
Fara berlari menuju kamar rumah sakit tempat mama dirawat. Napasnya terengah-engah. Ia melihat mama terbaring di ranjang dengan selang infus ditangannya.
"Bagaimana keadaan mama?" tanya Fara panik. "Apanya yang sakit, ma? Apa kata dokter?"
Mama berusaha menenangkan putrinya. "Mama sudah tidak apa-apa. Dokter memperkirakan mama kena demam berdarah. Jadi perlu dirawat." "Aku akan menginap disini," kata Fara tegas.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" mama menanyakan dengan cemas.
"Aku sudah memberitahu mbak Maya. Dia bilang tidak usah khawatir. Lagi pula besok Antonio sudah pulang dari italia. Jadi pekerjaanku sudah ada yang menggantikan." Fara membuka jaketnya dan duduk disamping ranjang. "mama mau makan sesuatu?" Mama menggeleng.
"Kalau begitu mama istirahat saja." Fara menyelimuti mama dan memperhatikan mama mulai memejamkan mata. Semalaman Fara tidak bisa tidur. Ia khawatir terjadi sesuatu pada mama. Pagi harinya, dokter mengatakan kondisi mama sudah membaik dan Fara sedikit lega.
"Pulanglah," kata mama sedikit mengomel. "Kau kelihatan lelah sekali. Istirahat saja."
"Baiklah," kata Fara tanpa berdebat. "Aku akan pulang. Aku akan mengambil baju mama untuk dibawa kemari. Dan aku akan tinggal dirumah sakit malam ini menemani mama."
Mama hendak menyelanya, tapi Fara sudah berkata lagi.
"Tidak ada bantahan kali ini. Pokoknya aku mau menginap disini sampai mama sembuh."
__ADS_1
Melihat tekad putrinya yang tidak tergoyahkan, mama akhirnya menyerah.
☆☆☆☆☆☆☆☆
"Kau tidak tidur?" tanya mama tiba-tiba.
Fara memandang mama yang terbangun di tengah malam. Sudah tiga hari Fara berada dirumah sakit menemani mama. Kondisi mama semakin hari semakin membaik, dokter sudah mengatakan besok mama boleh pulang.
"Maaf, aku membangunkan mama." Fara menghampiri mamanya sambil menyuguhkan segelas air.
"Aku akan tidur sebentar lagi," janji putrinya.
Beberapa saat kemudian, Fara melihat mamanya kembali tertidur pulas. Mata Fara tertuju pada kalender meja disebelah tempat tidur mama. Hari ini hari reunian. Fara tidak bisa datang, tapi ia tidak menyesal.
Mama orang terpenting baginya, lebih dari sebuah reuni ataupun pekerjaan. Tanpa mama, Fara tidak tahu harus berbuat apa. Mama mendukung pekerjaannya yang sekarang. Mama bilang selama Fara bahagia, apapun yang dikerjakan Fara, ia akan mendukungnya seratus persen.
Fara menatap mama dengan haru. Mama telah berhasil membanting tulang membesarkannya selama ini. Ia mengelus rambut mama dengan perlahan lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
"Mama ibu terbaik di dunia," bisiknya perlahan.
Setelah itu ia berbalik ke jendela dan menatap langit. Malam bulan purnama. Bintang di langit bersinar terang. Fara teringat pada kenangan masa lalunya di sekolah. Tentang pertemuannya dengan Niko, melihatnya dari kejauhan, mengembalikan lukisannya, semobil berdua dengannya, tertidur di bahunya, sampai perpisahan dengannya. Ia mengambil kertas JANGAN MENYERAH Niko dari saku celananya.
"Mungkin sudah waktunya aku melupakan masa laluku," katanya perlahan. "Selamat tinggal Niko. Dimana pun kau berada."
Ketika Fara hendak membuang kertas tersebut, niatnya terhenti. Bagaimanapun kertas tersebut sudah menemaninya pada saat-saat tersulit dalam hidupnya. Fara melipat kertas tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam saku. (Hanya satu kenangan ini) katanya dalam hati. (Biarkan aku menyimpan yang satu ini saja dan melupakan yang lain).
*****************************
Satu bulan kemudian,
Fara Memutuskan Untuk kembali ke Restoran Antonio tempat ia bekerja,
menghadap Antonio dengan gugup. Wajah bosnya terlihat manakutkan. Itu artinya ia pasti melakukan kesalahan serius.
"Antonio...," katanya perlahan, "begini... soal menu baru restoran hari ini, the mixed spagetti, aku tahu seharusnya aku berkonsultasi dulu denganmu. Maaf."
__ADS_1