
Fara kehabisan kata-kata. Ia tidak menyangka akan mengucapkan selamat tinggal pada kota yg telah dihuninya selama 10 tahun.
"Apakah kantor pusatnya jauh, ma?" tanya Fara perlahan.
Mama mengangguk. "Sekitar 2 jam dr sini. Naik pesawat."
Hati Fara terasa sesak. Ia tahu ia sudah berjanji pada diri sendiri bahwa ia akan melupakan Niko setelah lulus SMA. Tapi hatinya masih menyimpan sedikit rasa tak rela. Sekarang ia tidak punya kesempatan sama sekali untuk masuk universitas yg sama dengan Niko. Fara tentu saja tidak akan membiarkan mama sendirian, apapun yg terjadi.
"Maaf, Fara. Mama sudah berusaha menolak, tapi itu sudah keputusan kantor pusat," kata mama sedih. "Mama tahu kau ingin kuliah disini. Maaf."
Fara memeluk mama dengan erat dan menggeleng. "Tidak, mama. Tidak perlu meminta maaf." Bukankah jarak yg jauh juga merupakan salah satu cara untuk melupakan seseorang? pikir Fara. Ia akan mengakhiri semua saat kelulusan nanti.
***
__ADS_1
Pelajaran sekolah telah ditutup dengan ujian nasional, tetapi para siswa tetap masuk sekolah. Sambil menanti hasil ujian, para guru wali kelas tiga mulai memberikan gambaran seperti apa dunia kuliah yg nanti akan dimasuki anak didiknya. Para guru menjelaskan bagaimana menentukan jurusan yg tepat di universitas nanti.
Niko melihat brosur universitas-universitas yg ada dikotanya.
"Kau sudah pasti masuk kedokteran, kan?” tanya salah satu teman Niko padanya.
Niko menghela napas. "Ya", jawabnya. Tangannya membolak balik brosur universitas tanpa antusiasme. Tatapannya jatuh pada jurusan seni. Dia mengetuk-ngetuk brosur tersebut di meja tanpa sadar.
Di belakangnya, Fara belum bisa memutuskan akan masuk jurusan apa di universitas nanti. Kalaupun nilai ujiannya bagus, rasanya ia tidak ingin memasuki jurusan yg tidak disukainya. Fara berpikir akan lebih baik bila ia mempelajari hak yg ia suka juga.
"Kau benar-benar beruntung, Niko," kata temannya. "saat kau lulus ujian nanti, sudah ada universitas yg akan menerimamu."
Niko hanya tersenyum singkat menanggapi hal itu. Apakah benar aku seberuntung itu? tanya Niko dalam hati. Aku tahu tidak semua orang punya koneksi seperti papa dan bisa membuat putranya masuk fakultas kedokteran yg paling bagus. Tapi mengapa hatiku terasa berat?
__ADS_1
Setelah memutuskan untuk tidak memilih jurusan apapun hari itu, Fara menatap Niko lagi. Hanya tersisa waktu 2 minggu untuk memandanginya. Setelah itu, ia tidak akan bertemu Niko lagi.
Fara benar-benar berharap Niko bisa bahagia selama hidupnya. Ia sudah membayangkan Niko mengenakan jas putih, merawat pasien rumah sakit dengan penuh perhatian. Fara tertawa perlahan dan menutup matanya.
***
Hari yg ditunggu - tunggu para siswa kelas tiga akhirnya datang juga. Pengumuman hasil ujian nasional. Seluruh siswa kelas tiga berkumpul di lapangan sekolah. Lalu para wali kelas memberikan amplop surat dengan nama mereka tertera di depannya.
Setelah pembagian amplop selesai, Kepala sekolah beranjak menuju tengah lapangan. "Di tangan kalian terdapat surat yg menyatakan apakah kalian lulus atau tidak atas ujian nasional yg kalian jalani dua minggu yg lalu. Pada hitungan ketiga, Bapak ingin kalian membukanya bersama sama. Satu......dua....tiga..."
Para siswa dengan tidak sabar merobek amplop surat tersebut dan membukanya untuk melihat hasil mereka.
Kepala sekolah tertawa melihat aksi murid - muridnya. Lalu berkata lagi, dari 297 murid kelas tiga, yg lulus hanya... dua... ratus... sembilan puluh.... tujuh..." Para murid berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Kepala sekolah tertawa lebar. "Iya, benar, kalian lulus seratus persen. Bapak bangga kalian semua bisa lulus tanpa harus ada yg mengulang. Bapak sudah bosan dan tidak mau ditemani kalian lagi."
Para siswa serentak tertawa.