My Love Is Stupid

My Love Is Stupid
Chapter 40


__ADS_3

Antonio tertawa pendek. "Jangan yakin dulu. Seperti biasa, percobaan tiga bulan." Fara mengangguk mengerti.


 


*********************************


Setelah masa percobaan tiga bulan usai, Antonio memberitahu Fara ia akan memberi masa percobaan tiga bulan lagi. Dan hal itu berjalan terus-menerus sampai dua tahun. Antonio tidak pernah memujinya sekali pun selama dua tahun tersebut, tetapi Fara tahu Antonio menyukai masakannya.


Di akhir masa dua tahun Fara sebagai koki, Antonio menghampirinya. "Kau bisa mencoba sebagai asistenku mulai besok."


Saat itu Fara tahu ia sudah berhasil meyakinkan Antonio atas kemampuan memasaknya.


Fara, 22 tahun


"Robi, kau masak baked lasagna untuk meja delapan, Donna kau masak pasta salad untuk meja lima, Johan kau masak house tortellini untuk meja enam belas, dan aku masak pasta combo untuk meja sepuluh dan sebelas."


Ruang dapur terasa panas. Restoran dibanjiri pelanggan, hal yang biasa terjadi pada akhir pekan. Fara membagi-bagi pekerjaan kepada ketiga teman kokinya yang sudah ia kenal selama dua tahun. Sejak Antonio mengangkatnya menjadi asisten chef beberapa minggu lalu dan mulai menyuruh Fara memanggil namanya tanpa embel-embel signor', sedikit demi sedikit Fara mendapat respek dari ketiga koki yang lain. Lagi pula, di ruang dapur Fara tidak pernah menganggap mereka bawahannya, tetapi rekan kerjanya.

__ADS_1


Karena Fara tidak bertemperamen buruk seperti Antonio, ketiga rekan kerjanya ini merasa lebih nyaman bekerja dengannya. Fara melihat Maya membawa pesanan baru.


"Shrim parmigiana dengan spageti, meja tiga," kata Maya sambil membaca pesanannya.


Fara mengernyitkan dahi. "Mbak, tolong bilang meja tiga, pesanannya mungkin sedikit terlambat. Aku akan langsung mengerjakan pesanan ini setelah dua pasta combo__nya selesai."


Maya mengangguk penuh pengertian. "Aku akan bilang pada mereka." "Thanks, mbak," kata Fara disela-sela kesibukan.


"Meat balk spagetti untuk meja tujuh." seorang pelayan lain masuk membawa pesanannya. "Aku akan ambil pesanan ini," saran Donna. "Aku sudah hampir selesai dengan pasta saladnya." "Oke," kata Fara lega.


Dalam dua jam berikutnya, tangan Fara tidak pernah beristirahat memasak. Ketika lelah, ia berhenti sejenak, menarik napas, dan melanjutkan lagi aktivitasnya. Tidak peduli sesibuk atau selelah apa pun, Fara merasa beruntung karena bisa melakukan hal yang paling disukainya.


"Hari yang sangat sibuk," komentar Maya dari pintu dapur.


Fara tersenyum kelelahan. "Ya."


"Seandainya Antonio ada di sini sekarang, dia pasti bangga padamu," kata Maya lagi 

__ADS_1


"Berapa lama lagi Antonio pulang dari italia?" tanya Fara yang terkadang sudah tidak bisa mengingat lagi hari dan tanggal. "Aku benar-benar berharap dia cepat pulang. Dapur kita kekurangan orang. Terutama untuk akhir pekan seperti sekarang."


"Dia akan pulang lusa," kata Maya sambil menyodorkan segelas air putih dingin pada Fara. "ini minumlah. Sepertinya kau benar-benar butuh minum."


"Thanks, mbak." Fara mengambil minuman yang disodorkan Maya. "Mbak juga pasti kelelahan."


"Aku sudah terbiasa," kata Maya.


Fara memandang ketiga teman kokinya. "Kalian bisa pulang lebih awal. Aku yang akan membereskan dapur nanti."


"Thanks, Fara," kata ketiga temannya berbarengan.


Fara memandang ketiganya satu persatu. "Kerja yang bagus hari ini." "Kau juga," timpal mereka.


"Kami pulang dulu ya." Donna dan Johan sudah melepaskan celemek dan mengenakan jaket.


"Hati-hati di jalan," kata Fara.

__ADS_1


Ketiganya melambaikan tangan lalu keluar dari dapur. Fara tahu mereka pasti ingin cepat-cepat kembali pada keluarganya.


__ADS_2