juga tahu Luki butuh waktu untuk menerima mereka sebagai keluarga. Fara hanya berharap waktu tersebut tidak terlalu lama. Mungkin malam ini ia bisa membujuk mama untuk tidur dengannya dikamar ini. Di waktu-waktu mendatang kemungkinan besar mama akan sibuk oleh papa. Saat Fara bangkit dari tempat tidur mama, tanpa sengaja tangannya menyenggol sebuah kotak cokelat. Isi kotak tersebut berceceran keluar.
Fara mengambili kartu-kartu yang tercecer di lantai. Tangannya berhenti setelah mengambil beberapa kartu. Pandangannya terfokus pada salah satu kartu ucapan yang terbuka amplopnya. Dengan penasaran Fara membuka kartu tersebut. Ternyata sebuah kartu ulang tahun dengan gambar badut dan balon yang menghiasi depannya. Ketika melihat isinya, Fara tertegun. Selesai membaca satu kartu itu, Fara mengambil kartu yang lain dan membacanya. Tak berapa lama kemudian semua kartu sudah dibacanya.
Fara merapikan semua kartu tersebut, meletakkannya kembali ke dalam kotak dan membawa kotak tersebut keluar dari rumahnya.
__ADS_1
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆