
Si penjaga menggeleng atas tekad Fara dan mulai melayani tamu lain yang menunjukan undangan masuk.
Fara berdiri menunggu di samping pintu depan dengan sabar.
Setelah tiga jam Fara berdiri tanpa mengeluh, si petugas bersimpati dengan kegigihannya. Ia memanggil Fara dan menyuruhnya duduk di kursi yang ditinggalkan salah satu temannya. Fara tersenyum. "Terima kasih."
***
Sementara itu di rumah sakit, Niko membawakan makan siang untuk Erika.
"Bagaimana kondisi kakimu?" tanyanya.
"Masih sakit," jawab Erika.
"Aku membawakan makan siang untukmu. Makanlah dulu," saran Niko.
"Thanks," sahut Erika.
Selama Erika menyantap makan siangnya, pikiran Niko melayang pada pertemuanya dengan Fara.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Erika penasaran setelah merasa Niko tidak memperhatikannya.
Niko memandang Erika dengan serius. "Sebenarnya apa yang kau pertengkarkan dengan Fara kemarin malam?"
Erika sedikit kaget mendengar pertanyaan itu. "Apa maksudmu?"
Niko mendesah. "Aku masih belum mengerti mengapa Fara tiba-tiba mendorongmu dari tangga."
__ADS_1
Mendengar itu Erika jadi kesal. "Fara cemburu padaku. Dia cemburu pada kepopuleranku dan kedekatanku denganmu."
"Benarkah?" tanya Niko curiga. "Sepertinya Fara bukan tipe cewek seperti itu."
Erika mencibir. "Apakah kau mengetahui semua tentang Fara? Kau tidak tahu sifat Fara yang sebenarnya. Kau baru mengenalnya satu tahun ini."
Niko terdiam. Perkataan Erika memang masuk akal. Kalau dipikir-pikir lagi, Niko memang tidak mengenal Fara seperti ia mengenal Erika.
"Ah, sudahlah," kata Erika kesal, "Aku tidak mau membicarakan Fara lagi. Nafsu makanku jadi hilang."
"Maaf," kata Niko. "tidak seharusnya aku membuatmu kesal." "Aku mau istirahat," kata Erika ketus.
Niko mengangguk. "Baiklah, aku akan kembali sore nanti."
***
"Kau mau menunggu Mr. Bardeux sampai kapan?" tanya si petugas pameran.
"Sampai saya bertemu dengannya," jawab Fara singkat.
"Apakah bertemu dengan Mr. Bardeux benar-benar sangat penting?" tanya si petugas lagi.
Fara mengangguk. ''Ya. Penting sekali. Saya ingin memberikan Mr.Bardeux mimpi seseorang."
Si petugas tertegun mendengar perkataan Fara. Hatinya tersentuh. Lalu tersenyum pada Fara. "Aku akan membantumu."
Fara tersenyum senang. "Terima kasih".
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, seorang pria prancis berambut pirang keluar dari pintu.
Si petugas pameran bergegas menghampiri pria tersebut dan berbicara padanya lalu menunjuk pada Fara.
Menyadari bahwa si petugas pameran sedang berbicara dengan Julien bardeux, Fara berdiri. Jadi, dialah sang ahli perhiasan terkenal.
Fara mendekati pria asing di hadapannya.
"Kau ingin menemuiku?" tanyanya pada Fara.
Fara sedikit kaget. Julien bardeux bisa berbicara bahasa indonesia dengan Fasih. "Anda bisa berbicara bahasa saya?"
Julien bardeux tersenyum singkat. "Ibuku orang Indonesia."
Fara mengerti sekarang. "Saya ingin memberikan ini kepada anda." Fara menyodorkan amplop cokelat di tangannya. "Di dalamnya berisi gambar rancangan perhiasan karya teman saya."
Julien bardeux menerima amplop tersebut dari tangan Fara.
Si petugas pameran tersenyum pada Julien dan menambahkan, "Dia bilang dia ingin memberikan mimpi seseorang pada Anda."
Julien Bardeux tersenyum hangat sambil menatap jam di tangannya. "Ehm, saya masih agak sibuk. Tapi nanti malam, saya akan melihat rancangan temanmu "
Fara tersenyum lebar. "Terima kasih. Nama perancang dan nomor HP nya ada di depan amplop. Sekali lagi terima kasih, Mr. Bardeux."
Julien Bardeux tersenyum singkat. "Saya pergi dulu," katanya lalu bergegas menuju lift.
Fara menemui si petugas pameran lagi dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sekeluarnya dari hotel, Fara menatap mentari sore sambil tersenyum. Hatinya senang bukan main. Ia berharap Julien Bardeux bisa melihat rancangan karya Niko dan menyadari bakat yang ada disana.
__ADS_1
***