
Luki terduduk lemas disamping ibu tirinya. Jam demi jam berlalu tanpa kabar. Papa bolak-balik di depan pintu ruang operasi dengan tidak sabar. Ibu tirinya, setelah menangis selama dua jam, kini berhenti, dan terdiam seakan tidak punya tenaga untuk melakukan apa pun.
Luki mengepalkan tangan sampai buku-buku jarinya memutih. Dia telah melakukan semua ini pada Fara. Semua ini kesalahannya, karena dia terlalu sombong dan tidak memedulikan perasaan orang lain. Aksinya menghajar seorang preman telah berbuah kecelakaan tragis. Pada adiknya. Yang selama beberapa hari ini berusaha membujuk Luki untuk menerima ibunya.
Dan selama itu pula, Luki menolaknya tanpa peduli pada perasaan Fara. Kini, adiknya terbaring di meja operasi. Nyawanya terancam. Luki tidak ingin perkataan terakhir mereka ditandai dengan kemarahan. ("Kau harus hidup, Fara") pintanya dalam hati.("aku ingin kau memaafkanku. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku hanya ingin kau hidup").
Lampu ruang operasi telah dipadamkan. Seorang dokter keluar dari pintu ruang operasi.
"Bagaimana keadaan putri saya, dokter?" Charles langsung bertanya. Helen bangkit dari kursinya dan menghampiri dokter yang mengoperasi Fara.
__ADS_1
"Saat ini keadaan putri anda stabil," dokter Riswan menjelaskan dengan tenang.
Luki menarik napas lega. Fara masih bertahan hidup.
"Saya sudah melakukan operasi untuk memperbaiki kerusakan kaki kanannya," kata dokter Riswan lagi. "Saya perlu melihat perkembangan kaki kanan putri anda beberapa hari lagi. Kalau tidak terjadi infeksi, saya optimis putri anda bisa sembuh. Hanya saja, putri anda memerlukan terapi fisik untuk kakinya supaya bisa berjalan lagi. Putri anda masih muda, saya yakin dia bisa sembuh total."
Melihat wajah putrinya yang lebam, Helen mulai menangis lagi. Ia memandangi Fara sampai ke kamar perawatan intensif. Ia bersikeras untuk tinggal di sana semalaman menjaga Fara.
Ketika seorang suster meminta Helen untuk menunggui Fara di luar kamar, Helen tidak mau beranjak. Charles Rafael menelepon dokter kepala rumah sakit pusat,salah satu relasinya, dan meminta supaya keluarganya punya akses untuk berada di ruang perawatan intensif selama mungkin.
__ADS_1
Selama dua hari dua malam Fara tidak sadarkan diri. Pada hari ketiga, ketika mulai siuman, Fara melihat wajah mama yang sedih. Tangannya hendak menyentuh mama, tapi rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya tertidur lagi.
Luki tidak bisa tinggal diam. Dia ingin preman yang manabrak Fara ditangkap. Bukan. Dia ingin preman tersebut babak belur ditangannya. Tunggu. Itu saja belum cukup. Dia ingin preman tersebut merasakan sakit yang sama dengan yang dirasakan Fara. Luki menelepon polisi dan memberikan surat ancaman Dragon kepada seorang inspektur polisi. Menurut sang inspektur, Dragon memang sudah menjadi incaran polisi sejak lama, tapi sulit ditangkap karena kurangnya barang bukti.
Luki meminta inspektur polisi tersebut menghubunginya kalau dia sudah tahu keberadaan Dragon. Luki tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakai adiknya lolos begitu saja.
Kesembuhan Fara berjalan lambat, tetapi pada hari ke enam, Fara sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat biasa. Kini dia sudah bisa tersadar lebih dari enam jam sehari, walaupun tubuhnya kelelahan.
Fara senang melihat Luki menjenguknya. Tadi siang Luki menggenggam tangannya dan tersenyum sendu. Fara balas tersenyum padanya. Mama dan papa tidak henti-hentinya bergantian merawat Fara. Fara masih belum bisa berbicara banyak. Tubuhnya masih banyak di pengaruhi obat anti sakit.
__ADS_1