
Dengan tekad dan semangat baru, Niko menatap Julien. "Aku tidak mau menerima pemberian seseorang secara cuma-cuma. Anda bisa membeli semua karya saya kecuali gambar rancangan cincin bintang saya", usulnya. "Tentang apartemen anda di New York, saya akan menempatinya, tapi dengan syarat saya akan bekerja pada anda selama dua tahun setelah kelulusan saya dari GIA."
Julien mengusap dagunya perlahan. (Seseorang yang punya prinsip dan harga diri). Sebelumnya Julien hanya mengagumi rancangan pemuda ini, kini ia juga menyukai pribadinya. "Kenapa kau tidak mau menjual karya rancangan yang satu itu padaku?" tanyanya penasaran.
Niko menjawab dengan tenang. "Karena karya itu sudah menjadi milik seseorang." (milik Fara).
Mata Niko menantang Julien. "Jadi, apakah kita telah mencapai kesepakatan?"
Julien mengulurkan tangannya. "Aku sepakat." Niko menjabat tangan Julien dengan erat.
Malam harinya, Niko menatap kedua orantuanya dengan serius sesudah makan malam. "Aku tidak akan kuliah kedokteran," ucapnya tenang.
Papa membelalak tidak percaya. "Ada apa lagi ini, Niko? bukankah kita sudah sepakat kau akan menjadi dokter?"
"Maaf," kata Niko tulus. "Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak pernah ingin menjadi dokter. Itu mimpi papa, bukan mimpiku."
"Beraninya kau berkata seperti itu!" Teriak papa.
__ADS_1
Mama langsung pindah ke sisi papa untuk menenangkannya. "Tenanglah, Pa. Niko, jangan buat papamu marah. Bukankah kau sudah diterima di fakultas kedokteran? Kalau kau tidak kuliah kedokteran, kau mau belajar apa?"
"Aku akan belajar perhiasan di GIA." Niko menatap kedua orangtuanya tanpa perasaan takut. "Maafkan aku, pa, ma. Aku tidak bisa mewujudkan impian kalian. Ini hidupku. Dan kali ini aku ingin mengejar impianku."
Papa menatap putranya sambil tersenyum sinis. "Kalau kau pergi kuliah disana, papa tidak akan mendukungmu. Papa tidak akan membantumu secara finansial. Apakah kau mengerti?"
Niko mengangguk. "Aku mengerti. Aku tidak akan meminta dukungan finansial pada Papa selama aku kuliah disana."
Papa kaget mendengar perkataan putranya. "Kalau kau ingin pergi, pergilah. Papa tidak akan menahanmu. Kita lihat saja nanti, sampai berapa lama kau bertahan disana."
Niko menarik napas dalam-dalam. "Terima kasih, pa."
Mengejar mimpinya.....
Bagian dua: Fara Amalia Chef Pasta
Fara, 18,5 tahun
__ADS_1
Fara tidak tahu berapa lama lagi ia bisa bertahan. Kakinya pegal setengah mati. Tangannya membawa nampan berisi piring bekas makan yang beratnya minta ampun. Sebentar lagi tangannya akan menyusul merasakan apa yang dirasakan kakinya. Ia benar-benar kelelahan.
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Fara mengistirahatkan kakinya sebentar di kursi dapur. Dilihatnya para pelayan lain sibuk membersihkan meja dan kursi. Melihat rekan-rekannya bekerja keras, Fara berdiri kembali dan bergabung dengan mereka.
Sepindahnya ke kota baru, hidup Fara tidak berjalan seperti yang diinginkannya. Ia tidak pernah memikirkan seberapa mahal biaya kuliah yang harus dikeluarkan mama untuk membiayainya. Mama meyakinkan Fara bahwa ia bisa kuliah tanpa harus memikirkan masalah keuangan. Tapi Fara tahu ia tidak bisa melakukannya. Jadi ia memutuskan untuk mencari kerja.
"Tapi, bagaimana dengan kuliahmu?" tanya mama kecewa.
Fara bersiteguh. "Sampai kini aku belum tahu mau masuk jurusan apa. Lebih baik kuliahnya ditunda dulu, ma."
Untuk pertama kalinya Fara dan mama tidak bersepakat.
"Aku tahu kau ingin membantu mama, tapi tugasmu sekarang adalah kuliah," protes mama.
Akhirnya Fara menemukan jalan tengah. "Bagaimana kalau begini saja. Aku akan bekerja selama setahun ini. Selama itu aku juga akan menabung untuk membiayai kuliahku nanti."
"Apa kau yakin itu yang kau inginkan?" tanya mama masih ngotot
__ADS_1
Fara mengangguk. "Aku ingin membiayai kuliahku sendiri. Sekarang aku sudah dewasa, Ma. Kurasa aku berhak memutuskan sendiri apa yang ingin kulakukan."